From: "Brahmanta" <[EMAIL PROTECTED]>
. Mudah-mudahan dengan rekonsiliasi kita dapat mencegah eker-ekeran yang
tidak berguna dan segera mengatasi masalah bangsa yang penting secara
bersama-sama.
Atau adakah usaha yang lebih baik dari rekonsiliasi/perdamaian? barangkali
ditingkatkan
saja eker-ekeran selama ini?
=====================================================
Salam,
Anda benar sekali , eker-ekeran asal eker-ekeran adalah tidak berguna dan
harus dicegah.

Tapi mudah-mudahan kita pun bisa ingat , tidak semua eker-ekeran itu tidak
berguna. Eker-ekeran antara pembela dan jaksa penuntut adalah eker-ekeran
sehat. Yang satu tugasnya mencari kesalahan, yang lain tugasnya cuma
menunjukkan betapa tidak berdosanya yang dituduh itu. Dua-duanya diciptakan
oleh adab budaya. Dan dibayar mahal.

Apa yang bisa anda katakan kalau seseorang menghimbau agar eker-ekeran
semacam itu dihapuskan saja. Sebaiknya pembela dan penuntut umum
rekonsiliasi saja!? Apakah anda tidak mengelus dada ?

Dalam konsep peradaban yang modern pun telah kita kenal sistim trias
politika. Disana ada parlemen, disini ada eksekutif. Jaman sekarang ada pers
pula.  Tugas parlemen antara lain untuk selalu kritis pada pemerintahan (
entah kalau sistim pancasila, apakah ada perbedaan?, mohon pencerahan).
Pada sisi mana kitacondong, kita tidak bisa bilang bahwa seorang pembela
atau jaksa adalah seorang malaikat yang tidak melakukan kesalahan atau
kecurangan. Eker-ekeran dibudayakan untuk mengungkap kebenaran sejauh
mungkin. Kemudian ada yang namanya Hakim atau Juri.

Demikian pula bisa dilihat dimana-mana, terutama yang demokrasinya sudah
lebih matang.  Budaya eker-ekeran antara parlemen dan pemerintahan
dibudayakan. Kita pun tentunya tidak bisa buru-buru bilang sesuatu pihak itu
adalah malaikat. Justru ada baiknya kita melihat semuanya sebagai
setan-setan. Paling sedikit memandang mereka sebagai manusia-manusia lemah
biasa. Yang terikat pada kepentingan sempit mereka masing-masing. Justru
disitulah mungkin rahasianya!, pada eker-ekeran mereka yang mungkin jelek
dilihat, kita mengharap kebenaran dapat terungkap sejauh mungkin.

Mudah-mudahan anda semua bisa melihat perspektif saya dengan lebih jelas.
Adalah sulit bila seorang yang dituduh maling punya siasat jahat.
Rekonsiliasi. Rekonsiliasi yang biasa memang sesuai dengan agama.
Yang jahat juga ada. Keras pada tempatnya, pada kriminal adalah
malaikat. Tapi Lemah lembut pada kriminal adalah Setan.
( Kata Asmuni : Syaiton!)

Mudah-mudah ada paham kenapa saya puyeng kemarin.
Kanak-kanak yang digunakan dengan memelas menghimbau : Sudahlah..
apakah pak jaksa dan pak pembela tidak bisa berdamai saja... Bukankah itu
yang dianjurkan agama mana saja ? Masyaallah !....

Wassalam.
Abdullah Hasan.

( Note: ada kanak-kanak yang ngomong begini:
"hanya yang buta nurani saja yang tidak mau eker-ekeran dihentikan"
jawab saya: " Nak! , nurani itu apa sih, nak? Belajarlah membaca dengan
baik, dengarkan petuah guru dan orang tua, kemudian bacalah dunia ini.
Niscaya kamu akan punya nurani yang terasah baik. Tidak yang tumpul
yang mudah ditipu orang jahat...! )













................Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia...............
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

>>>> 2.5 Mbps InternetShop >> InternetZone << Margonda Raya 340 <<<<
->Cake, parcel lebaran & bunga2 natal? Di sini, http://www.indokado.com 















Kirim email ke