> Kalau hanya regulasi, tanpa didukung dengan standar pelaksanaan di setiap 
> kementrian, Anda sudah lihat hasilnya. IMHO, kalau di level pemerintah, 
> harusnya tidak mewajibkan satu produk, tapi merujuk pada standar. Misalnya 
> dokumen, harus sesuai standar ISO (odf), source code sistem operasi harus 
> bisa diakses dan seterusnya. Sehingga semua Linux, bahkan mungkin varian open 
> source lainnya bisa ikut berkompetisi.
Bener pak, bener sekali, bisa ditambahin solusinya, dan bener sampeyan
kalau dalam pemerintahan tidak bisa merujuk pada suatu produk, tetapi
standar sehingga DPNS(Di Pikiran Nguawur Saya), ada standart berikut.
Kementerian Ristek, Kementerian Pendidikan Nasional, Kementerian
Komunikasi dan Informasi, Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara,
Kementerian Hukum dan HAM. Diwajibkan Pakai Sistem Operasi Selain
legal dan sumber terbuka, juga harus menggambarkan cirikhas Bangsa
Indonesia Yaitu Gotong royong serta Sistem Operasi yang memiliki
penterjemahan Bahasa Indonesia yang lebih baik. Serta menjadi penutup
dari yang pengguna itu, dari yang tidak bisa apa-apa dan belum
sadar(Blank) menjadi pengguna yang bisa memanfaatkan perangkat ICT dan
sadar(On).

beres. Karena kok kebetulan, karena BlankOn bisa ada karena gotong
royong, penterjemahan bahasa indonesia di BlankOn lebih baik, karena
proyek penterjemahan sudah berjalan[0]. Solusi di atas tidak
menyebutkan merk. Akhirnya.


> Berapa pengguna BlankOn di tempat Anda?
wah, yang tergabung di komunitas saja 400 an manusia pak(sidoarjo
saja) dan ketika kopdar 20 an manusia, njeketek(ternyata - pen.) pakai
blankon semua, eniwe belum kita data pak, tapi kalau mau informasi
lebih lanjut yang sudah terdata, bisa disini pak[1], dan disini[2],
memang kayaknya oleh pengembang sedang di studi kasus.[3].

> 20 juta per tahun untuk membayar apa? Server dan hosting? Apakah pengembang 
> di bayar? Kalau pengembang tidak dibayar, artinya ada biaya tersembunyi, 
> yakni untuk membayar pengembang, yang dibayar sendiri oleh pengembang yang 
> bersangkutan. Atau dibayar pihak lain. Jika Anda pegawai negeri dan ngoprek 
> untuk BlankOn saat jam kerja, artinya biaya pengembangan yang Anda lakukan 
> dibayar oleh negara.

Untuk masalah ini detailnya, sedang saya tanyaken juga ke Pak
Rusmanto, karena saya dapet info ini, dari slentingan kicauan burung
kecil(tidak akurat), lha monggo kalau bapak sedikit kurang sabar(kalau
sudah sabar, saya mohon maap), silahkan kontak ke beliau pak. Kalau
teman chatting tadi malam, bilangnya 20 jutaan itu kemungkinan untuk
biaya menyelenggarakan konferensi tiap tahun. Sekali lagi
MKJSSS(Mohon Koreksi Jika Saya Salah Sekali), data akurat belum saya
pegang pak. Dan setahu saya pengembang itu dibayar 2M pak(Makasih
Mas). Lha pengembang yang ngoprek saat jam kerja dan PNS (Pegawai
Negeri Super, kata pak mario teguh) saya kurang setuju juga, tapi
setidaknya kawan super kita itu lebih baik daripada DPR(Banggar
maksudnya), yang melakukan aksi ngacir, saat mau diperiksa KPK. Memang
saya akui, di sektor lain, saya juga banyak membuat negara
mengeluarkan biaya, yaitu, saya belum mampu pakai pertamax tiap hari.

> Lagi pula, bukan murah mahalnya pengembangan yang jadi masalah, namun 
> kemampuan produk tersebut untuk memberikan profit/benefit yang cukup untuk 
> biaya pengembangan berkelanjutan.
Lha ini kayaknya para pengembang BlankOn sudah terpikirkan sejak lama
pak. Karena saya kok nemu link ini[4], SIBA(sebagai informasi bagi
anda), saya menemukan Indikator keberhasilan penggunaan BlankOn di
laman web tersebut.

Mohon maaf jika ada yang kesalahan.

salam hangat dan super,
xunilresu
aslibukansupermen

Link:
[0]: http://i15n.blankonlinux.or.id/
[1]: http://dev.blankonlinux.or.id/wiki/Pemasaran/StudiKasus/DaftarPengguna
[2]: http://malang.di.blankon.in/wiki/index.php/Daftar_Anggota_PPBM
[3]: http://dev.blankonlinux.or.id/wiki/Pemasaran
[4]: http://dev.blankonlinux.or.id/wiki/BlankOn
-- 
"jealousy to the people who are so easy using windows, yeah i only can
use linux dan itu BlankOn."

--
Berhenti langganan: [email protected]
Arsip dan info: http://linux.or.id/milis

Kirim email ke