bukannya Muhammad Bob Hasan itu beretnis Tionghoa? ahh.. buat opini tapi tak akurat.. justru dengan demikian disebut GOSIP saja tak pantas..
-ay- On 1/22/07, jual gosip <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Kesimpulan anda tidak salah! Tapi ingat, ada hal-hal yang membuat orang China sukses namun dengan cara-cara yang tidak benar. Saya tidak mau berpolemik dan berpanjang lebar dalam menanggapi masalah ini, hanya ingin memberikan beberapa contoh sederhana. banyak pengusaha China yang membobol bank. Mereka bersedia hanya menerima 50-60 persen dari total kredit yang diajukan sedangkan 40-50 persennya lagi diberikan kepada oknum-oknum bank. Proyek di mark-up, setelah di macetkan mereka kabur entah kemana. Yang di penjara bankir yang menerima uang suap. saya benci koruptor. Tapi saya menyatakan salut dan mengacungkan jempol kepada Bob Hasan, Probosutedjo, Beddu Amang, Rahardi Ramelan yang bersedia masuk penjara untuk menebus kelakukannya. tapi pengusaha China yang korup? Nggak ada yang masuk penjara. Dia pilih nyuap penegak hukum atau kabur ke luar negeri... persis seperti anjing dibawa penggebug. Makanya yang banyak di umumkan oleh Kejaksaan Agung sebagian besar pengusaha China.... Sekali lagi ini bukan rasis tapi fakta. Demikian tanggapannya Jual_Gosip Wartawan Yang Tidak Pernah Bikin Berita Gosip --- ary212ary <[EMAIL PROTECTED] <ary212ary%40yahoo.com>> wrote: > Kesuksesan Keturunan Tionghoa > > Saya melihat kesuksesan Chinese dengan berangkat > dari realitas rata2 > keturunan Tionghoa di Indonesia. Dan bahkan, harus > diakui, dalam > kemajuan bangsa ini ada banyak sumbangsih para > keturunan Tionghoa- > Indonesia itu di dalamnya. Lalu, yang menjadi > faktor2 penyebab > kondisi mereka sekarang (yang rata2 sukses dan > makmur) itu apakah: > > 1. Politik diskriminasi dan apartheid warisan > penjajah, sehingga > mereka tak punya pilihan nafkah hidup (dimana mereka > tetap harus > menjalaninya untuk tetap dapat bertahan hidup) > selain berdagang dan > usaha mandiri lainnya. Ditambah selain itu, setelah > Indonesia > merdeka, mereka menjadi objek perahan namun tetap > menjadi warga > negara pinggiran (secara politik, sosial, budaya, > agama, dll, tapi > tidak secara ekonomi). Apakah karena kondisi2 > objektif (yang membuat > mereka mau tak mau hidup lebih keras dan kepepet > sehingga > menyiasatinya dengan hidup lebih cerdas dan lebih > tekun) itu mental > tangguh mereka terbentuk (dan terkenal) hingga kini? > Karena saya tak > melihat kondisi politik dan sosial yang > menguntungkan bagi keturunan > Tionghoa ini dalam mengembangkan hak2 kewargaan > mereka (dan karena > itu partisipasi mereka dalam kehidupan bernegara dan > bermasyarakat) > walau kondisi sospol di masa kini sudah lebih > terbuka, namun belumlah > cukup terbuka yang membuat posisi mereka setara > tanpa syarat terhadap > WNI lain. Tapi mungkinkah kondisi keterdesakan ini > pula yang membuat > mereka justru sanggup menyiasatinya dengan kreatif > dan akhirnya tak > hanya survive tapi juga sukses (di Indonesia)? > > > 2. Tradisi dan kultur intern mereka yang mengajarkan > keuletan dalam > bekerja (dimana hal ini juga menjadi salah satu > tekanan dalam etika > filsuf2 Cina)? Dimana tradisi dan kultur itu telah > terhayati erat > menjadi spirit/jiwa dan ajaran yang sudah terpatri > inheren hingga > menjadi identitas (Chinese=pekerja keras), seperti > halnya anggapan > ttg orang Jawa yang menekankan pengendalian diri, > sehingga dicitrakan > berjiwa halus dan menyukai serta terampil mengolah > seni. > Bagaimanapun, stigma2 dan stereotype2 semacam tetap > diperhatikan > dalam pertimbangan2 antropologis kebudayaan - > karena, dalam realitas > kebudayaan, mengandung kebenaran2 dan logika2nya > tersendiri, bukan? > > > 3. Faktor eksternal-internasional, yaitu momentum > kebangkitan Negara > Cina sebagai potensial adidaya masa depan; di mana, > menurut banyak > ulasan di internet dan media lainnya, salah satu > faktor pendorongnya > ialah kultur dan kepercayaan - sesuatu yang kini > diperhitungkan > sebagai variabel kemajuan, padahal di era > 50'an-70'an dicemooh begitu > rupa? Padahal, lihat saja, Jepang maju tanpa > mengorbankan kepercayaan > tradisionalnya (Shinto), China diyakini dengan etika > Taoisme dan > Konfusianismenya, sedangkan India dengan tradisi > Hindunya yang memang > sungguh kaya itu. > PS: Sedangkan, kalaupun ini boleh turut dimasukkan > hitungan,kapitalisme dengan etika protestantismenya. > > Bagaimana pendapat teman2 sekalian di milis ini. > > Salam dan Terimakasih. > > __________________________________________________________ Sucker-punch spam with award-winning protection. Try the free Yahoo! Mail Beta. http://advision.webevents.yahoo.com/mailbeta/features_spam.html
-- ============================================================= Perjuangan Melawan Kekuasaan adalah Perjuangan Ingatan Melawan Lupa -Milan Kundera- =============================================================
