Bung Brahmanta, mas �� dan sobat sekalian,
Ya, besar kemungkinan karena yang saya ketahui hanya sedikit, tak cukup
komprehensif, kurang ikut pengajian dsb. sehingga hanya segitu itu
modalnya...
Dari diskusi bung Benny, bung Usman Hercule dan bung WAM tempoh hari, saya
mendapat learning point bahwa dengan membaca konteks (dan bukan hanya
sepotong sepotong ayat) akan banyak salah paham yang clear dengan
sendirinya. Nggak perlu ada yang dipertentangkan. Juga nggak perlu saling
membenci. Misalnya membaca an eye for an eye harus diikuti yang lebih mulia
adalah pipi kiri dan pipi kanan, atau membaca kisas harus dilengkapi bahwa
yang lebih mulia adalah memaafkan. Itulah yang terjadi pada level Romo
Magnis, Gus Dur dan setaranya yang tentu sudah sangat memahami konteks
dengan wawasan kelas dunia.
Saya nggak mampu mengomentari kasus Kaliurang, karena tidak cukup punya
informasi. Tetapi secara umum dapat saya katakan, bahwa kerangka solusi
menghadapi masalah gay/lesbian yang merebak, yang paling lunak adalah
melakukan pendekatan penyadaran (sampai sadar benar), yang paling keras ya
main bantai begitu itu. Diantara kedua ekstrim itu terdapat banyak varian.
Mengapa? Referensinya adalah 'Sodom and Gomorah' yang tertulis dikeempat
kitab suci. Perbuatan itu dibenci Allah, dan azabnya sangat keras. Pandai
pandai kitalah untuk memilih solusi yang sesuai, setelah yakin itu memang
masalah (problem definition-nya benar nggak? seberapa luas scopenya,
seberapa luas dampaknya, ini gejala umum atau sekedar ektrim kecil kecil dsb
dsb-lah, masak itik diajar berenang he he heee).
Ya begitulah mas, tidak selamanya y@p selembek bubur, terutama kalau
kasusnya berhadapan dengan ketaqwaan kepada Allah SWT. Karena yang satu ini
menempati rating tertinggi dalam hidup saya, dengan segala kekurangan
saya.(Bahasa aslinya: Itaqullaha hai sumaquntum). Rating kedua adalah
continous improvement (wa atbihissayih atal hasanah, tamhoha), dan rating
ketiga adalah peace and harmony (wacholichin naas sabichuluchin hazaniin).
Tetapi mengingat Islam adalah rachmatan lil alamin (mercy for the universe)
yang mengajarkan achlakul karimah (honorable behavior), tindak kekerasan
selalu saya tempatkan sebagai pilihan terakhir, tetapi -sorry to say- sama
sekali bukan tabu.
Segitu deh biar nggak dibilang pelit. Tapi ya cuma segitu itu, paling ada
sisa dikit dikit lagilah sebagai kelengkapan konteksnya.
Gantian dong, cerita Ibnu vs Wazir!
Have a nice weekend,
yap
Success is neither magical nor mysterious.
Success is the natural consequence of consistently applying basic
fundamentals.
----- Original Message -----
From: �� <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Sunday, 19 November 2000 7:31 WIB
Subject: Re: [Kuli Tinta] SOS from Siri-Sori Islam on the island of Saparua
Bung Y@p,
Namun, yang terjadi di lapangan sekarang seperti kasus Kaliurang atau kasus
lain kan juga berlandaskan "ajaran" yang dipahami benar. Atau benar kata Cak
Gigih bahwa bisa-bisa Cak Y@p yang salah.....
Eh ... tetapi GD juga pernah mengatakan hal serupa. Maka, Frans Magnis
pernah mengatakan "saya merasakan kedamaian di Ciganjur" Tetapi Hikam,
Sobari, Agil, dll juga nggak beda. Jangan-jangan GD dll itu juga termasuk
yang salah dalam hal itu.....
Bagaimana nih Bung Y@p, yang sedikit itu dibagi dhong kenapa pelit amat...
(ini menurut Cak gigih lho)
��
----- Original Message -----
From: Brahmanta <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Sunday, November 19, 2000 6:26 AM
Subject: RE: [Kuli Tinta] SOS from Siri-Sori Islam on the island of Saparua
Bung Yap, seandainya saja semua orang Islam mempunyai pandangan seperti anda
maka akan terasa begitu damainya hidup ini karena tak mudah diadu domba
untuk kepentingan politik, dan Islam akan benar-benar menjadi rachmat bagi
orang lain.
Salam,
>>>> 2.5 Mbps InternetShop >> InternetZone << Margonda Raya 340 <<<<
->Kirim bunga ke-14 kota di Indonesia, http://www.indokado.com
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!