Mohon maaf, saya termasuk kelompok yang memiliki
pandangan negatif pada sepak terjang kaum Tionghoa di
Indonesia. 

Menurut pandangan saya, (maaf jika salah), tipikal
keliru gaya bisnis kebanyakan kaum tionghoa menjadi
sebab kehancuran bangsa Indoensia.

Tak usahlah kita merunut sampai jaman penjajahan, di
mana orang Tionghoa sudah diletaknya setingkat lebih
tinggi dari bangsa pribumi, orang Tionghoa juga banyak
yang jadi penghianat. Jikapun ada yang ikut berjuang,
saya yakin jumlahnya kecil.

Di jaman sekarang, sepak terjang orang Tionghoa justru
semakin jelas betapa besarnya andil mereka dalam
menghancurkan bangsa ini. Lihatlah fakta betapa
pembobol bank terbesar di negeri ini. Hampir pasti
orang Tionghoa. Sejarah pembobol bank kalangan
Tionghoa mulai terkuak pada kasus Edi Tamsil.

Di bidang pembajakan hak cipta, bisa dipastikan
juragannya orang Tionghoa. Karena mereka yang
menguasai industri dan jaringa pemasaran produk
rekaman.

Judi. Pasti deh bandar besarnya orang Tionghoa. Yang
ditangkap polisi cuma pengecer kelas teri.

Peredaran Narkoba, nyaris dipastikan jika sudah pada
tingkat bandar besar pelakunya orang Tionghoa. Orang
pribumi sekedar jongos. Jadi pion.

Apalagi? Prostitusi, kalau sudah kelas kakap, pasti
germonya orang Tionghoa. Prostitusi kelas kakap inilah
sesungguhnya muara dari korupsi di negeri ini. Para
germo sering merayu politisi dan pejabat. Karena
tergoda, akhirnya mereka bermaksiat menggunakan uang
korupsi.

Karena itu, menurut saya, disamping andil kelompok
Tionghoa memajukan bangsa ini, jangan dinafikan andil
besar mereka menghancurkan bangsa ini.

Wahai saudara-saudara Tionghoa, sadarlah. Jangan terus
mengeruk keuntungan dari kehancuran bangsa ini.

Orang Riau yang risau

ahmad s.udi
--- Andrew Yuen <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

> bukannya Muhammad Bob Hasan itu beretnis Tionghoa?
> ahh.. buat opini tapi tak
> akurat..
> justru dengan demikian disebut GOSIP saja tak
> pantas..
> 
> -ay-
> 
> On 1/22/07, jual gosip <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> >
> >
> > Kesimpulan anda tidak salah!
> > Tapi ingat, ada hal-hal yang membuat orang China
> > sukses namun dengan cara-cara yang tidak benar.
> > Saya tidak mau berpolemik dan berpanjang lebar
> dalam
> > menanggapi masalah ini, hanya ingin memberikan
> > beberapa contoh sederhana.
> >
> > banyak pengusaha China yang membobol bank. Mereka
> > bersedia hanya menerima 50-60 persen dari total
> kredit
> > yang diajukan sedangkan 40-50 persennya lagi
> diberikan
> > kepada oknum-oknum bank. Proyek di mark-up,
> setelah di
> > macetkan mereka kabur entah kemana. Yang di
> penjara
> > bankir yang menerima uang suap.
> >
> > saya benci koruptor. Tapi saya menyatakan salut
> dan
> > mengacungkan jempol kepada Bob Hasan,
> Probosutedjo,
> > Beddu Amang, Rahardi Ramelan yang bersedia masuk
> > penjara untuk menebus kelakukannya. tapi pengusaha
> > China yang korup? Nggak ada yang masuk penjara.
> Dia
> > pilih nyuap penegak hukum atau kabur ke luar
> negeri...
> > persis seperti anjing dibawa penggebug.
> > Makanya yang banyak di umumkan oleh Kejaksaan
> Agung
> > sebagian besar pengusaha China....
> > Sekali lagi ini bukan rasis tapi fakta.
> >
> > Demikian tanggapannya
> > Jual_Gosip
> > Wartawan Yang Tidak Pernah Bikin Berita Gosip
> >
> >
> > --- ary212ary <[EMAIL PROTECTED]
> <ary212ary%40yahoo.com>> wrote:
> >
> > > Kesuksesan Keturunan Tionghoa
> > >
> > > Saya melihat kesuksesan Chinese dengan berangkat
> > > dari realitas rata2
> > > keturunan Tionghoa di Indonesia. Dan bahkan,
> harus
> > > diakui, dalam
> > > kemajuan bangsa ini ada banyak sumbangsih para
> > > keturunan Tionghoa-
> > > Indonesia itu di dalamnya. Lalu, yang menjadi
> > > faktor2 penyebab
> > > kondisi mereka sekarang (yang rata2 sukses dan
> > > makmur) itu apakah:
> > >
> > > 1. Politik diskriminasi dan apartheid warisan
> > > penjajah, sehingga
> > > mereka tak punya pilihan nafkah hidup (dimana
> mereka
> > > tetap harus
> > > menjalaninya untuk tetap dapat bertahan hidup)
> > > selain berdagang dan
> > > usaha mandiri lainnya. Ditambah selain itu,
> setelah
> > > Indonesia
> > > merdeka, mereka menjadi objek perahan namun
> tetap
> > > menjadi warga
> > > negara pinggiran (secara politik, sosial,
> budaya,
> > > agama, dll, tapi
> > > tidak secara ekonomi). Apakah karena kondisi2
> > > objektif (yang membuat
> > > mereka mau tak mau hidup lebih keras dan kepepet
> > > sehingga
> > > menyiasatinya dengan hidup lebih cerdas dan
> lebih
> > > tekun) itu mental
> > > tangguh mereka terbentuk (dan terkenal) hingga
> kini?
> > > Karena saya tak
> > > melihat kondisi politik dan sosial yang
> > > menguntungkan bagi keturunan
> > > Tionghoa ini dalam mengembangkan hak2 kewargaan
> > > mereka (dan karena
> > > itu partisipasi mereka dalam kehidupan bernegara
> dan
> > > bermasyarakat)
> > > walau kondisi sospol di masa kini sudah lebih
> > > terbuka, namun belumlah
> > > cukup terbuka yang membuat posisi mereka setara
> > > tanpa syarat terhadap
> > > WNI lain. Tapi mungkinkah kondisi keterdesakan
> ini
> > > pula yang membuat
> > > mereka justru sanggup menyiasatinya dengan
> kreatif
> > > dan akhirnya tak
> > > hanya survive tapi juga sukses (di Indonesia)?
> > >
> > >
> > > 2. Tradisi dan kultur intern mereka yang
> mengajarkan
> > > keuletan dalam
> > > bekerja (dimana hal ini juga menjadi salah satu
> > > tekanan dalam etika
> > > filsuf2 Cina)? Dimana tradisi dan kultur itu
> telah
> > > terhayati erat
> > > menjadi spirit/jiwa dan ajaran yang sudah
> terpatri
> > > inheren hingga
> > > menjadi identitas (Chinese=pekerja keras),
> seperti
> > > halnya anggapan
> > > ttg orang Jawa yang menekankan pengendalian
> diri,
> > > sehingga dicitrakan
> > > berjiwa halus dan menyukai serta terampil
> mengolah
> > > seni.
> > > Bagaimanapun, stigma2 dan stereotype2 semacam
> tetap
> > > diperhatikan
> > > dalam pertimbangan2 antropologis kebudayaan -
> > > karena, dalam realitas
> > > kebudayaan, mengandung kebenaran2 dan logika2nya
> > > tersendiri, bukan?
> > >
> > >
> > > 3. Faktor eksternal-internasional, yaitu
> momentum
> > > kebangkitan Negara
> > > Cina sebagai potensial adidaya masa depan; di
> mana,
> > > menurut banyak
> > > ulasan di internet dan media lainnya, salah satu
> > > faktor pendorongnya
> > > ialah kultur dan kepercayaan - sesuatu yang kini
> > > diperhitungkan
> > > sebagai variabel kemajuan, padahal di era
> > > 50'an-70'an dicemooh begitu
> > > rupa? Padahal, lihat saja, Jepang maju tanpa
> > > mengorbankan kepercayaan
> > > tradisionalnya (Shinto), China diyakini dengan
> etika
> > > Taoisme dan
> > > Konfusianismenya, sedangkan India dengan tradisi
> > > Hindunya yang memang
> > > sungguh kaya itu.
> > > PS: Sedangkan, kalaupun ini boleh turut
> dimasukkan
> > > hitungan,kapitalisme dengan etika
> protestantismenya.
> > >
> > > Bagaimana pendapat teman2 sekalian di milis ini.
> > >
> > > Salam dan Terimakasih.
> > >
> > >
> >
> >
>
__________________________________________________________
> > Sucker-punch spam with award-winning protection.
> > Try the free Yahoo! Mail Beta.
> >
>
http://advision.webevents.yahoo.com/mailbeta/features_spam.html
> >
> >  
> >
> 
> 
> 
> -- 
>
=============================================================
> Perjuangan Melawan Kekuasaan adalah Perjuangan
> Ingatan Melawan Lupa
> -Milan Kundera-
>
=============================================================
> 



 
____________________________________________________________________________________
Be a PS3 game guru.
Get your game face on with the latest PS3 news and previews at Yahoo! Games.
http://videogames.yahoo.com/platform?platform=120121

Kirim email ke