Untuk melihat jalan kesuksesan itu bukan hanya dari kacamata etnik, bisa di
katakan Etnik Tionghoa merupakan Etnik yang sukses di Indonesia, namun apakah
itu karena etnik? kalo menurut saya itu bukan pengaruh etnik tetapi disebabkan
atas kegigihannya, Suku jawa juga gigih bekerja, namun suku jawa kebanyak
bekerja bukan hanya untuk dirinya, tetapi untuk menghidupi keluarganya yang
besar dan banyak.
maka untuk itu Etnik dan Etos tidak ada kaitan, apalagi kini, bukan hanya
orang Indonesia yang menjadi preman dan pemalas, tetapi orang tionghoa juga
menjadi preman malah lebih sadis lagi, seperti beberapa preman yang ada di
Medan, mereka lebih banyak berbisnis ala ke maksiatan, jadi tidak ada kata
satu pun etnik itu ada kaitannya untuk melihat etos kerja seseorang di dewasa
ini.
Saudara Lim benar, Etnik Tionghoa dan India itu gigih, tetapi bukan secara
keseluruhan dan bukan pula orang Indonesia itu tidak gigih dan hanya mau jadi
preman, mungkin itu bisa digaris bawahi, orang Indonesia yang mana, kalau
menurut saya orang Indonesia yang serakah dan males bekerja saja yang mau jadi
preman, tetapi ingat bukan orang Indonesia Secara keseluruhan, Anda coba
melihatnya hingga ke pelosok desa, ok Saudara Lim.
Tahun lalu saya ke Aceh, yang saya dapati bukan kebanyakan orang Aceh itu
rajin, tetapi malah sebaliknya mereka lebih mengharapkan bantuan datang. jadi
saya harapkan saudara Lim lihat secara dekat, tentang bagaimana Ratusan Etnik
yang ada di Indonesia ini bekerja, ok Saudara lim
By
Ariel
Medan
fery zidane <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
kata siapa etos kerja bangsa Indonesia kurang..??
klo kita ke desa2 coba deh liat para petani yg sejak sehabis subuh sudang
pergi ke sawah dan pulang sore hari. kadang2 sehabis pulang nyawah pun mereka
diantaranya ada yg bekerja atau membuat kerajinan sebagai tambahan. begitu
juga dg nelayan. padahal kerjaan2 mereka adalah boleh dikatakan kerjaan2 yg
halal dan jauh dari KKN, tapi justru bidang kerjaan mereka yg sering diobok2
bahkan oleh pemerintahnya sendiri...sungguh kasihan. mereka dipermainkan dg
harga pupuk dan jual gabah.
jadi dimana letaknya klo bangsa ini etos kerjanya sangat rendah...sebagai
contoh, saya (bukannya mau memamerkan diri), terbiasa dg kerjaan banyak dan
saya biasanya berhenti kerja antara jam 2 pagi atau bahkan jam 4 pagi, padahal
jam 7.30 nya sdh hrs kerja lagi...jadi etos kerja bangsa kita ga kalah dg
bangsa lain spt japang dan korea yg katanya punya rata2 jam kerja paling
tinggi di dunia.
dari mana dasarnya saudara Lim mengatakan bahwa klo negara ini diserahkan
atau diurus oleh orang aceh....maka akan beres.
Danny Lim <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Bila anda ke Pasar Pagi di Jakarta, anda akan melihat perdagangan di
sana dikuasai oleh orang Tionghoa. Ada satu bangsa lagi yang mampu
survive di Pasar Pagi di tengah-tengah "keganasan" etos kerja orang
Tionghoa yang seperti kuda, yaitu bangsa India. Sedangkan bangsa
Indonesia sendiri hanya menjadi kuli atau paling banter preman yang
menjaga keamanan.
Di Indonesia ada sukubangsa yang top of the tops, dijamin tidak
bakal kalah mutunya dibanding orang Tionghoa dan India, yaitu orang
Aceh. Kolonial Belanda tidak pernah mampu menaklukkan Aceh padahal
seluruh Hindia-Belanda bisa dipecundangi selama 350 tahun. So ....
berikan tampuk kepemimpinan RI kepada orang Aceh, maka teritorial
NKRI akan terjaga aman man man man. Kebebasan beragama akan terjamin
min min min. Ekonomi Indonesia akan mananjak jak jak jak.
Selain melihat yang tidak dimilikinya, orang Indonesia juga wajib
melihat apa yang dimilikinya donk deh sih tuh nih yee. Tinggalkan
prinsip "puyuh di tangan dilepaskan, burung garuda di langit
diimpikan." Sukses ya.
Salam hangat, Danny Lim, Nederland
--- In [email protected], "ary212ary" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Kesuksesan Keturunan Tionghoa
>
> Saya melihat kesuksesan Chinese dengan berangkat dari realitas
rata2
> keturunan Tionghoa di Indonesia. Dan bahkan, harus diakui, dalam
> kemajuan bangsa ini ada banyak sumbangsih para keturunan Tionghoa-
> Indonesia itu di dalamnya. Lalu, yang menjadi faktor2 penyebab
> kondisi mereka sekarang (yang rata2 sukses dan makmur) itu apakah:
>
> 1. Politik diskriminasi dan apartheid warisan penjajah, sehingga
> mereka tak punya pilihan nafkah hidup (dimana mereka tetap harus
> menjalaninya untuk tetap dapat bertahan hidup) selain berdagang
dan
> usaha mandiri lainnya. Ditambah selain itu, setelah Indonesia
> merdeka, mereka menjadi objek perahan namun tetap menjadi warga
> negara pinggiran (secara politik, sosial, budaya, agama, dll, tapi
> tidak secara ekonomi). Apakah karena kondisi2 objektif (yang
membuat
> mereka mau tak mau hidup lebih keras dan kepepet sehingga
> menyiasatinya dengan hidup lebih cerdas dan lebih tekun) itu
mental
> tangguh mereka terbentuk (dan terkenal) hingga kini? Karena saya
tak
> melihat kondisi politik dan sosial yang menguntungkan bagi
keturunan
> Tionghoa ini dalam mengembangkan hak2 kewargaan mereka (dan karena
> itu partisipasi mereka dalam kehidupan bernegara dan
bermasyarakat)
> walau kondisi sospol di masa kini sudah lebih terbuka, namun
belumlah
> cukup terbuka yang membuat posisi mereka setara tanpa syarat
terhadap
> WNI lain. Tapi mungkinkah kondisi keterdesakan ini pula yang
membuat
> mereka justru sanggup menyiasatinya dengan kreatif dan akhirnya
tak
> hanya survive tapi juga sukses (di Indonesia)?
>
>
> 2. Tradisi dan kultur intern mereka yang mengajarkan keuletan
dalam
> bekerja (dimana hal ini juga menjadi salah satu tekanan dalam
etika
> filsuf2 Cina)? Dimana tradisi dan kultur itu telah terhayati erat
> menjadi spirit/jiwa dan ajaran yang sudah terpatri inheren hingga
> menjadi identitas (Chinese=pekerja keras), seperti halnya anggapan
> ttg orang Jawa yang menekankan pengendalian diri, sehingga
dicitrakan
> berjiwa halus dan menyukai serta terampil mengolah seni.
> Bagaimanapun, stigma2 dan stereotype2 semacam tetap diperhatikan
> dalam pertimbangan2 antropologis kebudayaan - karena, dalam
realitas
> kebudayaan, mengandung kebenaran2 dan logika2nya tersendiri,
bukan?
>
>
> 3. Faktor eksternal-internasional, yaitu momentum kebangkitan
Negara
> Cina sebagai potensial adidaya masa depan; di mana, menurut banyak
> ulasan di internet dan media lainnya, salah satu faktor
pendorongnya
> ialah kultur dan kepercayaan - sesuatu yang kini diperhitungkan
> sebagai variabel kemajuan, padahal di era 50'an-70'an dicemooh
begitu
> rupa? Padahal, lihat saja, Jepang maju tanpa mengorbankan
kepercayaan
> tradisionalnya (Shinto), China diyakini dengan etika Taoisme dan
> Konfusianismenya, sedangkan India dengan tradisi Hindunya yang
memang
> sungguh kaya itu.
> PS: Sedangkan, kalaupun ini boleh turut dimasukkan
> hitungan,kapitalisme dengan etika protestantismenya.
>
> Bagaimana pendapat teman2 sekalian di milis ini.
>
> Salam dan Terimakasih.
>
---------------------------------
It's here! Your new message!
Get new email alerts with the free Yahoo! Toolbar.
---------------------------------
Don't be flakey. Get Yahoo! Mail for Mobile and
always stay connected to friends.