yess.... yessss.. ai egri det.... heheh....
lha wong gak mudheng blas kok ya.
trus mau bilang apa, selain setuju dan
menikmati pembelajaran pulitik di kul-tin ini?
salam,
drajad
------
----- Original Message -----
From: Abdullah Hasan <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Friday, November 19, 1999 4:49 PM
Subject: Re: [Kuli Tinta] Berdagang Agama atau Berdagang atas
dasar Agama?
Mas Aswat,
Kita tentunya merasakan sedang berada dalam proses dinamika
terus menerus
menuju lahirnya keseimbangan2 baru. Akhir-akhir ini apalagi.
Dinamika
tersebut mendapat percepatan yang cukup signifikan akibat proses
demokratisasi. Semua unsur sosial masyarakat bagaikan
vektor-vektor tarik
menggelegak dalam reaksi menuju keseimbangan baru itu. Kalau
kita nggak
sempat melongok dari luar sesaat, memang keadaan bisa membuat
puyeng dan
frustasi. Bagaimana resultante baru terjadi, bagaimana rupa
senyawa baru
setelah reaksi kimia selesai , amat menarik dan amat menegangkan
buat
ditunggu ( apakah ada kecelakaan bejana reaksi yang pecah
meledak ?).
Dalam keadaan seperti itu tentunya terjadi beberapa peristiwa
besar. Yang
pertama yang tidak bisa dihindari, adalah peristiwa masyarakat
harus
melewati masa puber menuju kedewasaan: Euphoria politik, tidak
bisa berpikir
substansial, napsu kekanakan menonjolkan identitas, ketidak
sabaran
penyelesaian kepentingan diri sendiri, dsb. Peristiwa yang lain
adalah
peristiwa pembelajaran /pendidikan, dari kenyataan-kenyataan
yang terjadi
ataupun dari para Guru Bangsa/ Pemimpin Bangsa yang disengaja.
Kalau kita mau bersangka baik, seperti yang telah saya katakan
terdahulu,
pada soal hubungan dagang dengan Israel, Gus Dur sengaja
melemparkannya
untuk menjadi wacana olah-pikir masyarakat luas. Perubahan
berpikirpun tidak
dapat dipaksakan segera. Yang lebih diharapkan adalah perubahan
pemikiran
yang mantap dan secara alami. Segala reaksi luar yang terjadi
seharusnya
tidak menjadikan kita gundah malahan harus diterima dengan penuh
kesabaran.
Kita seringkali menemukan kenyataan pada anak kita, pemaksaan
kehendak orang
tua bisa berakibat yang bertentangan. Kebijaksanaan, keleluasaan
yang penuh
pengertian dapat memberikan kepercayaan yang masih diperlukan
oleh anak.
Yang kemudian mengakibatkan penerimaan penuh keikhlasan. Win-Win
solusi.
Soal isu Zionis yang dikaitkan pada hubungan tabu dengan kaum
Nasrani,
menurut saya mudah2an tidak akan sejauh itu. Disamping
kekeliruan masyarakat
Mulim Indonesia yang memandang masalah Israel ada hubungannya
dengan agama
yang tidak ada dalam dunia Arab umpamanya), ada pula kekeliruan
masyarakat
Nasrani disini ( non-Muslim) dalam melihat masalah itu ( sebagai
masalah
agama pula). Kesalahan strategis misalnya tokoh politik PDIP
yang beragama
Kristen yang dengan amat vokal mengatakan bahwa setelah PDIP
membentuk
pemerintahan akan dibuka hubungan diplomatik dengan Israel. Itu
merupakan
pertanyataan agresif yang tidak ada gunanya. Sama sekali tidak
akan membantu
membangun pengertian sebenarnya. Lebih baik pihak Orang Kristen
( maaf sok
usul, siapakah saya si dul ini ?) tidak bersuara dalam hal
sensitive) ini.
Kalau perlu dalam berbagai media yang bisa dipengaruhi ,
ditampilkan
tokoh-tokoh Palestina/Arab Kristen yang amat menentang Israel.
Salah satu
buku terbaik yang mengulas jahatnya Zionisme adalah buku-buku
yang dikarang
oleh Edward Said, cendekiwan Palestina Amerika beragama Kristen.
Orang dan
buku tersebut amat tidak disukai oleh lobby Israel. Isteri
Yasser Arafat
adalah seorang Kristen taat. Beberapa menteri Palestina adalah
orang
Kristen. Apakah kaum Kristen Indonesia cukup tahu bahwa pemuka
gereja
Yerusalem adalah orang Arab Palestina yang juga menginginkan
Yerusalem
sebagai bagian negeri Palestina Sekuler Merdeka ?.
( Bisa dicatat piawainya Gus Dur memasang Alwi Shihab untuk soal
ini. Alwi
Shihab adalah keturunan Arab golongan Habaib yang banyak
dihormati kalangan
santri kampung. Alwi pernah hidup bertahun-tahun di Mesir dan
Arab Saudi,
sangat fasih bahasa Arabnya. Beliau saya ketahui , sangat dekat
hubungannya
dengan keluarga Kerajaan Saudi. Tugas yang diterimanya tentunya
tidak jauh
berbeda kepepetnya dengan tugas Indah Parawansa ).
Soal tanggapan Mas Yap, saya terus terang belum mengerti
sepenuhnya apa yang
dimaksud. Bisa di elaborasi lebih lanjut mas Yap? ( soal
palestina lokal,
dsb.) Saya ndak bisa nyandak . Terkena Telmi, kali ?!
Wassalam
Abdullah Hasan.
-= Dual T3 Webhosting on Dual Pentium III 450 - www.indoglobal.com =-
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
dengan mengirim e-mail kosong ke alamat;
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!