Bapak Abdullah yth,
Saya pikir mari kita sama-sama singkirkan dulu keyakinan kita masing-masing
jika kita mau netral, untuk membicarakan hal tersebut.
Jika bicara keyakinan mari kita bicara di Mesjid atau di gereja. Bukankah
islam mengajarkan begitu bukan?
Maaf akhirnya saya tertarik juga turut terlibat dalam diskusi yang menurut
saya ngak ada gunanya, dan mengabiskan energi yang ujung-ujungnya
gontok-gontokan dan mau menang sendiri. (Dan memang ini yang dicari oleh
orang yang membuat isu tersebut). Yang perlu kita sama-sama pahami, bahwa
cara teror, adu domba agama bukan-lah ciri khas agama itu ciri khas fasisme
(dan rekan-rekan semua sudah terjebak kedalamnya baik yang Islam maupun
Non-Islam) seperti yang diinginkan sipembuat isu tersebut.
Nazi jerman ketika membantai umat Yahudi inipun atas profokasi pemerintahan
fasis Jerman dan ujung-ujungnyapun yang berkuasa bukan juga umat Kristiani.
Baru-baru ini di palestina bersama pemimpin palestina Paus mau mengatakan
maaf sebesar-besarnya terhadap tragedi kemanusian yang terjadi pada
pertengahan abad 19 terhadap bangsa Yahudi.
Tak lama setelah itu,---Bapak Abdul yang juga warga NU--- Mantan kiayai
besar/Pemimpin besar NU Aburahman Wahid (president RI) dalam wawancara
dengan TPI mengucapkan maaf terhadap tindakan warga NU terhadap pembantai
terbesar dalam abad itu terhadap para pendukung PKI dan Sukarnois.
Untuk memperkuat nalar kita semua sebagai referensi pengamat militer
mengatakan konflik/perebutan yang dilakukan oleh militer akan mengakibatkan
korban dikalangan sipil, bukan dikalangan militer sendiri.
Kemudian saya lupa pernah membaca di DR atau di Tempo. Tetang keterlibatan
kelompok ektrim kanan (baik Islam dan kristen) yang dipergunakan oleh CIA
dalam skenario penjatuhan Sukarno. Hal ini harus dibuktikan lagi. Tetapi
yang menarik Islam dan kristen penah bersatu untuk maksud tertentu dan
dipergunakan oleh kepentingan asing. Hal inilah yang perlu rekan-rekan
pelajari tentang berkembangnya kekuatan ekstrim kanan baik islam lewat
NII-nya dan Kristen lewat Kasbulnya. Yang memperkuat ingatan kita akan
banyaknya pemberontakan Permesta Sumatra, Sulawesi dan Ambon (kok, hampir
sama ya dengan sekarang).
Jelas jika kita mau melihat, bukanlah korban yang jatuh. Jika bicara korban
aceh, papua, Ambon dll juga jatuh korban baik muslim maupun non muslim, yang
seharusnya anda analisa siapa dan mengapa bisa terjadi di tengah dunia yang
kian sempit dan mengglobal. Dimana tingkat pendidikan sudah tinggi. Mengapa
ada Dendam? Siapa yang membuat dendam itu dan kemudian meniup-niupkan dendam
tersebut? bagaimana menghapus dendam tersebut.
Bangsa ini sedang sakit, bukan saja agama yang sakit tetapi seluruh
sendi-sendi kehidupan berbangsa sedang sakit. Sakit hati dll. Dan hal ini
lebih baik memang tidak diexpost dan dibesar-besarkan (karena saya pribadi
juga tidak punya tenaga untuk menuntaskannya). Menurut bahasa Gusdur biarkan
hal ini berakhir secara alami.
Dalam ungkapan Gusdur tersebut terlihat kekesalan beliau terhadap para
ektrim, dan rakyat yang mau saja dibodohi saja. Pak Abdul, mengapa orang
sekarang ini mudah membuat isu tetapi melupakan sejarah. Bukankah kemudian
Islam juga yang dihabisi ketika Suharto berkuasa. Kasus Aceh, Lampung,
Priuk, Situbondo, Waduk Nipah Madura, dukun santet ketiga kasus terakhir
bapak Abdulah menimba umat Islam dari kalangan NU.
Hanya orang-orang yang memakai otaknya saja yang bisa menganalisa
permasalahan profokasi tersebut. Kenapa jika ada perbedaan tidak
diselesaikan dengan diskusi sesudah itu ya selesai, agamamu-agamamu agamaku
ya agamaku.
Sebenarnya memang menarik mempelajari profokasi ini dan sudah ada sejak
jaman sukarno dulu, waktu ditumpasnya DI/TII, lalu Permesa. Hanya beberapa
daerah yang warganya sudah medeka dan paham/cerdaslah yang tidak lagi
termakan proaganda tersebut.
Kita contohkan sekarang:
Usaha-usaha profokasi ini sebenarnya sudah dimulai sejak bergulirnya
reformasi sebagai data dan sebaiknya anda cari dan lengkapi sendiri.
1. Usaha peledakan Mesjid Istiqlal Jakarta (tidak memancing warga muslim di
Jakarta).
2. Peledakan Gereja di Medan tidak memancing warga kristiani di Medan.
Bagaimana WAM bisa menjelaskan dengan nalarnya dan keyakinannya itu bagi
saya bukan masalah solidaritas agama jika tujuannya politik, bapak Abdul.
Dari beberapa referensi yang saya baca dan pelajari bapak Adullah, agama
akhirnya hanya dipakai sebagai tungangan politik semata.
Dan dalam keyakinan politik yang saya pegang. Agama adalah sifatnya
Universal jadi saya tempatkan di atas (vertikal), dialah yang akan mengatur
moral kita dalam hidup sosial (horisontal) dan politik.
Tapi saya tidak menutup mata masih ada usaha beberapa kelompok dalam
masyarakat yang terus memaksakan kepentingan politiknya baik secara vertikal
dan horisontal pada ajaran agama. Bagi saya sah-sah saja asal dijalankan
secara demokratis (bukan dengan memaksa) walaupun tidak dilarang juga untuk
menyebarkannya. Kemudian mau untuk berbesar hati bersama-sama bagi yang
menganut kelompok ini. Artinya mau jujur pada diri sendiri, bahwa semua
kepentingan yang berdasarkan agama dasarnya harus moral. Jadi tidak ada lagi
tuduhan kristinisasi dan islamisasi, karena memang kedua menjalakan amanat
itu. Seperti misalnya tuduhan terhadap pembakaran DULOS. Toh kita semua
masih bisa berbesar hati untuk beribadah haji ke Makah dan bagi katolik ke
Roma dan Palistina, bagi konghucu bisa ke cina dan budha bisa ke tibet,
hindu bisa ke India, toh negara pencetus agama ini belum musnah.
Sebagai muslim seharusnya kita lebih bisa berbesar hati. Apalagi Islam di
Indonesia adalah Mayoritas mengapa harus takut dan menekan yang minoritas
(mis: dalam kasus anti Cina/budaya rasis). Jika kita selalu takut dan di
hantui rasa takut, malahan ketakutan itu akan menghampiri kita. Dalam
sejarahnya agama apapun dan ilmu sosial apapun mengajarkan bahwa sebuah
keyakinan/kelompok dari mulai Adam dan Hawa membuktikan apabila ada tekanan
ia akan makin membesar dan menguat. Ok sekian saja semoga kita semua
bukanlah orang-orang
yang merugi.
Pak Andullah maaf terlalu panjang
tulisan ini. semoga anda dan keluarga
dilindungi oleh Tuhan yme.
Amieen.
----- Original Message -----
From: Abdullah Hasan <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: 23 Nopember 2000 19:47
Subject: [Kuli Tinta] Siri-Sori-Siri-Sori- Uneg-Uneg-Sorry
> From: "Ediwanto" <[EMAIL PROTECTED]>
> From: Ali Martono<[EMAIL PROTECTED]>
> From: y@p <[EMAIL PROTECTED]> GIGIH NUSANTARA <[EMAIL PROTECTED]>
> From: "��" <[EMAIL PROTECTED]> From: y@p <[EMAIL PROTECTED]>
> From: y@p @telkom.net > From: Ali Martono <[EMAIL PROTECTED]>
> From: "Brahmanta" <[EMAIL PROTECTED]> From: y@p @telkom.net >
> From: "Slax Rakumanan" <[EMAIL PROTECTED]> From: y@p <[EMAIL PROTECTED]>
> From: "��" <[EMAIL PROTECTED]> From: Ali Martono
> <[EMAIL PROTECTED]>
> ( dan lain-lain , dan lain-lain).
> ==============================================================
> Saya kira kira kita semua sudah tahu siapa yang mulai bikin gara-gara main
> sabet pedang disana. Saya sama sekali nggak keberatan untuk mengingatkan
> yang lupa : Kelompok Kristen membantai kelompok Muslim yang sedang
> sembahyang Idul-Fitri.
>
> Untuk membuat perdamaian ( ini menurut pendapat saya ) diperlukan
keadilan,
> paling tidak keadilan nurani : Pihak yang bikin gara-gara itu dengan tulus
> ngaku salah. Yang seperti itu dilakukan orang-orang di Afrika Selatan
sana.
> Setelah itu diperlukan kelapangan hati dan saling-memaafkan dan saling
> mengubur dendam.
>
> Bagaimana bisa ada damai kalau yang diributkan cuma Laskar Jihad. Suatu
> kreatifitas amat kepepet dari pihak Muslim setelah ribuan anak-anaknya
> dibantai kaya kecoa. Di Poso umpamanya ?
>
> Ngomong-ngomong apakah ada indikasi pengakuan seperti itu dari pihak
> Kristen? Diluar itu , kayanya kok males ngomong soal itu. Nurut Gus Dur
> saja: Biarkan "kreativitas" kedua belah pihak berkembang......(?)
>
> Ataukah saya memang lupa bahwa pihak Islam adalah yang membuat
> gara-gara dengan pembantaian masal pada ummat Kristen di Ambon sana ?
> Saya sama sekali tidak keberatan buat diingatkan....
>
> =========================================================
> Salam,
> Kawan-Kawan Sekalian,
> Bila seseorang punya uneg-uneg seperti diatas itu, sebaiknya bagaimana,
ya?
> Katakanlah di Milis ini. Di bungkus rapat-rapat didalam dada, atau
> dimasukkan dalam lemari saja. Atau dikeluarkan saja nekad-nekadan. Dengan
> dikeluarkan apa ada efek positifnya ? Yang terang pasti digebugi
ramai-ramai
> seperti WAM sobat seiman saya yang teteg itu. Dan dianggap miring sedikit
> karena maju tanpa konco yang cukup ? Apakah manusia lain yang membaca itu
,
> umpamanya yang beragama Kristen, bisa mendapat suatu wawasan lain
umpamanya
> ? Atau cuma memperburuk situasi, memperkuat stereotip menyesatkan bahwa
> Muslim beneran itu mayoritasnya punya adab dibawah standar? Atau
masa-bodo,
> biarkan semuanya terjadi saja begitu saja. Biarkanlah kenyataan mengajari
> kita semua. Bag-Bug-Bag-Bug-Bag-Bug. Pastilah semua ada akhirnya........
>
> Kengganan berkomunikasi , keengganan mengeluarkan isihati , seringkali
saya
> rasakan. Hal itu dengan lugu tapi menarik sekali penah diungkapkan oleh
Mas
> Gigih dulu: Milis ini tidak bisa mengubah apa-apa. Tapi, kalau semuanya
> tetap disimpan dalam hati, apakah kita pernah bisa saling mengerti ?
Secuil
> ideal seperti itulah yang selalu saja mendorong saya untuk terus bicara
> apa-adanya. Bicara bukan yang harum macam Y@p yang santun itu, tapi sering
> pedas dan pahit seperti diatas.
>
> Tapi apakah mungkin ada gunanya ? Apakah kita sudah siap saling kenal ?
> Apakah kita siap melihat diri kita dan diri lain dari bermacam-macam arah
?
>
> Wassalam.
> Abdullah Hasan.
>
>
>
>
>
>
>
>
> >>>> 2.5 Mbps InternetShop >> InternetZone << Margonda Raya 340 <<<<
> ->Kirim bunga ke-14 kota di Indonesia, http://www.indokado.com
> Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
> Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
> Keluar: [EMAIL PROTECTED]
>
> Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>>>> 2.5 Mbps InternetShop >> InternetZone << Margonda Raya 340 <<<<
->Kirim bunga ke-14 kota di Indonesia, http://www.indokado.com
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!