Jadi makin seru nich, kayak perang dingin blok barat ama blok timur,
heheheh :P

Tapi omong2x, apa enggak sebaiknya kita semua saling mempelajari
kelemahan sistem itu sendiri dan secara objektif mengemukakan kelemahan
itu. Soalnya kalau soal keunggulannya, keduanya antara qmail dan postfix
dipublikasikan dengan sejuta keunggulan sesuai dengan keinginan
pengembangnya sehingga para pemerhati tertarik untuk mencoba dan
mengadopsinya.

Misalnya mas Asfik yang pakar dengan Postfix nya tentu lebih tahu apa
kelemahan dari mta ini, begitu juga dengan Pak Adi yang enggak kalah
pakarnya dengan seluk beluk qmail pasti akan lebih banyak mengetahui
kelemahan dari qmail..

Soalnya menurut hemat saya, kalau saya seorang yang bersuku betawi
kemudian saya mengungkapkan sebuah sisi buruk dari kehidupan budaya
betawi, ini bisa disebut dengan kritik membangun atau seminimnya
dianggap guyon.

Tapi kalau saya seorang yang bersuku betawi, dan mencoba untuk
mengungkapkan sisi buruk dari sebuah budaya batak, pasti orang2x yang
bersuku batak menganggap ini sebuah tantangan perang atau seminimnya
dianggap sebagai sebuah pelecehan.

Kembali ke masalah di atas, saya yakin kalau kita bersikap rasional dan
menyampingkan rasa superior kita terhadap masalah ini, kita mungkin bisa
temukan kesimpulan yang terbaik sehingga para rekan milist bisa melihat
dan membandingkan yang mana yang akan mereka adopsi. 

Lagian hal ini tak ubahnya dengan masalah sholat subuh dengan
menggunakan do'a qunut atau tanpa do'a qunut. toh keduanya sah-sah saja
asalkan syarat syah sholatnya ditegakkan.


-- 
Best Regards,




( David J. )
**********************************************************
*  " Sesungguhnya aku tiada akan pernah tahu siapa aku " *  
**********************************************************



-- 
Berhenti langganan: [EMAIL PROTECTED]
Arsip dan info: http://linux.or.id/milis.php

Kirim email ke