> Yang terlihat nampaknya memang begitu. Tapi apa benar hanya krn
> kurang diperhatikan orang tua? Di pedesaaan, banyak orang tua
> yang terpaksa pergi berbulan-bulan mencari nafkah, tapi anaknya
> nurut-nurut (cobalah survey ke pasar di Jakarta, berapa orang tua
> yang terpaksa pisah dengan anaknya berbulan-bulan). Sinyalemen Dr.
> Boyke
> memang banyak benarnya bila sample yang diambil di kota-kota.
> Anak yang diasuh dengan baik saja masih terlibat pengedaran obat
> bius [kasus Alya Rohali] dan orang tuanya tidak tahu.
>
> Saya kira penyebabnya sangat kompleks. Pertama, faktor si anak
> sendiri. Kalau dasarnya punya kecenderungan ke arah sana, kena
> pengaruh sedikit saja terbawa. Kemudian orang tua. Dan, juga
> lingkungan. Saya sendiri tidak tahu resep apa yang paling tepat
> untuk "mengamankan" mereka. Silahkan yang memang pakar psikologi,
> pakar sosial, budayawan, ahli agama mencari solusinya.
>
> Eva :
> Anda keliru. Di pedesaan pun anak-anak yang salah pergaulan sudah
> banyak. Mungkin mereka nggak kenal diskotik dan narkotik. Tapi angka
> hamil di luar nikah cukup tinggi. Ini dari artikel Republika yang sama
> juga lho. Kalau dibandingkan anak-anak yang "bener" ya memang lebih
> sedikit, wong jumlahnya cuma berapa persen. Tapi peningkatannya dari
> waktu ke waktu inilah yang mengkhawatirkan. Dan saya yakin, kalau ortu
> mampu menjalin komunikasi yang baik dengan anaknya, tidak mungkin anak
> sampai terjerumus demikian. Karena kalau ada ketidakberesan sedikit
> pasti langsung terdeteksi.
>
> >Dalam masyarakat kita, pendidikan dan pengasuhan anak sepertinya
> >masih
> >lebih dibebankan kepada ibu, meskipun anak itu adalah hasil
> >"kerjasama"
> >dua orang.
> >Saya ingin ada perubahan paradigma dalam masyarakat, bahwa pembinaan
> >keluarga---anak terutama---adalah tanggung jawab
> >masyarakat,lingkungan,
> >pemerintah, bukan hanya tanggung jawab ibu.
>
> HP:
> Jangan terlalu banyak pada masyarakat dan pemerintah. Meski kalimat
> di atas enak didengar, tapi pada kenyataannya keluarga itu sendiri
> lah yang harus bertanggung jawab thd pendidikan anak-anaknya.
>
> Eva:
> Memang benar bahwa keluarga adalah penanggungjawab utama pendidikan
> anak-anak. Tapi bukankah bagus sekali andaikan pemerintah, dengan
> kekuasaannya, benar-benar memberikan perhatian besar pada masalah ini.
> Kalau di waktu-waktu yang lalu masalah keluarga seperti terabaikan,
> mungkin saja pemerintahan yang baru nanti mempunyai suatu program
> khusus dalam pembinaan keluarga. Bukankah mereka berkepentingan dalam
> peningkatan mutu SDM ?
>
>
> HP:
> Untuk instansi pemerintah, mungkin bisa diperjuangkan. Pemerintah
> mungkin bisa menyediakan fasilitas penitipan anak. Tapi coba kita
> agak realistis sedikit. Bila fasilitas demikian dibangun, ada
> berapa pegawai yang sebenarnya benar-benar memerlukan? Dalam jangka
> berapa lama? Dan, berapa fasilitas demikian perlu dibangun kalau
> letak perkantoran tersebar dalam radius yang luas. Kalau yang
> dimaksud sekedar ruangan kecil mungkin pemerintah bisa sisihkan
> dari sebagian kantornya. Tapi kalau diminta semacan play group
> dengan baby sitters-nya, saya kira agak sulit dipenuhi.
> Coba mari kita hitung, dalam setahun akan ada berapa bayi yang
> perlu dititipkan di play group yang dibangun pemerintah.
>
> Untuk swasta, ini sangat bergantung kepada kebijaksanaan pemilik
> perusahaan. Tapi saya punya keyakinan, pertimbangan mereka adalah
> asas manfaat dan asas ekonomi.
>
> Eva:
> Semuanya bisa fleksibel. Untuk perkantoran yang besar dengan jumlah
> pegawai wanita banyak, mungkin bisa dibangun satu. Sebuah ruangan
> kecil yang bersih dan menyenangkan ? Mengapa tidak ? Yang penting ada
> kemauan ke arah sana.
>
> >Ada berapa ibu hamil yang terpaksa bekerja di lingkungan yang penuh
> >asap
> >rokok sehingga membahayakan kehamilannya?
>
> HP:
> Kalau ibu hamil itu bekerja pada lingkungan yang memang smoking
> area, ibu itulah yang salah. Ibu itu mestinya memang berhenti
> bekerja. Ia tidak bisa melarang orang lain merokok hanya krn dia
> hamil. Atau
> kalau mau nekat kerja di situ, ya jangan hamil.
> Namun demikian saya setuju kalau di perkantoran, di tempat kerja
> ada wilayah-wilayah tertentu yang bebas asap rokok. Ini untuk
> melindungi semua orang, bukan hanya ibu hamil. WOng banyak juga
> wanita hamil malah merokok.
>
> Eva:
> Titik berat saya memang pada perilaku sebagian orang yang seringkali
> tidak mempedulikan lingkungan di mana dia merokok. Sudah ada larangan
> merokok tetap saja merokok. Kalau ada ibu hamil yang bekerja di situ,
> apa masih salah ibu hamilnya ? Soal wanita hamil yang malah merokok,
> itu sih goblog aja, membahayakan janin sendiri.
>
>
> >Ada berapa suami yang sadar betapa pentingnya dukungan bagi
> >istrinya yang sedang hamil atau melahirkan ?
>
> HP:
> Walah kayak pernah jadi suami saja. Memang pernah malakukan survey?
> Suami yang mencintai istrinya, tanpa harus sadar bahwa dukungan
> untuk istri yang hamil atau melahirkan itu penting, dia akan
> memberikan
> dukungan itu. Sebab dia tahu, yang sedang berjuang itu
> adalah pujaan hatinya. Yang akan lahir ke dunia itu adalah buah
> cinta mereka berdua.
>
> Bentuk dukungan itu tidak harus diujudkan dengan menunggui istri
> yang melahirkan. Banyak cara untuk mengekspresikan hal itu. Orang
> lain banyak yang melihat bentuk dukungan itu sebagai "suami yang
> secara
> fisik menunggui istrinya waktu melahirkan". Ini kesalahannya.
> Sebab, tiap pasangan punya cara masing-masing dalam mengekspresikan
> hal ini.
>
> Eva:
> OK...OK....saya emang belum pernah jadi suami.
>
> Secara umum saya setuju bila kesejahteraan keluarga mendapat
> perhatian yang lebih besar dari pemerintah yang diujudkan dengan
> penyediaan beberapa fasilitas pendukung. Tapi saya tetap berharap
> bahwa keluarga menjadi tanggung jawab keluarga masing-masing.
> Namun demikian, masyarakat dan pemerintah diharapkan membantu
> menciptakan atmosphere yang konduksif untuk terciptanya keluarga
> yang sejahtera lahir batin.
>
> Eva :
> Saya sependapat.
>
> Salam hangat,
> Hercule Poirot:
> "...If we know what we are looking for,
> it is no longer mysteri..."
>
> Regards,
>
> Eva
>
>
> _______________________________________________________________
> Get Free Email and Do More On The Web. Visit http://www.msn.com
>
> ______________________________________________________________________
> To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
> To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
>
> Pilih MASA DEPAN BARU di Pemilu 1999!
>
>
>
______________________________________________________________________
To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
Pilih MASA DEPAN BARU di Pemilu 1999!