On Sep 28, 2011, at 10:40 AM, princeofgiri wrote: > > Untuk biaya, sepertinya pak Sofyan lebih tau dari pada pak Xunil > karena pak Sofyan termasuk manusia generasi pertama BlankOn. (@Pak > Sofyan : kapan mau bantuin blankon lagi pak? apa harus nunggu balik > ke .rpm?) >
hehe enggak lah.. dulu pake rpm karena secara pemaketan dan integrasi ke installernya, lebih mature daripada versi .deb. Sekarang mungkin beda. Cari praktisnya aja. Toh salah satu pengembang waktu itu, menggunakan gentoo, dan bikin paket via qemu. Nggak jadi masalah tentang hal ini. > Setahu saya, nilai 20jt-an itu sumbangan sponsor. Dana sebenarnya > jauh lebih dari itu. Pakai ilmu akal-akalan, hitung biaya pembelian > beberapa server, colocation/bandwith, biaya promo (walau sedikit), > biaya riset, dsb. > > Selama ini beberapa pengembang yang membayar pengembang sendiri, > beberapa didukung oleh kantor tempat bekerja para pengembang. Beberapa > server juga dibeli dari uang jajan para pengembang sendiri. Aneh tapi > nyata. > Menurut saya angka ini harus dihitung secara benar, jika BlankOn ingin bertahan tanpa sumbangan dan donasi. Ini bukan hal yang ajaib, toh kernel juga dikembangkan dengan cara seperti itu dan bertahan 17 tahunan. Donasinya tetap jalan karena banyak pihak punya kepentingan. Saya sebenarnya ingin menyampaikan ini di blankopdar pertama lalu, sayang banget saya berhalangan. Mungkin di blankopdar berikutnya, ada jodoh untuk ketemu. Salam Ahmad Sofyan -- Berhenti langganan: [email protected] Arsip dan info: http://linux.or.id/milis

