> Kalo dari sudut pandang saya (mungkin karena kelamaan tertindas). UU dan
> Peraturan benar, setiap produk yang ditawarkan harus ada yang tanggung
> jawab. Kalau pasal ini diubah demi linux, maka bisa berantakan proses
> pengadaan. Para Aktifis Linux jangan asal meradang, menghujat. Mari kita
> periksa diri kita masing2 kata kang Ebiet "... tengoklah kedalam sebelum
> bicara, bersihkan debu yang masih melekat".

yah lucu juga ada AOSI, tapi vendor yang trusted movement untuk
support di linux gak ada, di java sih banyak (terutama partner
weblogic, mereka pegang telco, bank, gak ada trust, mereka gak mau, we
call it enterprise)

saya sendiri mengakui linux support yang trusted itu sepertinya gak ada

masih terkesan main2, termasuk support linux di perusahaan saya juga
masih kategori "main-main"

mengapa?

1. support, team, itu identik dengan investment,
2. support dan team identik dengan branding,promotion


coba lihat majalah infolinux (sorry pak rus), yang memberikan support
ada kharisma hanya RedHat dari CTI kan :)
tapi.. ini sales, dan RedHat US$ 1500..

saya berharap blankon bisa buat hal seperti ini sebelum teriak ke KPPU.

opensource support berbasis perusahaan yang trusted ini kerjana berat,
saya saja buat yang opensource support dg Java, yang barang sendiri,
kharismanya jauh sama yang luar, jauh jauh jauh sekali, seperti teri
dan kebo :) haha

salah satu trusted movement adalah Conference Business... tapi kalau
acara seperti IGOS Summit, supportnya kuran kharismatik..


> Kalaupun tender itu tidak menyebut "merk" dan siapapun maju dengan
> pre-installed Linux OS dan tidak ada endorsement, maka akan diskualifikasi
> (kalah demi Hukum).

betul mbah sts. :)

trust merek kita kurang terpelihara,

hasil studi dan diskusi dg brand consultant kita, brand java saja,
naik bukan karena opensource movementnya tetapi karena brand global
yang propietary.

dan kita tahu oracle, ibm, dan sun (terkecil) punya market cap gila
gilaan, oracle 150billion US$, IBM sekita US160 bilion, sun aja paling
butut karena krisis energi sekitar 8 billion, ini diluar SAP
netweaver.. mereka semua java, tapi propietary semua ....

bandingkan dengan redhat yang 4 billion dan Novel yang 2 billion.

dan Jboss ynag opensource nebeng di market cap RedHat, sebab Redhat
kan juga like it or now Java company.

> Saya selalu bilang saat ini (sepanjang pengetahuan saya) yang siap secara
> infrastruktur cuma BlankOn yg punya rumah dan pemilik di Indonesia. Mengurus
> Paten, Hak Cipta, Legalisasi SII, Label Halal membutuhkan banyak biaya.


harusnya YPLi

dan roadshow linux harusnya juga jadi ajang promosi blankon

ini akan rubah YPLI jadi lebih commercial, tetapi secara hukum kan
Yayasan harus audit public tahunan, jadi masih ok lah.. jangan terlalu
nasionalis



saya tunggu gerakannya, saya sendiri disisi opensource yang lain , non
linux, kalau ada pengalaman yang menarik saya tunggu


NB: ada lelucon baru, orang opensource di indo yang teriak opensource,
punya barang opensource gak .. kalau pake barang orang, saya rasa
sebaiknya jaman sekarang jangan sebut dirinya opensource company
deh... gak ada product opensource jangan sebut opensource company,
kalau trader atau calo implementasi, alias implementasi barang orang,
dan gak ada team core didalamnya, sebaiknya bilang aja pengembira ..
sebab reposisi ini memperkeruh citra opensource yang buruk

F

-- 
Berhenti langganan: [EMAIL PROTECTED]
Arsip dan info: http://linux.or.id/milis

Kirim email ke