--- In [email protected], kamsari sari <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Agama dihina, jelas marah dong. L: Siapa yang mengatakan harus marah? Tentu orang2 pemarah kan, he, he, he. Kelompok orang-orang pemarah dalam agama kita itu jangan diikuti, karena mereka adalah kelompok perusak citra agama kita. Kecuali anda ikut agamanya Tuhan yang maha pemarah tetapi tidak mampu membalas sendiri kemarahanNya sehingga harus dibantu umatNya untuk marah2. > Yang menghina agama orang itu kan namanya cari musuh. Eh, apanya yang hilang atau siapa yang rugi kalau ajaran agama kita dihina? Anda merasa kehilangan? Anda menderita kerugian? Tuhan yang kehilangan? Tuhan yg rugi? Kalau tak ada kehilangan apa2 tetapi kita marah2, artinya kita sendiri yg cari musuh. Orang2 yang menghina agama kita itu boleh kita anggap sebagai orang gila. Masa kita marah2 sama orang gila (= penghina agama)? Kalau kita marah2 sama orang gila, sama atau lebih gila dong kita ini. > Jadi bukan yang membela agama yang harus dihujat, > tapi orang yang suka menghina agama orang lain > yang harus di'lurus'kan. L: Agama tak perlu dibela karena agama tak bisa mati oleh umat lain, tetapi hanya bisa mati ditinggalkan oleh umatnya sendiri. Jadi cuma orang gila aja yang mau membela agama yang tak punya nyawa, sama gilanya dengan orang yang suka menghujat agama. Meluruskan orang gila? Sama aja gilanya. > Tolong balik logika berpikir Anda. L: Logika apa yang anda pakai di sini? True-false logic atau fuzzy logic? Dogmatic 'logic'? Jelaskan dong hukum2 logika di mana logika saya 'terbalik'. Pelajaran logika banyak terdapat di internet lho. > Bagi saya, orang yang berdiam diri saat > agamanya dihina, itu masuk kategori pengecut. L: Semua bisa bilang "Sayang", semua bisa bilang "Pengecut", apakah artinya, he, he, he. Saya tak mau bilang, termasuk 'type' apa anda itu karena sudah saya bilang di atas :-). Salam
