Pak Danar, bagi orang pemarah tak ada bedanya antara kritik dan penghinaan, he, he, he. Tulisan pak Danar hanya diperuntukkan bagi umat yg masih bisa menanggapi kritik sebagai kritik.
Yang penting saya sudah beropini bahwa kalau kita MERASA agama yang kita klaim sebagai ajaran yg benar (walaupun mungkin kita amalkan atau tafirkan secara salah dan ngawur) mendapat penghinaan, bukan kritikan, anggap aja orang yang menghina itu ndak waras. Dari diri kita atau dari agama kita, ndak ada yang hilang atau dirugikan dari ucapan2 orang ndak waras. Kita juga sama ndak warasnya kalau terus ngladeni orang yang kita anggap ndak waras. Kita lebih ndak waras lagi kalau marah2 sama orang yg kita anggap ndak waras. Kalau menganggap kritikan sebagai kritik thd (agama atau umat?) kita dan kita memang merasa agama kita sempurna, ndak dijawab atau dijawab, sama aja efeknya: isi ajaran agama dan diri kita tak berubah. Tetapi dengan menjawab secara santun, kita mungkin bisa MERUBAH cara pikir orang yang mengkritik agama kita tsb. Apakah kita harus sepakat agar semua kritikan suatu ajaran agama oleh umat lain hanya diperbolehkan dilakukan DALAM HATI SAJA dan biar jadi uneg2 umat lain di luar agama kita? Apakah kita harus sepakat agar semua kritikan thd suatu ajaran agama oleh umat sendiri tak diperbolehkan dan biar jadi pertanyaan terpendam umat tsb? Kalau saya sih akan berterimakasih sekali apabila ada yg bisa memberitahu bagian dari ajaran agama saya yang bisa dianggap salah atau bisa dikritisi. Kalau perlu menjawab, ya saya jawab aja. Gitu aja kok repot2. Salam --- In [email protected], "RM Danardono HADINOTO" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Memang kalau berdiam diri kala agama atau kepercayaannya dikritik > (lebih dewasa daripada kata "menghina"), adalah kontraproduktif. Dia > harus menjelaskan dengan sabar dan mendasar, mengapa ia percaya pada > agamanya itu. Tak perlu marah. Umat Kristen yang > dikritik "Menuhankan manusia" juga tak perlu marah, tetapi > seyogyanya menjelaskan dengan sabar, mendasar, rational, mengapa dia > mempercayainya itu. > > Kalau umat Islam dikritik menyukai kekerasan, menebar kematian > melalui teror, harus menjelaskan, bahwa adalah tidak benar yang > dikatakan ini. Bahwa mereka yang memakai kekerasan, suka sweeping, > tukang ledakkan bom, menutupi tempat ibadah umat lain, bukanlah umat > Islam (entah umat apa ini).
