>From: Eva Kurnia D <[EMAIL PROTECTED]>
>Untuk masa sekarang lebih baik perhatian masyarakat lebih diarahkan >pada
>pembinaan keluarga. Seperti kita tahu, pergaulan remaja masa >kini sudah
>semakin tidak terkendali. Seks bebas, shabu-shabu, putaw, >dan apalah
>namanya, seakan sudah menjadi hal yang biasa. Temuan >mengejutkantersebut
>telah dikemukakan oleh Dr. Boyke dalam Republika >beberapa waktu yang lalu.
>Konon semua itu terjadi lantaran minimnya >komunikasi antara orang tua dan
>anak, dan anak pun menjadi miskin >kasih sayang orang tua.
>Konon lagi lantaran orang tua sudah sibuk dengan urusan masing-
>masing sehingga kekurangan waktu untuk memperhatikan anak.
HP:
Yang terlihat nampaknya memang begitu. Tapi apa benar hanya krn
kurang diperhatikan orang tua? Di pedesaaan, banyak orang tua
yang terpaksa pergi berbulan-bulan mencari nafkah, tapi anaknya
nurut-nurut (cobalah survey ke pasar di Jakarta, berapa orang tua
yang terpaksa pisah dengan anaknya berbulan-bulan). Sinyalemen Dr. Boyke
memang banyak benarnya bila sample yang diambil di kota-kota.
Anak yang diasuh dengan baik saja masih terlibat pengedaran obat
bius [kasus Alya Rohali] dan orang tuanya tidak tahu.
Saya kira penyebabnya sangat kompleks. Pertama, faktor si anak
sendiri. Kalau dasarnya punya kecenderungan ke arah sana, kena
pengaruh sedikit saja terbawa. Kemudian orang tua. Dan, juga
lingkungan. Saya sendiri tidak tahu resep apa yang paling tepat
untuk "mengamankan" mereka. Silahkan yang memang pakar psikologi,
pakar sosial, budayawan, ahli agama mencari solusinya.
>Dalam masyarakat kita, pendidikan dan pengasuhan anak sepertinya >masih
>lebih dibebankan kepada ibu, meskipun anak itu adalah hasil >"kerjasama"
>dua orang.
HP:
Saya tidak sependapat. Pernyataan itu tidak selamanya benar. Dan,
hal ini sangat kondisional. Apalagi pada jaman sekarang. Banyak
kaum bapak yang kebagian mendidik anak karena sang istri bekerja
jadi TKI, jadi pembantu di kota lain, jadi pedagang di kota besar.
Sebaliknya, kadang si ibu terpaksa kebagian tugas lebih besar
dalam mendidik anak karena suami harus mencari nafkah shg jarang
berada di rumah. Suami yang pelaut mau tak mau menyerahkan pendi-
dikan anak kepada istri meski sang ayah tidak lepas tangan 100%.
Demikian juga kalau suaminya jadi tentara atau intel (jarang
di rumah). Tapi itu tidak berarti bapak tidak melibatkan diri
dalam mendidik. Mendidik anak dalam kasus-kasus demikian bisa
dilakukan tanpa harus lewat tatap muka. Untuk keluarga yang bisa
berkumpul setiap hari, ayah justru punya peran lebih besar atau
setidaknya sama dengan ibu dalam mendidik anak. Dengan asumsi,
ayah tidak "occupied" dengan pekerjaannya.
>Jadi bila anak salah asuh atau salah didik, maka ibulah yang
>lebih disalahkan. Apalagi bila ibu bekerja.
HP:
Anak adalah tanggung jawab orang tua. Yang dimaksud orang tua
adalah ayah dan ibu. Bila ayah yang punya kewajiban mencari
nafkat menjadi tersita waktunya, maka sudah selayaknya bila
si ibu yang mengambil peran domestik. Toh, ibu tak wajib
mencari nafkah untuk keluarga. Tapi bila si Ibu telah
memutuskan untuk bekerja, seyogianya antara ayah dan ibu
berusaha membagi "tugas pengawasan" terhadap anak. Saya kira
semua bisa dirundingkan. Bila Ibu melalaikan tugas mendidik
anak karena pekerjaannya, ibu memang pantas disalahkan.
Bapak yang karena sibuk mencari nafkah kemudian jadi lalai
tugasnya dalam mendidik anak, bapak ini pun pantas disalahkan.
Kecuali, bila bapak memang sangat terpaksa menghabiskan seluruh
waktunya untuk mencari nafkah (bila tidak begitu keluarga
kelaparan atau sekolah anak terganggu) dia tak bisa disalahkan
kalau serahkan tugas mendidik anak ke istri. Umumnya, yang
terjadi justru pada keluarga yang sebenarnya secara ekonomi
sudah mapan, tapi ayah tetap saja spend most of waktunya di
luar.
>Saya ingin ada perubahan paradigma dalam masyarakat, bahwa pembinaan
>keluarga---anak terutama---adalah tanggung jawab >masyarakat,lingkungan,
>pemerintah, bukan hanya tanggung jawab ibu.
HP:
Jangan terlalu banyak pada masyarakat dan pemerintah. Meski kalimat
di atas enak didengar, tapi pada kenyataannya keluarga itu sendiri
lah yang harus bertanggung jawab thd pendidikan anak-anaknya.
>Yang terjadi sekarang adalah ibu kurang mendapatkan dukungan untuk
> >menjalankan fungsinya dalam pengasuhan dan pendidikan
>anak, terutama ibu yang bekerja. Berapa tempat kerja yang menyediakan
>tempat penitipan anak (TPA) bagi para karyawatinya, supaya mereka >dapat
>memberikan ASI secara eksklusif kepada bayinya, supaya dapat >setiap saat
>menyentuh dan mencandai buah hatinya ? Ada berapa ibu >hamil yang terpaksa
>bekerja di lingkungan yang penuh asap rokok >sehingga membahayakan
>kehamilannya ? Ada berapa suami yang sadar >betapa pentingnya dukungan bagi
>istrinya yang sedang hamil atau >melahirkan ?
HP:
Untuk instansi pemerintah, mungkin bisa diperjuangkan. Pemerintah
mungkin bisa menyediakan fasilitas penitipan anak. Tapi coba kita
agak realistis sedikit. Bila fasilitas demikian dibangun, ada
berapa pegawai yang sebenarnya benar-benar memerlukan? Dalam jangka
berapa lama? Dan, berapa fasilitas demikian perlu dibangun kalau
letak perkantoran tersebar dalam radius yang luas. Kalau yang
dimaksud sekedar ruangan kecil mungkin pemerintah bisa sisihkan
dari sebagian kantornya. Tapi kalau diminta semacan play group
dengan baby sitters-nya, saya kira agak sulit dipenuhi.
Coba mari kita hitung, dalam setahun akan ada berapa bayi yang
perlu dititipkan di play group yang dibangun pemerintah.
Untuk swasta, ini sangat bergantung kepada kebijaksanaan pemilik
perusahaan. Tapi saya punya keyakinan, pertimbangan mereka adalah
asas manfaat dan asas ekonomi.
>Ada berapa ibu hamil yang terpaksa bekerja di lingkungan yang penuh >asap
>rokok sehingga membahayakan kehamilannya?
HP:
Kalau ibu hamil itu bekerja pada lingkungan yang memang smoking
area, ibu itulah yang salah. Ibu itu mestinya memang berhenti
bekerja. Ia tidak bisa melarang orang lain merokok hanya krn dia hamil. Atau
kalau mau nekat kerja di situ, ya jangan hamil.
Namun demikian saya setuju kalau di perkantoran, di tempat kerja
ada wilayah-wilayah tertentu yang bebas asap rokok. Ini untuk
melindungi semua orang, bukan hanya ibu hamil. WOng banyak juga
wanita hamil malah merokok.
>Ada berapa suami yang sadar betapa pentingnya dukungan bagi
>istrinya yang sedang hamil atau melahirkan ?
HP:
Walah kayak pernah jadi suami saja. Memang pernah malakukan survey?
Suami yang mencintai istrinya, tanpa harus sadar bahwa dukungan
untuk istri yang hamil atau melahirkan itu penting, dia akan memberikan
dukungan itu. Sebab dia tahu, yang sedang berjuang itu
adalah pujaan hatinya. Yang akan lahir ke dunia itu adalah buah
cinta mereka berdua.
Bentuk dukungan itu tidak harus diujudkan dengan menunggui istri
yang melahirkan. Banyak cara untuk mengekspresikan hal itu. Orang
lain banyak yang melihat bentuk dukungan itu sebagai "suami yang secara
fisik menunggui istrinya waktu melahirkan". Ini kesalahannya.
Sebab, tiap pasangan punya cara masing-masing dalam mengekspresikan
hal ini.
>Ada berapa orang tua yang sadar bahwa pertumbuhan otak anak dari
>usia 0- 4 tahun adalah sama dengan perkembangan otak dari usia
>4 - 18 tahun ?
HP:
Saya berpendapat, tidak setiap orang tua harus tahu hal-hal demikian.
Apalagi hal-hal yang sangat teknis detail demikian. Biarlah para
dokter dan bidan yang tahu. Saya berasumsi, orang tua yang mencintai
anaknya, tidak akan menelantarkan anaknya. Dengan modal cinta itu,
orang tua akan memperhatikan kualitas makanan si anak, kesehatan
si anak, dan kebutuhan si anak. Bila ada orang tua yang karena
kelebihanannya menjadi tahu hal-hal spt di atas, itu bagus.
>Sudah adakah kursus tentang menjadi orang tua, profesi yang akan
>ditekuni oleh hampir tiap orang ?
HP:
Parenthood is an art. Seseorang tidak harus ambil kursus tentang
menjadi orang tua. Sebab, kurus menjadi orang tua itu hanyalah
bersifat menambah pengetahuan. Orang tua yang ahli psikologi anak,
mengakui bahwa apa yang dia ketahui ternyata tidak pas untuk
diterapkan dalam mendidik anaknya. Dia memberi nasihat, tidak
ada petunjuk buku atau kursus yang betul-betul bisa dijadikan
rujukan untuk memecahkan kasus yang dihadapi. Saran dari psikolog
tadi, sebaiknya orang tua tidak terpaku pada apa yang dikatakan
buku atau pengetahuan yang pernah diperoleh dari kursus.
Dia bilang, parenhood is an art. Modal utama mendidik anak
kata dia, adalah...cintai mereka tapi jangan dimanjakan.
Listen to them, don't tell them.
Kalau ada calon orang tua yang meningkatkan wawasannya dengan
membaca buku dan ikut kursus, itu bagus. Namun demikian, jangan
membuat buku atau pengetahuan dari kursus itu sebagai
"silver bullet" yang bisa memecahkan setiap problem yang dihadapi.
>Jadi saya kira inilah yang perlu diantisipasi bersama oleh keluarga >dan
>masyarakat, termasuk partai yang menang pemilu nanti. Kalau dibilang
>program khusus untuk perempuan nanti mengundang pro dan kontra, ya
>bilang saja itu adalah program untuk kesejahteraan keluarga.
>Mohon maaf bila ada kesalahan.
Secara umum saya setuju bila kesejahteraan keluarga mendapat
perhatian yang lebih besar dari pemerintah yang diujudkan dengan
penyediaan beberapa fasilitas pendukung. Tapi saya tetap berharap
bahwa keluarga menjadi tanggung jawab keluarga masing-masing.
Namun demikian, masyarakat dan pemerintah diharapkan membantu
menciptakan atmosphere yang konduksif untuk terciptanya keluarga
yang sejahtera lahir batin.
>Regards,
>Eva
Salam hangat,
Hercule Poirot:
"...If we know what we are looking for,
it is no longer mysteri..."
_______________________________________________________________
Get Free Email and Do More On The Web. Visit http://www.msn.com
______________________________________________________________________
To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
Pilih MASA DEPAN BARU di Pemilu 1999!