From: M. Mashuri Alif <[EMAIL PROTECTED]>
Kemudian saya lupa pernah membaca di DR atau di Tempo. Tetang keterlibatan
kelompok ektrim kanan (baik Islam dan kristen) yang dipergunakan oleh CIA dalam
skenario penjatuhan Sukarno. Hal ini harus dibuktikan lagi.
Tetapi yang menarik Islam dan kristen penah bersatu untuk maksud tertentu dan
dipergunakan oleh kepentingan asing.
��:
Ini mungkin bukan ekstrim tetapi KAMI kependekan Kesatuan Aksi
Mahasiswa Indonesia memang berisi mhs dari berbagai agama;
Disana sebagai contoh ada Akbar Tanjung (Islam), Comas Batubara
(Katolik), Theo Sambuaga (Kriten) yang akhirnya semua masuk Golar.
Rm Mangun pernah menulis di Kompas dan salah satu mantan Intel
Australia yang memperoleh warga kehormatan dari Soeharto
mengatakan bahwa ada perwira menengah AD yang mengadakan
pertemuan di Kualalumpur dengan pihak asing untuk
menjatuhkan Soekarno.
Pak MMA, boleh bertanya nih, mengapa sekarang muncul KAMMI?
Apakah itu sempalan dari KAMI ataukah berbeda sama sekali?
MMA:
Hal inilah yang perlu rekan-rekan pelajari tentang berkembangnya kekuatan ekstrim
kanan baik islam lewat NII-nya dan Kristen lewat Kasbulnya.
��:
Saya agak ragu bahwa Kasbul berkaitan dengan Kristen.
Saya pernah membaca posting GAT dimana dia akhirnya keluar
dari Kasbul. (Kristen=Katolik atau Kristiani/Nasrani?) Kalau tidak
salah, GD menyebutnya dengan istilah fundamentalis, jadi
dalam nafas posting Pak MMA ini saya setuju kalau mereka kita
sebut saja fundamentalis tanpa harus mengkaitkannya dengan
nama agama untuk menghindari kecanggungan.
MMA:
Yang memperkuat ingatan kita akan banyaknya pemberontakan Permesta Sumatra, Sulawesi
dan Ambon (kok, hampir sama ya dengan sekarang).
��:
Fundamentalis ya Pak?
Apakah ini hampir mirip dengan yang terjadi di Lebanon? (gawat)
MMA:
Jelas jika kita mau melihat, bukanlah korban yang jatuh. Jika bicara korban
aceh, papua, Ambon dll juga jatuh korban baik muslim maupun non muslim, yang
seharusnya anda analisa siapa dan mengapa bisa terjadi di tengah dunia yang
kian sempit dan mengglobal. Dimana tingkat pendidikan sudah tinggi. Mengapa
ada Dendam? Siapa yang membuat dendam itu dan kemudian meniup-niupkan dendam
tersebut? bagaimana menghapus dendam tersebut.
��:
Diskusi di milis ini pernah memunculkan informasi bahwa
asing memang bermain bukan hanya di masalah Timtim
tetapi juga di Indonesia wilayah Timur sebagai daerah
perburuan baru.
Pertanyaannya mungkin menjadi bagaimana cara agar
Kehancuran bangsa dan negara ini menjadi sebuah
kekhawatiran bersama dan harus dimusuhi? Lagi,
Pers memegang peranan yang menentukan.
Apakah saya salah?
MMA
Bangsa ini sedang sakit, bukan saja agama yang sakit tetapi seluruh
sendi-sendi kehidupan berbangsa sedang sakit. Sakit hati dll. Dan hal ini
lebih baik memang tidak diexpost dan dibesar-besarkan (karena saya pribadi
juga tidak punya tenaga untuk menuntaskannya). Menurut bahasa Gusdur biarkan
hal ini berakhir secara alami.
��:
Setuju tanpa melupakan pendidikan dasar untuk memulai.
MMA
Dalam ungkapan Gusdur tersebut terlihat kekesalan beliau terhadap para
ektrim, dan rakyat yang mau saja dibodohi saja. Pak Abdul, mengapa orang
sekarang ini mudah membuat isu tetapi melupakan sejarah. Bukankah kemudian Islam juga
yang dihabisi ketika Suharto berkuasa. Kasus Aceh, Lampung, Priuk, Situbondo, Waduk
Nipah Madura, dukun santet ketiga kasus terakhir bapak Abdulah menimba umat Islam dari
kalangan NU.
��:
Agak bingung Pak. Di jaman Soeharto ketika kasus-kasus itu
terjadi. PPP demikian kuat di Aceh, juga MUI dan ICMI dan
ormas Islam yang lain. Bahkan terlihat kedekatan KISDI sebagai
organisasi maupun individunya dengan Pak Harto. (Masjid Soeharto
di Bosnia?) Marilah kita lihat sebagai misal yang sepele saja kasus
Harmoko. Gerakan sebagian ormas Islam mudah sekali diredam
dan Harmoko bisa tertawa manis; Padahal, salah satu mhs yang
menggunakan plesetan di Yogya harus meringkuk di penjara.
Apa beda Harmoko dengan mhs itu?
MMA:
Hanya orang-orang yang memakai otaknya saja yang bisa menganalisa
permasalahan profokasi tersebut. Kenapa jika ada perbedaan tidak
diselesaikan dengan diskusi sesudah itu ya selesai, agamamu-agamamu agamaku ya agamaku.
��:
Seandainya saja agama bukan kendaraan politik.
del
MMA:
Dari beberapa referensi yang saya baca dan pelajari bapak Adullah, agama
akhirnya hanya dipakai sebagai tungangan politik semata.
��:
GD berupaya keras agar agama tidak menjadi tunggangan poltik.
Upaya itu sudah dilakukan sejak Soeharto masih berjaya. Fordem
adalah contohnya sehingga adu domba di NU dilakukan untuk
menahan GD tidak naik ke Ketua NU. Ketika GD naik menadi Presiden,
upaya itu terus dilakukan dengan posisi tawar yang lebih baik,
dan hasilnya telah mulai kelihatan. Namun, saya melihat justru
itulah yang sebenarnya tidak disenangi oleh para politisi karena
mereka akan kehilangan masa. Lihat sebagai misal kasus AR.
dalam Pemilu lalu AR hanya mengantongi 7% namun secara Politis
masa yang akan mendukug AR lebih banyak dari itu bila ada
serangan politik ke AR. Semacam causa paperis.
MMA:
Dan dalam keyakinan politik yang saya pegang. Agama adalah sifatnya
Universal jadi saya tempatkan di atas (vertikal), dialah yang akan mengatur
moral kita dalam hidup sosial (horisontal) dan politik.
��:
Sangat setuju Pak MMA.
Inilah sebenarnya akar permasalahan pertikaian yang mudah
membesar dari bangsa ini. Seandainya saja dipahami ucapan
GD bahwa Religi kita berbeda namun Religiositas kita sama maka
enerji dan potensi bangsa ini bisa dialihkan untuk menyelesaikan
persoalan yang lain yang tidak kalah mendesaknya.
MMA:
Tapi saya tidak menutup mata masih ada usaha beberapa kelompok dalam
masyarakat yang terus memaksakan kepentingan politiknya baik secara vertikal
dan horisontal pada ajaran agama. Bagi saya sah-sah saja asal dijalankan
secara demokratis (bukan dengan memaksa) walaupun tidak dilarang juga untuk
menyebarkannya. Kemudian mau untuk berbesar hati bersama-sama bagi yang
menganut kelompok ini. Artinya mau jujur pada diri sendiri, bahwa semua
kepentingan yang berdasarkan agama dasarnya harus moral. Jadi tidak ada lagi
tuduhan kristinisasi dan islamisasi, karena memang kedua menjalakan amanat
itu.
��:
Mungkin inilah yang paling sulit dalam implementasinya.
bagaimana cara untk mewujudkan itu Pak?
(Bung Nopi mengatakan mulai dari lingkuntan terkecil)
del.
MMA:
Sebagai muslim seharusnya kita lebih bisa berbesar hati. Apalagi Islam di
Indonesia adalah Mayoritas mengapa harus takut dan menekan yang minoritas
(mis: dalam kasus anti Cina/budaya rasis).
��:
Ya! mengapa ya Pak? Bisa menjelaskan?
MMA:
Jika kita selalu takut dan di
hantui rasa takut, malahan ketakutan itu akan menghampiri kita. Dalam
sejarahnya agama apapun dan ilmu sosial apapun mengajarkan bahwa sebuah
keyakinan/kelompok dari mulai Adam dan Hawa membuktikan apabila ada tekanan
ia akan makin membesar dan menguat.
��:
Mudah-mudahan ini dipahami sehingga asma Allah akan semakin
dumuliakan oleh perilaku umatnya.
MMA:
Ok sekian saja semoga kita semua
bukanlah orang-orang
yang merugi.
Pak Andullah maaf terlalu panjang
tulisan ini. semoga anda dan keluarga
dilindungi oleh Tuhan yme.
Amieen.
��:
Terima kasih Pak MMA, anda selalu hadir dengan sebuah si dan
bukan atribut.
----- Original Message -----
From: Abdullah Hasan <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: 23 Nopember 2000 19:47
Subject: [Kuli Tinta] Siri-Sori-Siri-Sori- Uneg-Uneg-Sorry
> From: "Ediwanto" <[EMAIL PROTECTED]>
> From: Ali Martono<[EMAIL PROTECTED]>
> From: y@p <[EMAIL PROTECTED]> GIGIH NUSANTARA <[EMAIL PROTECTED]>
> From: "��" <[EMAIL PROTECTED]> From: y@p <[EMAIL PROTECTED]>
> From: y@p @telkom.net > From: Ali Martono <[EMAIL PROTECTED]>
> From: "Brahmanta" <[EMAIL PROTECTED]> From: y@p @telkom.net >
> From: "Slax Rakumanan" <[EMAIL PROTECTED]> From: y@p <[EMAIL PROTECTED]>
> From: "��" <[EMAIL PROTECTED]> From: Ali Martono
> <[EMAIL PROTECTED]>
> ( dan lain-lain , dan lain-lain).
> ==============================================================
> Saya kira kira kita semua sudah tahu siapa yang mulai bikin gara-gara main
> sabet pedang disana. Saya sama sekali nggak keberatan untuk mengingatkan
> yang lupa : Kelompok Kristen membantai kelompok Muslim yang sedang
> sembahyang Idul-Fitri.
>
> Untuk membuat perdamaian ( ini menurut pendapat saya ) diperlukan
keadilan,
> paling tidak keadilan nurani : Pihak yang bikin gara-gara itu dengan tulus
> ngaku salah. Yang seperti itu dilakukan orang-orang di Afrika Selatan
sana.
> Setelah itu diperlukan kelapangan hati dan saling-memaafkan dan saling
> mengubur dendam.
>
> Bagaimana bisa ada damai kalau yang diributkan cuma Laskar Jihad. Suatu
> kreatifitas amat kepepet dari pihak Muslim setelah ribuan anak-anaknya
> dibantai kaya kecoa. Di Poso umpamanya ?
>
> Ngomong-ngomong apakah ada indikasi pengakuan seperti itu dari pihak
> Kristen? Diluar itu , kayanya kok males ngomong soal itu. Nurut Gus Dur
> saja: Biarkan "kreativitas" kedua belah pihak berkembang......(?)
>
> Ataukah saya memang lupa bahwa pihak Islam adalah yang membuat
> gara-gara dengan pembantaian masal pada ummat Kristen di Ambon sana ?
> Saya sama sekali tidak keberatan buat diingatkan....
>
> =========================================================
> Salam,
> Kawan-Kawan Sekalian,
> Bila seseorang punya uneg-uneg seperti diatas itu, sebaiknya bagaimana,
ya?
> Katakanlah di Milis ini. Di bungkus rapat-rapat didalam dada, atau
> dimasukkan dalam lemari saja. Atau dikeluarkan saja nekad-nekadan. Dengan
> dikeluarkan apa ada efek positifnya ? Yang terang pasti digebugi
ramai-ramai
> seperti WAM sobat seiman saya yang teteg itu. Dan dianggap miring sedikit
> karena maju tanpa konco yang cukup ? Apakah manusia lain yang membaca itu
,
> umpamanya yang beragama Kristen, bisa mendapat suatu wawasan lain
umpamanya
> ? Atau cuma memperburuk situasi, memperkuat stereotip menyesatkan bahwa
> Muslim beneran itu mayoritasnya punya adab dibawah standar? Atau
masa-bodo,
> biarkan semuanya terjadi saja begitu saja. Biarkanlah kenyataan mengajari
> kita semua. Bag-Bug-Bag-Bug-Bag-Bug. Pastilah semua ada akhirnya........
>
> Kengganan berkomunikasi , keengganan mengeluarkan isihati , seringkali
saya
> rasakan. Hal itu dengan lugu tapi menarik sekali penah diungkapkan oleh
Mas
> Gigih dulu: Milis ini tidak bisa mengubah apa-apa. Tapi, kalau semuanya
> tetap disimpan dalam hati, apakah kita pernah bisa saling mengerti ?
Secuil
> ideal seperti itulah yang selalu saja mendorong saya untuk terus bicara
> apa-adanya. Bicara bukan yang harum macam Y@p yang santun itu, tapi sering
> pedas dan pahit seperti diatas.
>
> Tapi apakah mungkin ada gunanya ? Apakah kita sudah siap saling kenal ?
> Apakah kita siap melihat diri kita dan diri lain dari bermacam-macam arah
?
>
> Wassalam.
> Abdullah Hasan.
>
>
>
>
>
>
>
>
> >>>> 2.5 Mbps InternetShop >> InternetZone << Margonda Raya 340 <<<<
> ->Kirim bunga ke-14 kota di Indonesia, http://www.indokado.com
> Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
> Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
> Keluar: [EMAIL PROTECTED]
>
> Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>>>> 2.5 Mbps InternetShop >> InternetZone << Margonda Raya 340 <<<<
->Kirim bunga ke-14 kota di Indonesia, http://www.indokado.com
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!
>>>> 2.5 Mbps InternetShop >> InternetZone << Margonda Raya 340 <<<<
->Kirim bunga ke-14 kota di Indonesia, http://www.indokado.com
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!