Mas Aswat,
Kita tentunya merasakan sedang berada dalam proses dinamika terus menerus
menuju lahirnya keseimbangan2 baru. Akhir-akhir ini apalagi. Dinamika
tersebut mendapat percepatan yang cukup signifikan akibat proses
demokratisasi. Semua unsur sosial masyarakat bagaikan vektor-vektor tarik
menggelegak dalam reaksi menuju keseimbangan baru itu. Kalau kita nggak
sempat melongok dari luar sesaat, memang keadaan bisa membuat puyeng dan
frustasi. Bagaimana resultante baru terjadi, bagaimana rupa senyawa baru
setelah reaksi kimia selesai , amat menarik dan amat menegangkan buat
ditunggu ( apakah ada kecelakaan bejana reaksi yang pecah meledak ?).
Dalam keadaan seperti itu tentunya terjadi beberapa peristiwa besar. Yang
pertama yang tidak bisa dihindari, adalah peristiwa masyarakat harus
melewati masa puber menuju kedewasaan: Euphoria politik, tidak bisa berpikir
substansial, napsu kekanakan menonjolkan identitas, ketidak sabaran
penyelesaian kepentingan diri sendiri, dsb. Peristiwa yang lain adalah
peristiwa pembelajaran /pendidikan, dari kenyataan-kenyataan yang terjadi
ataupun dari para Guru Bangsa/ Pemimpin Bangsa yang disengaja.
Kalau kita mau bersangka baik, seperti yang telah saya katakan terdahulu,
pada soal hubungan dagang dengan Israel, Gus Dur sengaja melemparkannya
untuk menjadi wacana olah-pikir masyarakat luas. Perubahan berpikirpun tidak
dapat dipaksakan segera. Yang lebih diharapkan adalah perubahan pemikiran
yang mantap dan secara alami. Segala reaksi luar yang terjadi seharusnya
tidak menjadikan kita gundah malahan harus diterima dengan penuh kesabaran.
Kita seringkali menemukan kenyataan pada anak kita, pemaksaan kehendak orang
tua bisa berakibat yang bertentangan. Kebijaksanaan, keleluasaan yang penuh
pengertian dapat memberikan kepercayaan yang masih diperlukan oleh anak.
Yang kemudian mengakibatkan penerimaan penuh keikhlasan. Win-Win solusi.
Soal isu Zionis yang dikaitkan pada hubungan tabu dengan kaum Nasrani,
menurut saya mudah2an tidak akan sejauh itu. Disamping kekeliruan masyarakat
Mulim Indonesia yang memandang masalah Israel ada hubungannya dengan agama
yang tidak ada dalam dunia Arab umpamanya), ada pula kekeliruan masyarakat
Nasrani disini ( non-Muslim) dalam melihat masalah itu ( sebagai masalah
agama pula). Kesalahan strategis misalnya tokoh politik PDIP yang beragama
Kristen yang dengan amat vokal mengatakan bahwa setelah PDIP membentuk
pemerintahan akan dibuka hubungan diplomatik dengan Israel. Itu merupakan
pertanyataan agresif yang tidak ada gunanya. Sama sekali tidak akan membantu
membangun pengertian sebenarnya. Lebih baik pihak Orang Kristen ( maaf sok
usul, siapakah saya si dul ini ?) tidak bersuara dalam hal ( sensitive) ini.
Kalau perlu dalam berbagai media yang bisa dipengaruhi , ditampilkan
tokoh-tokoh Palestina/Arab Kristen yang amat menentang Israel. Salah satu
buku terbaik yang mengulas jahatnya Zionisme adalah buku-buku yang dikarang
oleh Edward Said, cendekiwan Palestina Amerika beragama Kristen. Orang dan
buku tersebut amat tidak disukai oleh lobby Israel. Isteri Yasser Arafat
adalah seorang Kristen taat. Beberapa menteri Palestina adalah orang
Kristen. Apakah kaum Kristen Indonesia cukup tahu bahwa pemuka gereja
Yerusalem adalah orang Arab Palestina yang juga menginginkan Yerusalem
sebagai bagian negeri Palestina Sekuler Merdeka ?.
( Bisa dicatat piawainya Gus Dur memasang Alwi Shihab untuk soal ini. Alwi
Shihab adalah keturunan Arab golongan Habaib yang banyak dihormati kalangan
santri kampung. Alwi pernah hidup bertahun-tahun di Mesir dan Arab Saudi,
sangat fasih bahasa Arabnya. Beliau saya ketahui , sangat dekat hubungannya
dengan keluarga Kerajaan Saudi. Tugas yang diterimanya tentunya tidak jauh
berbeda kepepetnya dengan tugas Indah Parawansa ).
Soal tanggapan Mas Yap, saya terus terang belum mengerti sepenuhnya apa yang
dimaksud. Bisa di elaborasi lebih lanjut mas Yap? ( soal palestina lokal,
dsb.) Saya ndak bisa nyandak . Terkena Telmi, kali ?!
Wassalam
Abdullah Hasan.
From: �� <[EMAIL PROTECTED]>
Baru saja Alwi Sihab mengatakan bahwa kita ini serba repot.
Maunya transparan dan terbuka namun setelah diakukan baru pada
kaget. Padahal, Malaysa dan negara-negara Arab sudah melakukannya
dengan diam-diam. Bahkan Pak Hasan juga sudah pernah
melakukannya.
Berdasar ulasan Bung Yap, mungkin Pak Hasan bisa menjawab
mengenai bagaimana jalan keluarnya agar isu zionis itu tidak
terkonotasikan menjadi isu tabuisasi untuk berhubungan dengan
kaum nasrani. GD sudah memberi contoh, namun fakta menunjukkan
bahwa GD selalu kontroversial bukan?
��
-
-= Dual T3 Webhosting on Dual Pentium III 450 - www.indoglobal.com =-
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
dengan mengirim e-mail kosong ke alamat;
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!