Duh, saya jadi "gatel" pengin berkomentar juga nih.
Kalau kita lihat bersama untuk masa sekarang ini, tampaknya perempuan
sudah memiliki kesempatan yang nyaris sama dalam berbagai hal dengan
laki-laki. Karena itu, gerakan emansipasi yang menuntut
persamaan-persamaan antara perempuan dengan laki-laki saya kira sudah
bukan jamannya lagi. Sudah terbukti bahwa perempuan juga punya potensi
untuk berprestasi yang sama dengan laki-laki. Bahkan ada yang bilang,
tahun 2000 nanti adalah tahunnya perempuan. Wallahu a'alam.
Saya setuju dengan pendapatnya Mas Hercule Poirot, bahwa untuk masalah
perlindungan hukum dan kesehatan, perempuan tidak perlu dibedakan dengan
laki-laki. Semuanya berkedudukan sama dan mempunyai hak yang sama.
Perbedaan hanyalah terletak pada kasus dan penanganannya. Sekarang ini
sepertinya untuk kasus perkosaan dan pelecehan seksual belum ditemukan
formula yang tepat untuk penanganannya sehingga banyak di antara kasus
ini yang mengambang.
Untuk masa sekarang lebih baik perhatian masyarakat lebih diarahkan pada
pembinaan keluarga. Seperti kita tahu, pergaulan remaja masa kini sudah
semakin tidak terkendali. Seks bebas, shabu-shabu, putaw, dan apalah
namanya, seakan sudah menjadi hal yang biasa. Temuan mengejutkan
tersebut telah dikemukakan oleh Dr. Boyke dalam Republika beberapa waktu
yang lalu. Konon semua itu terjadi lantaran minimnya komunikasi antara
orang tua dan anak, dan anak pun menjadi miskin kasih sayang orang tua.
Konon lagi lantaran orang tua sudah sibuk dengan urusan masing-masing
sehingga kekurangan waktu untuk memperhatikan anak.
Dalam masyarakat kita, pendidikan dan pengasuhan anak sepertinya masih
lebih dibebankan kepada ibu, meskipun anak itu adalah hasil "kerjasama"
dua orang. Jadi bila anak salah asuh atau salah didik, maka ibulah yang
lebih disalahkan. Apalagi bila ibu bekerja. Saya ingin ada perubahan
paradigma dalam masyarakat, bahwa pembinaan keluarga---anak terutama---
adalah tanggung jawab masyarakat, lingkungan, pemerintah, bukan hanya
tanggung jawab ibu. Yang terjadi sekarang adalah ibu kurang mendapatkan
dukungan untuk menjalankan fungsinya dalam pengasuhan dan pendidikan
anak, terutama ibu yang bekerja. Berapa tempat kerja yang menyediakan
tempat penitipan anak (TPA) bagi para karyawatinya, supaya mereka dapat
memberikan ASI secara eksklusif kepada bayinya, supaya dapat setiap saat
menyentuh dan mencandai buah hatinya ? Ada berapa ibu hamil yang
terpaksa bekerja di lingkungan yang penuh asap rokok sehingga
membahayakan kehamilannya ? Ada berapa suami yang sadar betapa
pentingnya dukungan bagi istrinya yang sedang hamil atau melahirkan ?
Ada berapa orang tua yang sadar bahwa pertumbuhan otak anak dari usia 0
- 4 tahun adalah sama dengan perkembangan otak dari usia 4 - 18 tahun ?
Sudah adakah kursus tentang menjadi orang tua, profesi yang akan
ditekuni oleh hampir tiap orang ?
Jadi saya kira inilah yang perlu diantisipasi bersama oleh keluarga dan
masyarakat, termasuk partai yang menang pemilu nanti. Kalau dibilang
program khusus untuk perempuan nanti mengundang pro dan kontra, ya
bilang saja itu adalah program untuk kesejahteraan keluarga.
Mohon maaf bila ada kesalahan.
Regards,
Eva
______________________________________________________________________
To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
Pilih MASA DEPAN BARU di Pemilu 1999!