Betul, membicarakan budaya lebih bermanfaat ketimbang membicarakan 
etnik. Karenanya bukan kebetulan bila saya selalu mengumandangkan 
Soempah Pemoeda II "Satu Nusa, Satu Bangsa, Satu BUDAYA, Indonesia". 
Budaya Indonesia yang sekarang (gontok-gontokan, jam karet, korupsi) 
selayaknya diganti dengan budaya silaturakhmi, disiplin dan fatsun.

Judul email ini "Kesuksesan Keturunan Tionghoa" berciri etnis, tapi 
judul ini bukan saya yang tulis. Namun bahwasanya sebuah etnis 
memiliki ciri budaya tersendiri, itu juga betul, dan ciri orang 
Tionghoa adalah ber-etos kerja jempolan. Orang Tionghoa di Belanda 
berasal dari segala penjuru dunia, ada yang datang langsung dari 
China, tapi ada juga yang lahir di Malaysia, Philipina, Inggeris 
atau dari Indonesia seperti saya. Meski pun kami rata-rata tidak 
bisa lagi berbahasa China, namun ada ciri khas yang saya rasakan 
sama, yaitu ETOS KERJA KERAS dan kemauan/kemampuan mengintegrasikan 
dirinya dengan budaya Belanda. Tentu saja ada orang Tionghoa yang 
memble (seperti saya, hehe) atau menjadi preman, dalam sebuah 
keranjang apel 'kan selalu ada 1 @ 2 buah yang busuk, bukan? Itu 
normal saja.

Mengenai suku Aceh di Indonesia kelihatannya banyak dari anda yang 
antipati ya, mengapa? Bukankah suku Aceh orang Indonesia juga? 
Bahwasanya orang Aceh jagoan mempertahankan teritorialnya, itu 
terbukti dalam sejarah melawan kolonial Belanda mau pun ketika 
melawan TNI. Selama 30 tahun, 15.000 anggota TNI dengan persenjataan 
komplit tidak mampu menaklukkan GAM yang cuma punya 5000 personil 
dan hanya 800 pucuk senjata tambal-sulam. Bila jabatan presiden RI 
terlalu mencolok, minimal jabatan panglima TNI/Menhankam layak 
dipercayakan kepada mantan panglima GAM. (Mudah-mudahan TNI melihat 
tulisan saya ini sebagai kritik yang membangun).

Salam hangat, Danny Lim, Nederland

--- In [email protected], ariel chairil hudha 
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Untuk melihat jalan kesuksesan itu bukan hanya dari kacamata 
etnik,  bisa di katakan Etnik Tionghoa merupakan Etnik yang sukses 
di  Indonesia, namun apakah itu karena etnik? kalo menurut saya itu 
bukan  pengaruh etnik tetapi disebabkan atas kegigihannya, Suku jawa 
juga  gigih bekerja, namun suku jawa kebanyak bekerja bukan hanya 
untuk  dirinya, tetapi untuk menghidupi keluarganya yang besar dan 
banyak. 
>   maka untuk itu Etnik dan Etos tidak ada kaitan, apalagi kini, 
bukan  hanya orang Indonesia yang menjadi preman dan pemalas, tetapi 
orang  tionghoa juga menjadi preman malah lebih sadis lagi, seperti 
beberapa  preman yang ada di Medan, mereka lebih banyak berbisnis 
ala ke  maksiatan, jadi tidak ada kata satu pun etnik itu ada 
kaitannya untuk  melihat etos kerja seseorang di dewasa ini.
>   Saudara Lim benar, Etnik Tionghoa dan India itu gigih, tetapi 
bukan  secara keseluruhan dan bukan pula orang Indonesia itu tidak 
gigih dan  hanya mau jadi preman, mungkin itu bisa digaris bawahi, 
orang Indonesia  yang mana, kalau menurut saya orang Indonesia yang 
serakah dan males  bekerja saja yang mau jadi preman, tetapi ingat 
bukan orang Indonesia  Secara keseluruhan, Anda coba melihatnya 
hingga ke pelosok desa, ok  Saudara Lim. 
>   Tahun lalu saya ke Aceh, yang saya dapati bukan kebanyakan orang 
Aceh  itu rajin, tetapi malah sebaliknya mereka lebih mengharapkan 
bantuan  datang. jadi saya harapkan saudara Lim lihat secara dekat, 
tentang  bagaimana Ratusan Etnik yang ada di Indonesia ini bekerja, 
ok Saudara  lim
>   
>   By
>   Ariel
>   Medan
>   
> 
> fery zidane <[EMAIL PROTECTED]> 
wrote:                                                  
> kata siapa etos kerja bangsa Indonesia kurang..??
>   klo  kita ke desa2 coba deh liat para petani yg sejak sehabis 
subuh sudang  pergi ke sawah dan pulang sore hari. kadang2 sehabis 
pulang nyawah pun  mereka diantaranya ada yg bekerja atau membuat 
kerajinan sebagai  tambahan. begitu juga dg nelayan. padahal 
kerjaan2 mereka adalah boleh  dikatakan kerjaan2 yg halal dan jauh 
dari KKN, tapi justru bidang  kerjaan mereka yg sering diobok2 
bahkan oleh pemerintahnya  sendiri...sungguh kasihan. mereka 
dipermainkan dg harga pupuk dan jual  gabah.
>   jadi dimana letaknya klo bangsa ini etos kerjanya  sangat 
rendah...sebagai contoh, saya (bukannya mau memamerkan diri),  
terbiasa dg kerjaan banyak dan saya biasanya berhenti kerja antara 
jam  2 pagi atau bahkan jam 4 pagi, padahal jam 7.30 nya sdh hrs 
kerja  lagi...jadi etos kerja bangsa kita ga kalah dg bangsa lain 
spt japang  dan korea yg katanya punya rata2 jam kerja paling tinggi 
di dunia.
>   dari mana dasarnya   saudara Lim mengatakan bahwa klo negara ini 
diserahkan atau diurus oleh orang aceh....maka akan beres.
> 
> Danny Lim <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>       Bila anda ke Pasar Pagi di Jakarta, anda akan melihat 
perdagangan di 
> sana dikuasai oleh orang Tionghoa. Ada satu bangsa lagi yang mampu 
> survive di Pasar Pagi di tengah-tengah "keganasan" etos kerja 
orang 
> Tionghoa yang seperti kuda, yaitu bangsa India. Sedangkan bangsa 
> Indonesia sendiri hanya menjadi kuli atau paling banter preman 
yang 
> menjaga keamanan.
> 
> Di   Indonesia ada sukubangsa yang top of the tops, dijamin tidak 
> bakal kalah mutunya dibanding orang Tionghoa dan India, yaitu 
orang 
> Aceh. Kolonial Belanda tidak pernah mampu menaklukkan Aceh padahal 
> seluruh Hindia-Belanda bisa dipecundangi selama 350 tahun. So .... 
> berikan tampuk kepemimpinan RI kepada orang Aceh, maka teritorial 
> NKRI akan terjaga aman man man man. Kebebasan beragama akan 
terjamin 
> min min min. Ekonomi Indonesia akan mananjak jak jak jak.
> 
> Selain melihat yang tidak dimilikinya, orang Indonesia juga wajib 
> melihat apa yang dimilikinya donk deh sih tuh nih yee. Tinggalkan 
> prinsip "puyuh di tangan dilepaskan, burung garuda di langit 
> diimpikan." Sukses ya.
> 
> Salam hangat, Danny Lim, Nederland
> 
> --- In [email protected], "ary212ary" <ary212ary@> wrote:
> >
> > Kesuksesan Keturunan Tionghoa
> > 
> > Saya melihat kesuksesan   Chinese dengan berangkat dari realitas 
> rata2 
> > keturunan Tionghoa di Indonesia. Dan bahkan, harus diakui, dalam 
> > kemajuan bangsa ini ada banyak sumbangsih para keturunan 
Tionghoa- 
> > Indonesia itu di dalamnya. Lalu, yang menjadi faktor2 penyebab 
> > kondisi mereka sekarang (yang rata2 sukses dan makmur) itu 
apakah:
> > 
> > 1. Politik diskriminasi dan apartheid warisan penjajah, sehingga 
> > mereka tak punya pilihan nafkah hidup (dimana mereka tetap harus 
> > menjalaninya untuk tetap dapat bertahan hidup) selain berdagang 
> dan 
> > usaha mandiri lainnya. Ditambah selain itu, setelah Indonesia 
> > merdeka, mereka menjadi objek perahan namun tetap menjadi warga 
> > negara pinggiran (secara politik, sosial, budaya, agama, dll, 
tapi 
> > tidak secara ekonomi). Apakah karena kondisi2 objektif (yang 
> membuat 
> > mereka mau tak mau hidup lebih keras dan kepepet sehingga 
> > menyiasatinya dengan   hidup lebih cerdas dan lebih tekun) itu 
> mental 
> > tangguh mereka terbentuk (dan terkenal) hingga kini? Karena saya 
> tak 
> > melihat kondisi politik dan sosial yang menguntungkan bagi 
> keturunan 
> > Tionghoa ini dalam mengembangkan hak2 kewargaan mereka (dan 
karena 
> > itu partisipasi mereka dalam kehidupan bernegara dan 
> bermasyarakat) 
> > walau kondisi sospol di masa kini sudah lebih terbuka, namun 
> belumlah 
> > cukup terbuka yang membuat posisi mereka setara tanpa syarat 
> terhadap 
> > WNI lain. Tapi mungkinkah kondisi keterdesakan ini pula yang 
> membuat 
> > mereka justru sanggup menyiasatinya dengan kreatif dan akhirnya 
> tak 
> > hanya survive tapi juga sukses (di Indonesia)?
> > 
> > 
> > 2. Tradisi dan kultur intern mereka yang mengajarkan keuletan 
> dalam 
> > bekerja (dimana hal ini juga menjadi salah satu tekanan dalam 
> etika 
> > filsuf2 Cina)? Dimana tradisi dan kultur   itu telah terhayati 
erat 
> > menjadi spirit/jiwa dan ajaran yang sudah terpatri inheren 
hingga 
> > menjadi identitas (Chinese=pekerja keras), seperti halnya 
anggapan 
> > ttg orang Jawa yang menekankan pengendalian diri, sehingga 
> dicitrakan 
> > berjiwa halus dan menyukai serta terampil mengolah seni. 
> > Bagaimanapun, stigma2 dan stereotype2 semacam tetap diperhatikan 
> > dalam pertimbangan2 antropologis kebudayaan - karena, dalam 
> realitas 
> > kebudayaan, mengandung kebenaran2 dan logika2nya tersendiri, 
> bukan? 
> > 
> > 
> > 3. Faktor eksternal-internasional, yaitu momentum kebangkitan 
> Negara 
> > Cina sebagai potensial adidaya masa depan; di mana, menurut 
banyak 
> > ulasan di internet dan media lainnya, salah satu faktor 
> pendorongnya 
> > ialah kultur dan kepercayaan - sesuatu yang kini diperhitungkan 
> > sebagai variabel kemajuan, padahal di era 50'an-70'an dicemooh 
> begitu   
> > rupa? Padahal, lihat saja, Jepang maju tanpa mengorbankan 
> kepercayaan 
> > tradisionalnya (Shinto), China diyakini dengan etika Taoisme dan 
> > Konfusianismenya, sedangkan India dengan tradisi Hindunya yang 
> memang 
> > sungguh kaya itu.
> > PS: Sedangkan, kalaupun ini boleh turut dimasukkan 
> > hitungan,kapitalisme dengan etika protestantismenya.
> > 
> > Bagaimana pendapat teman2 sekalian di milis ini.
> > 
> > Salam dan Terimakasih.
> >
> 
> 
> 
> 
>      
> 
> ---------------------------------
> It's here! Your new message!
> Get   new email alerts with the free Yahoo! Toolbar.
>       
>                                     
> 
>  
> ---------------------------------
> Don't be flakey. Get Yahoo! Mail for Mobile and 
> always stay connected to friends.
>


Kirim email ke