From: "Ediwanto" <[EMAIL PROTECTED]>
From: Ali Martono<[EMAIL PROTECTED]>
From: y@p <[EMAIL PROTECTED]> GIGIH NUSANTARA <[EMAIL PROTECTED]>
From: "��" <[EMAIL PROTECTED]> From: y@p <[EMAIL PROTECTED]>
From: y@p @telkom.net > From: Ali Martono <[EMAIL PROTECTED]>
From: "Brahmanta" <[EMAIL PROTECTED]> From: y@p @telkom.net >
From: "Slax Rakumanan" <[EMAIL PROTECTED]> From: y@p <[EMAIL PROTECTED]>
From: "��" <[EMAIL PROTECTED]> From: Ali Martono
<[EMAIL PROTECTED]>
( dan lain-lain , dan lain-lain).
==============================================================
Saya kira kira kita semua sudah tahu siapa yang mulai bikin gara-gara main
sabet pedang disana. Saya sama sekali nggak keberatan untuk mengingatkan
yang lupa : Kelompok Kristen membantai kelompok Muslim yang sedang
sembahyang Idul-Fitri.
Untuk membuat perdamaian ( ini menurut pendapat saya ) diperlukan keadilan,
paling tidak keadilan nurani : Pihak yang bikin gara-gara itu dengan tulus
ngaku salah. Yang seperti itu dilakukan orang-orang di Afrika Selatan sana.
Setelah itu diperlukan kelapangan hati dan saling-memaafkan dan saling
mengubur dendam.
Bagaimana bisa ada damai kalau yang diributkan cuma Laskar Jihad. Suatu
kreatifitas amat kepepet dari pihak Muslim setelah ribuan anak-anaknya
dibantai kaya kecoa. Di Poso umpamanya ?
Ngomong-ngomong apakah ada indikasi pengakuan seperti itu dari pihak
Kristen? Diluar itu , kayanya kok males ngomong soal itu. Nurut Gus Dur
saja: Biarkan "kreativitas" kedua belah pihak berkembang......(?)
Ataukah saya memang lupa bahwa pihak Islam adalah yang membuat
gara-gara dengan pembantaian masal pada ummat Kristen di Ambon sana ?
Saya sama sekali tidak keberatan buat diingatkan....
=========================================================
Salam,
Kawan-Kawan Sekalian,
Bila seseorang punya uneg-uneg seperti diatas itu, sebaiknya bagaimana, ya?
Katakanlah di Milis ini. Di bungkus rapat-rapat didalam dada, atau
dimasukkan dalam lemari saja. Atau dikeluarkan saja nekad-nekadan. Dengan
dikeluarkan apa ada efek positifnya ? Yang terang pasti digebugi ramai-ramai
seperti WAM sobat seiman saya yang teteg itu. Dan dianggap miring sedikit
karena maju tanpa konco yang cukup ? Apakah manusia lain yang membaca itu ,
umpamanya yang beragama Kristen, bisa mendapat suatu wawasan lain umpamanya
? Atau cuma memperburuk situasi, memperkuat stereotip menyesatkan bahwa
Muslim beneran itu mayoritasnya punya adab dibawah standar? Atau masa-bodo,
biarkan semuanya terjadi saja begitu saja. Biarkanlah kenyataan mengajari
kita semua. Bag-Bug-Bag-Bug-Bag-Bug. Pastilah semua ada akhirnya........
Kengganan berkomunikasi , keengganan mengeluarkan isihati , seringkali saya
rasakan. Hal itu dengan lugu tapi menarik sekali penah diungkapkan oleh Mas
Gigih dulu: Milis ini tidak bisa mengubah apa-apa. Tapi, kalau semuanya
tetap disimpan dalam hati, apakah kita pernah bisa saling mengerti ? Secuil
ideal seperti itulah yang selalu saja mendorong saya untuk terus bicara
apa-adanya. Bicara bukan yang harum macam Y@p yang santun itu, tapi sering
pedas dan pahit seperti diatas.
Tapi apakah mungkin ada gunanya ? Apakah kita sudah siap saling kenal ?
Apakah kita siap melihat diri kita dan diri lain dari bermacam-macam arah ?
Wassalam.
Abdullah Hasan.
>>>> 2.5 Mbps InternetShop >> InternetZone << Margonda Raya 340 <<<<
->Kirim bunga ke-14 kota di Indonesia, http://www.indokado.com
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!