kata siapa etos kerja bangsa Indonesia kurang..??
  klo kita ke desa2 coba deh liat para petani yg sejak sehabis subuh sudang 
pergi ke sawah dan pulang sore hari. kadang2 sehabis pulang nyawah pun mereka 
diantaranya ada yg bekerja atau membuat kerajinan sebagai tambahan. begitu juga 
dg nelayan. padahal kerjaan2 mereka adalah boleh dikatakan kerjaan2 yg halal 
dan jauh dari KKN, tapi justru bidang kerjaan mereka yg sering diobok2 bahkan 
oleh pemerintahnya sendiri...sungguh kasihan. mereka dipermainkan dg harga 
pupuk dan jual gabah.
  jadi dimana letaknya klo bangsa ini etos kerjanya sangat rendah...sebagai 
contoh, saya (bukannya mau memamerkan diri), terbiasa dg kerjaan banyak dan 
saya biasanya berhenti kerja antara jam 2 pagi atau bahkan jam 4 pagi, padahal 
jam 7.30 nya sdh hrs kerja lagi...jadi etos kerja bangsa kita ga kalah dg 
bangsa lain spt japang dan korea yg katanya punya rata2 jam kerja paling tinggi 
di dunia.
  dari mana dasarnya saudara Lim mengatakan bahwa klo negara ini diserahkan 
atau diurus oleh orang aceh....maka akan beres.

Danny Lim <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
          Bila anda ke Pasar Pagi di Jakarta, anda akan melihat perdagangan di 
sana dikuasai oleh orang Tionghoa. Ada satu bangsa lagi yang mampu 
survive di Pasar Pagi di tengah-tengah "keganasan" etos kerja orang 
Tionghoa yang seperti kuda, yaitu bangsa India. Sedangkan bangsa 
Indonesia sendiri hanya menjadi kuli atau paling banter preman yang 
menjaga keamanan.

Di Indonesia ada sukubangsa yang top of the tops, dijamin tidak 
bakal kalah mutunya dibanding orang Tionghoa dan India, yaitu orang 
Aceh. Kolonial Belanda tidak pernah mampu menaklukkan Aceh padahal 
seluruh Hindia-Belanda bisa dipecundangi selama 350 tahun. So .... 
berikan tampuk kepemimpinan RI kepada orang Aceh, maka teritorial 
NKRI akan terjaga aman man man man. Kebebasan beragama akan terjamin 
min min min. Ekonomi Indonesia akan mananjak jak jak jak.

Selain melihat yang tidak dimilikinya, orang Indonesia juga wajib 
melihat apa yang dimilikinya donk deh sih tuh nih yee. Tinggalkan 
prinsip "puyuh di tangan dilepaskan, burung garuda di langit 
diimpikan." Sukses ya.

Salam hangat, Danny Lim, Nederland

--- In [email protected], "ary212ary" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Kesuksesan Keturunan Tionghoa
> 
> Saya melihat kesuksesan Chinese dengan berangkat dari realitas 
rata2 
> keturunan Tionghoa di Indonesia. Dan bahkan, harus diakui, dalam 
> kemajuan bangsa ini ada banyak sumbangsih para keturunan Tionghoa- 
> Indonesia itu di dalamnya. Lalu, yang menjadi faktor2 penyebab 
> kondisi mereka sekarang (yang rata2 sukses dan makmur) itu apakah:
> 
> 1. Politik diskriminasi dan apartheid warisan penjajah, sehingga 
> mereka tak punya pilihan nafkah hidup (dimana mereka tetap harus 
> menjalaninya untuk tetap dapat bertahan hidup) selain berdagang 
dan 
> usaha mandiri lainnya. Ditambah selain itu, setelah Indonesia 
> merdeka, mereka menjadi objek perahan namun tetap menjadi warga 
> negara pinggiran (secara politik, sosial, budaya, agama, dll, tapi 
> tidak secara ekonomi). Apakah karena kondisi2 objektif (yang 
membuat 
> mereka mau tak mau hidup lebih keras dan kepepet sehingga 
> menyiasatinya dengan hidup lebih cerdas dan lebih tekun) itu 
mental 
> tangguh mereka terbentuk (dan terkenal) hingga kini? Karena saya 
tak 
> melihat kondisi politik dan sosial yang menguntungkan bagi 
keturunan 
> Tionghoa ini dalam mengembangkan hak2 kewargaan mereka (dan karena 
> itu partisipasi mereka dalam kehidupan bernegara dan 
bermasyarakat) 
> walau kondisi sospol di masa kini sudah lebih terbuka, namun 
belumlah 
> cukup terbuka yang membuat posisi mereka setara tanpa syarat 
terhadap 
> WNI lain. Tapi mungkinkah kondisi keterdesakan ini pula yang 
membuat 
> mereka justru sanggup menyiasatinya dengan kreatif dan akhirnya 
tak 
> hanya survive tapi juga sukses (di Indonesia)?
> 
> 
> 2. Tradisi dan kultur intern mereka yang mengajarkan keuletan 
dalam 
> bekerja (dimana hal ini juga menjadi salah satu tekanan dalam 
etika 
> filsuf2 Cina)? Dimana tradisi dan kultur itu telah terhayati erat 
> menjadi spirit/jiwa dan ajaran yang sudah terpatri inheren hingga 
> menjadi identitas (Chinese=pekerja keras), seperti halnya anggapan 
> ttg orang Jawa yang menekankan pengendalian diri, sehingga 
dicitrakan 
> berjiwa halus dan menyukai serta terampil mengolah seni. 
> Bagaimanapun, stigma2 dan stereotype2 semacam tetap diperhatikan 
> dalam pertimbangan2 antropologis kebudayaan - karena, dalam 
realitas 
> kebudayaan, mengandung kebenaran2 dan logika2nya tersendiri, 
bukan? 
> 
> 
> 3. Faktor eksternal-internasional, yaitu momentum kebangkitan 
Negara 
> Cina sebagai potensial adidaya masa depan; di mana, menurut banyak 
> ulasan di internet dan media lainnya, salah satu faktor 
pendorongnya 
> ialah kultur dan kepercayaan - sesuatu yang kini diperhitungkan 
> sebagai variabel kemajuan, padahal di era 50'an-70'an dicemooh 
begitu 
> rupa? Padahal, lihat saja, Jepang maju tanpa mengorbankan 
kepercayaan 
> tradisionalnya (Shinto), China diyakini dengan etika Taoisme dan 
> Konfusianismenya, sedangkan India dengan tradisi Hindunya yang 
memang 
> sungguh kaya itu.
> PS: Sedangkan, kalaupun ini boleh turut dimasukkan 
> hitungan,kapitalisme dengan etika protestantismenya.
> 
> Bagaimana pendapat teman2 sekalian di milis ini.
> 
> Salam dan Terimakasih.
>



         

 
---------------------------------
It's here! Your new message!
Get new email alerts with the free Yahoo! Toolbar.

Kirim email ke