Hehehe, nice points. Anda betul sekali, setiap usaha pemahaman selalu
memiliki kecenderungan utk mempertahankan struktur pemahaman yg sebelumnya.
Ini berlaku buat semua orang, tidak hanya saya.
Gini Mas eMBer, eh, Marto. Point saya mungkin lebih baik pake visualisasi
aja ya?
Pasti pernah denger beberapa orang buta yg berusaha memahami seekor gajah
dgn memegang sebagian saja dari anggota tubuh gajah ybs.
Yg pegang belalainya bilang: "Gajah itu binatang mirip ular."
Yg pegang kakinya bilang: "Gajah itu spt batang pohon."
Yg pegang gadingnya bilang: "Gajah itu spt tombak."
Dst, dst.
In itself, semua interpretasi ttg gajah itu "benar" karena berdasarkan
"fakta". Jadi kalau antar para orang buta itu saling berdebat, nggak akan
ada ketemunya. Kita, para pengamat AR yg "pintar" ini, hanyalah sekelompok
orang buta di depan gajah besar.
"AR itu partisan", "AR itu kancil licik", "AR itu pengkhianat", "AR itu
vampire politik", adalah pengamatan2 simplistik. Mungkin tidak salah, tapi
simplistik. Saya akan menjadi ikut2an simplistik bila hanya berusaha
'membuktikan' bahwa "AR itu bukan kancil licik", dst.
Sekali lagi, cobalah melepaskan diri dari obsesi utk tampil sekedar 'berani'
tapi simplistik.
Terkecuali kita memang senang terus-menerus memegang 'anus gajah'.
-----Original Message-----
From: Marto Blantik [mailto:[EMAIL PROTECTED]]
Sent: Monday, January 31, 2000 3:15 PM
To: [EMAIL PROTECTED]
Subject: Re: [Kuli Tinta] amien lagi
Walah nama saya disebut-sebut lagi,
padahal saya nunggu interpretasi bung
Ferli tentang si AR ini. Lha dari dulu
sampai sekarang postingnya cuma
nggrundel saja. Lebih cilaka lagi tiap
interpretasi sekarang musti ditanyakan
motivasinya. Bung Ferli menginterpretasi
bahwa posting saya punya motivasi
pembunuhan karakter. Karena itu
interpretasi bung Ferli ya terserah bung
Ferli saja.
Yang jelas interpretasi saya terhadap
bung Ferli adalah bung Ferli sudah
mempunyai interpretasi tersendiri
terhadap AR. Interpretasi saya, Bung
Ferli punya interpretasi positip
terhadap AR. Interpretasi saya lagi,
Bung Ferli tidak rela interpretasinya
terhadap AR itu di re-interpretasi lagi.
Sebenarnya sih bung Ferli tidak membela
AR, tetapi bung Ferli hanya membela
persepsi dan interpretasi DIRINYA
SENDIRI terhadap AR. Bung Ferli sedang
membela kestabilan dirinya yang mungkin
akan terguncang kalau persepsi dan
interpretasi tentang AR itu diganggu
gugat dan di re-interpretasi. Masalahnya
sekarang cukup terbukakah (beranikah)
bung Ferli terhadap re-interpretasi lagi
? Atau mencoba menutup diri dan
meyakinkan diri bahwa interpretasi orang
lain tentang AR di milis ini adalah
salah dan musti dipertanyakan
motivasinya?
Wajar kalau banyak orang tidak mau
menerima re-interpretasi lagi, sebab itu
akan menggoncangkan. Re-interpretasi
terhadap Al-Quran dan Al-Kitab misalnya.
Ini semua hanya interpretasi saja lho.
Jadi bisa benar dan bisa salah.
eMBer
----- Original Message -----
From: "Ferli Iskandar"
<[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Monday, January 31, 2000 1:50 PM
Subject: RE: [Kuli Tinta] amien lagi
> Berulang. Anda tetap 'keukeuh' dgn
tudingan pada saya bahwa saya menuding
> Marto Blantik sbg pembunuh karakter.
Padahal jelas2 sudah saya sebutkan
> bahwa bahwa itu adalah sekedar cermin
yang tidak bermutu dan belum tentu
> benar. Lagipula, mengapa saya Anda
larang utk mempertanyakan motivasi Marto
> Blantik? Berhenti atau tidaknya
diskusi mengenai Amin, adalah bukan
> keinginan saya, tidak juga ditentukan
oleh saya atau Anda.
>
> Yg lebih mendasar lagi, Anda juga
sangat 'keukeuh' dgn asumsi bahwa ada
> realitas objektif di luar sana, bahwa
ada interpretasi yg salah dan benar.
> Yg gini bisa panjang diskusinya.
>
> Soal Darwin, Anda lupa kali yah.
Darwin bukan sekedar ingin menjadi
bedes,
> tapi dgn teorinya dia percaya bahwa
pada dasarnya dia adalah bedes.
>
> Betul 'kan logikanya?
-- Situs sulap pertama di Indonesia http://www.impact.or.id/dmc-sulap/
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!