Logika Kepuntir.

Ada berita yang aku dengar melalui Liputan 6, Rabu 26 Mei 1999 sore.
Kabarnya begini :

Ulama-ulama se-Jabar bertekad memenangkan Golkar di Pemilu depan. Keika
ditanya alasannya, maka ulama tersebut 'berbunyi' demikian :

'Golkar sekarang sudah berubah, dengan paradigma baru, dan bukan Golkar
yang dulu. Golkar dulu itu kan cuma kepanjangan tangan penguasa saja'.

Terusnya :

'Dukungan Ulama untuk memenangkan Golkar kali ini adalah sebagai ucapan
terimakasih dan balas budi, karena Golkar sejak 1980 telah banyak
membantu ulama Jabar'.

Kesimpulan?

Ada logika kepuntir, terpilin, mbulet, ngawur, super bego. Antara
pernyataan pertama, yang seolah memaki Golkar lama yang dituding
perpanjangn tangan kekuasaan, yang lebih butut dibanding Golkar
ber-Paradigma Baru.

Tapi, di pernyataan ikutannya, partisipasi ini merupakan balas budi
atas jasa-jasa Golkar sejak 1980 (yang lama, dong!).

Di sini yang salah itu ulamanya dalam memilih kalimat, atau sebenarnya
ulama ini masih melihat sosok golkar yang ada ini masih yang lama dulu,
yang berjasa, sehingga wajib diberikan balas budi?

Logika muntir lain adalah pernyataan akbar-tanjung yang menyatakan
bahwa golkar adalah partai reformis, dengan alasan fraksi golkar-lah
yang memungkinkan keputusan mpr menyelenggarakan pemilu yang
dipercepat.

Satu hal komentarku, cobalah saat itu golkar berani menghalangi
keinginan reformasi rakyat di luar gedung mpr/dpr, kalau nggak pulang
tinggal nama.

Jadi?

Bukan golkar reformis, tetapi yang tahu ke mana angin bertiup. Aku
berani bertaruh. Begini. Kita ambil secara acak anggota golkar di dpr,
macam Priyo, lalu kita pasangi lie-detector. Berani sumpah mereka pasti
masih orde-lama.

GIGIH


_________________________________________________________
Do You Yahoo!?
Get your free @yahoo.com address at http://mail.yahoo.com


______________________________________________________________________
To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]

Pilih MASA DEPAN BARU di Pemilu 1999!



Kirim email ke