Engkoh Lim... saya seneng banget tayangan olah raga, maen bola, maen tepuk, 
maen tonjok, maen lempar, maen aer, dpln (dan permainan lainnya). Banyak sekali 
tuh orang kulit item jadi tokoh/pemain penting/ terkenal (yang namanya pele, 
ali, jordan shaq onil, wood, dll item banget tuh orang2) di olahraga yg namanya 
NBA basketnya amerika ... ampir item semua... kalo di maen bola apa lagi..., 
orang kulit item di kenal punya mental/permainan pekerja keras.. ada maikel 
essien (di chelsea), diarra (r madrid) dll. Apalagi kalo liat Arsenal maen, 
ampir selapangan item semua... giginya aja yang putih. Aaaah .. Koh Lim pasti 
gak seneng olah raga... (paling olah raganya gaple ama qq) ..... hehehe lupa 
tuh sama sepak bola di negri sendiri ... makin sini makin banyak orang itemnya 
.... ya udalah jadi belain orang item.. gue sendiri gak item2 amat kok ....
  

Danny Lim <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
          Di Belanda juga banyak orang Tionghoa, mereka membuka restoran, 
generasi mudanya memanfaatkan sekolah gratis dari pemerintah Belanda 
untuk meraih diploma. Yang suka memeras pengusaha restoran orang 
Tionghoa ya orang-orang berkulit hitam di Belanda. Sampai-sampai 
pernah seluruh pengusaha Tionghoa di Rotterdam berdemonstrasi 
menuntut perlindungan polisi Rotterdam yang lebih ketat. Tulisan 
saya ini bukan rasisme, tapi kenyataan. Di saat generasi muda 
Tionghoa berkeringat di sekolah belajar matematik, di saat itu 
generasi muda berkulit hitam membolos sekolah dan memeras pengusaha 
Tionghoa.

Di Belanda, orang Tionghoa tidak bisa berkorupsi meski pun mau, 
sebab tidak ada ambtenaar Belanda yang bisa disogok. Kalau pun ada, 
hanyalah insidentil, seperti di Indonesia pun ada pegawai negeri 
insidentil yang tidak korup, bukan? Namun meski pun orang Tionghoa 
di Belanda tidak mempunyai kesempatan untuk berkorupsi, rata-rata 
mereka tetap saja sukses, jauuuuh lebih sukses dari sesama pendatang 
asing di Belanda yang berkulit hitam.

Bedanya ada di etos kerja. Etos kerja orang Tionghoa rruaaaar biasa, 
etos kerja orang berkulit hitam memble ble ble ble. Bahwasanya di 
Indonesia ada kesempatan berkorupsi sebab para Inlander-nya bersedia 
menjual negerinya sendiri, tentu akan dimanfaatkan oleh orang 
Tionghoa di Indonesia. Namun kita tidak bisa berkata kesuksesan 
orang Tionghoa semata-mata berkat korupsi. Datanglah ke Belanda dan 
lihatlah kesuksesan orang Tionghoa di sini, padahal mereka sama 
sekali tidak bisa korupsi di Belanda sini. You got the point, 
darling? He he ... :-).

Salam hangat, Danny Lim, Nederland

--- In [email protected], jual gosip <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> 
> Kesimpulan anda tidak salah!
> Tapi ingat, ada hal-hal yang membuat orang China
> sukses namun dengan cara-cara yang tidak benar.
> Saya tidak mau berpolemik dan berpanjang lebar dalam
> menanggapi masalah ini, hanya ingin memberikan
> beberapa contoh sederhana.
> 
> banyak pengusaha China yang membobol bank. Mereka
> bersedia hanya menerima 50-60 persen dari total kredit
> yang diajukan sedangkan 40-50 persennya lagi diberikan
> kepada oknum-oknum bank. Proyek di mark-up, setelah di
> macetkan mereka kabur entah kemana. Yang di penjara
> bankir yang menerima uang suap.
> 
> saya benci koruptor. Tapi saya menyatakan salut dan
> mengacungkan jempol kepada Bob Hasan, Probosutedjo,
> Beddu Amang, Rahardi Ramelan yang bersedia masuk
> penjara untuk menebus kelakukannya. tapi pengusaha
> China yang korup? Nggak ada yang masuk penjara. Dia
> pilih nyuap penegak hukum atau kabur ke luar negeri...
> persis seperti anjing dibawa penggebug.
> Makanya yang banyak di umumkan oleh Kejaksaan Agung
> sebagian besar pengusaha China....
> Sekali lagi ini bukan rasis tapi fakta.
> 
> Demikian tanggapannya
> Jual_Gosip
> Wartawan Yang Tidak Pernah Bikin Berita Gosip
> 
> 
> 
> --- ary212ary <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> 
> > Kesuksesan Keturunan Tionghoa
> > 
> > Saya melihat kesuksesan Chinese dengan berangkat
> > dari realitas rata2 
> > keturunan Tionghoa di Indonesia. Dan bahkan, harus
> > diakui, dalam 
> > kemajuan bangsa ini ada banyak sumbangsih para
> > keturunan Tionghoa- 
> > Indonesia itu di dalamnya. Lalu, yang menjadi
> > faktor2 penyebab 
> > kondisi mereka sekarang (yang rata2 sukses dan
> > makmur) itu apakah:
> > 
> > 1. Politik diskriminasi dan apartheid warisan
> > penjajah, sehingga 
> > mereka tak punya pilihan nafkah hidup (dimana mereka
> > tetap harus 
> > menjalaninya untuk tetap dapat bertahan hidup)
> > selain berdagang dan 
> > usaha mandiri lainnya. Ditambah selain itu, setelah
> > Indonesia 
> > merdeka, mereka menjadi objek perahan namun tetap
> > menjadi warga 
> > negara pinggiran (secara politik, sosial, budaya,
> > agama, dll, tapi 
> > tidak secara ekonomi). Apakah karena kondisi2
> > objektif (yang membuat 
> > mereka mau tak mau hidup lebih keras dan kepepet
> > sehingga 
> > menyiasatinya dengan hidup lebih cerdas dan lebih
> > tekun) itu mental 
> > tangguh mereka terbentuk (dan terkenal) hingga kini?
> > Karena saya tak 
> > melihat kondisi politik dan sosial yang
> > menguntungkan bagi keturunan 
> > Tionghoa ini dalam mengembangkan hak2 kewargaan
> > mereka (dan karena 
> > itu partisipasi mereka dalam kehidupan bernegara dan
> > bermasyarakat) 
> > walau kondisi sospol di masa kini sudah lebih
> > terbuka, namun belumlah 
> > cukup terbuka yang membuat posisi mereka setara
> > tanpa syarat terhadap 
> > WNI lain. Tapi mungkinkah kondisi keterdesakan ini
> > pula yang membuat 
> > mereka justru sanggup menyiasatinya dengan kreatif
> > dan akhirnya tak 
> > hanya survive tapi juga sukses (di Indonesia)?
> > 
> > 
> > 2. Tradisi dan kultur intern mereka yang mengajarkan
> > keuletan dalam 
> > bekerja (dimana hal ini juga menjadi salah satu
> > tekanan dalam etika 
> > filsuf2 Cina)? Dimana tradisi dan kultur itu telah
> > terhayati erat 
> > menjadi spirit/jiwa dan ajaran yang sudah terpatri
> > inheren hingga 
> > menjadi identitas (Chinese=pekerja keras), seperti
> > halnya anggapan 
> > ttg orang Jawa yang menekankan pengendalian diri,
> > sehingga dicitrakan 
> > berjiwa halus dan menyukai serta terampil mengolah
> > seni. 
> > Bagaimanapun, stigma2 dan stereotype2 semacam tetap
> > diperhatikan 
> > dalam pertimbangan2 antropologis kebudayaan -
> > karena, dalam realitas 
> > kebudayaan, mengandung kebenaran2 dan logika2nya
> > tersendiri, bukan? 
> > 
> > 
> > 3. Faktor eksternal-internasional, yaitu momentum
> > kebangkitan Negara 
> > Cina sebagai potensial adidaya masa depan; di mana,
> > menurut banyak 
> > ulasan di internet dan media lainnya, salah satu
> > faktor pendorongnya 
> > ialah kultur dan kepercayaan - sesuatu yang kini
> > diperhitungkan 
> > sebagai variabel kemajuan, padahal di era
> > 50'an-70'an dicemooh begitu 
> > rupa? Padahal, lihat saja, Jepang maju tanpa
> > mengorbankan kepercayaan 
> > tradisionalnya (Shinto), China diyakini dengan etika
> > Taoisme dan 
> > Konfusianismenya, sedangkan India dengan tradisi
> > Hindunya yang memang 
> > sungguh kaya itu.
> > PS: Sedangkan, kalaupun ini boleh turut dimasukkan 
> > hitungan,kapitalisme dengan etika protestantismenya.
> > 
> > Bagaimana pendapat teman2 sekalian di milis ini.
> > 
> > Salam dan Terimakasih.
> > 
> > 
> 
> 
> 
> 
> 
__________________________________________________________
_______________
> Sucker-punch spam with award-winning protection. 
> Try the free Yahoo! Mail Beta.
> http://advision.webevents.yahoo.com/mailbeta/features_spam.html
>



         

 
---------------------------------
Be a PS3 game guru.
Get your game face on with the latest PS3 news and previews at Yahoo! Games.

Kirim email ke