--- In [email protected], Budi Suwanto <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>

> Kalau saya, terus-terang akan marah jika sesuatu yang suci, yang 
>saya yakini dengan sebuah proses panjang, bukan karena keturunan, 
>akan marah. Dan bagi saya itu manusiawi. Masalahnya, mengungkapkan 
>kemarahan secara benar (sesuai apa yang menjadi keyakinan) ini yang 
>mesti dipelajari, dan itu memerlukan proses....


---> "mengungkapkan kemarahan secara benar", pertama, mungkinkah 
ini? siapakah yang merasa tahu, apakah itu "benar"? Seorang ayah 
memarahi anaknya, karena ia merasa dia benar dalam kemarahannya, dia 
merasa (yakin) marah secara benar. Tetapi istrinya, yang adalah ibu 
sang anak, belum tentu menyetujui kemarahan ini. Ini adalah adegan 
yang kita semua, orang tua, pernah alami.

Kedua, bagaimana mengungkapkan kemarahan secara benar? "marah" itu 
sendiri, dalam konsep apapun, baik agama, ataupun ilmu pengetahuan, 
misalnya psychology, ilmu pendidikan, sampai ilmu falsafah, BUKAN 
pengertian yang berkonotasi POSITIV. Setiap amarah, dalam semua 
ajaran moral, adalah faktor yang mengusir kedamaian dalam bathin.

Kedamaian hanya akan bertakhta dalam bathin kita, bila amarah itu 
ENYAH. Anda malah mau mempertahankannya? Anda merasa benar? darimana 
anda tahu?

Kita terhina, karena sesuatu yang saya anggap suci, dicemooh? 
Seseorang memuja keris pusaka yang dianggapnya suci dan bertuah, 
seorang lain menganggapnya sekedar besi tua. lalu?

Patung Buddh raksasa yang disucikan umat Buddha dan bersuia ratusan 
tahun (atau lebih?)  diledakkan oleh umat Muslim di Afganistan. 
lalu? berhakkah bangsa bangsa beragama Buddha menyerang Afganistan?

Suci dan kemarahan, tidakkah ini dua hal yang bertolak belakang? 
Sucikah kita, membela hal yang suci dengan kemarahan?

renungkanlah!

DH


"
> Kalau saya, terus-terang akan marah jika sesuatu yang suci, yang 
saya yakini dengan sebuah proses panjang, bukan karena keturunan, 
akan marah. Dan bagi saya itu manusiawi. Masalahnya, mengungkapkan 
kemarahan secara benar (sesuai apa yang menjadi keyakinan) ini yang 
mesti dipelajari, dan itu memerlukan proses. 
>   Semakin seseorang paham dengan esensi keyakinannya, semakin 
benar ia mengungkapkan kemarahannya. Sama saja membandingkan 
marahnya anak kecil, dengan marahnya orang dewasa, marahnya seniman 
dengan kuli bangunan, marahnya presiden dengan paranormal, marahnya 
orang bodoh dengan orang pintar, dst, dst. 
>   Dan kalau jika ada seniman yang mengungkapkan kemarahannya 
dengan tawuran misalnya, maka hal itu perlu dipertanyakan 
kesenimanannya.  Demikian juga kalau ada seorang presiden yang 
mengungkapkan kemarahannya seperti perempuan yang didekati oleh 
siklus haidnya, tentu juga perlu dipertanyakan : "Ini Presiden apa 
ibu-ibu arisan, sih?"
>   Soal hina menghina masalah Agama ini, Nabi Muhammad SAW pernah 
mengingatkan Umatnya, "Janganlah kamu menghina Tuhan orang lain, 
karena dia pasti akan membalas menghina Tuhan kamu (Allah SWT)." 
Namun pada praktiknya, tentu saja selalu berbeda dari Muslim yang 
satu ke Muslim yang lainnya. Kenapa? Karena proses yang berbeda saya 
kira. 
>   Sama-sama tempe, tapi pemrosesannya berbeda, ya beda rasanya. 
>   Wallahualam...
>   
> RM Danardono HADINOTO <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>           Memang kalau berdiam diri kala agama atau kepercayaannya 
dikritik 
> (lebih dewasa daripada kata "menghina"), adalah kontraproduktif. 
Dia 
> harus menjelaskan dengan sabar dan mendasar, mengapa ia percaya 
pada 
> agamanya itu. Tak perlu marah. Umat Kristen yang 
> dikritik "Menuhankan manusia" juga tak perlu marah, tetapi 
> seyogyanya menjelaskan dengan sabar, mendasar, rational, mengapa 
dia 
> mempercayainya itu.
> 
> Kalau umat Islam dikritik menyukai kekerasan, menebar kematian 
> melalui teror, harus menjelaskan, bahwa adalah tidak benar yang 
> dikatakan ini. Bahwa mereka yang memakai kekerasan, suka sweeping, 
> tukang ledakkan bom, menutupi tempat ibadah umat lain, bukanlah 
umat 
> Islam (entah umat apa ini).
> 
> Apa yang dikatakan sdr Manneke adalah tepat. Tuhan yang 
menciptakan 
> se-gala galanya (bagi yang mengimani ini), adalah diatas 
segalanya. 
> Dan dengan sangat mudah mengatasi hinaan ataupun cercaan. Sang 
> Pencipta yang akan membela ciptaanNya, bukan sebaliknya!
> 
> Kalau anda marah, kalau kepercayaan anda dicerca, pada dasarnya, 
> anda marah karena anda - melalui apa yang anda percaya - merasa 
> dicerca. sama dengan kalau anda memiliki mobil usang yang mati 
mati 
> terus, mogok, tak karuan, lalu dicerca orang lewat, anda akan 
marah. 
> Mengapa? Karena ada keterkaitan antara mobil busuk itu dengan 
anda, 
> coba kalau mobil busik yang dicerca adalah mobil orang tak dikenal 
> yang tergelatak dipinggir jalan, lalu dicerca. Anda akan perduli?
> 
> Jadi kemarahan anda, adalah dampak dari rasa ego anda, bukan 
> kepahlwanan anda dalam membela kepercayaan anda. Sering terdengar 
> ejekan pada patung Yesus: "Kok Tuhan pakai cawet, dan gak bisa apa 
> apa disalib". Umat Kristen yang kebetulan mendengarnya akan merah 
> kupingnya, tetapi, apakah Yesus sendiri kalau mendengar ini, akan 
> marah? kalau dia marah, maka dia sama saja dengan manusia biasa, 
> kalau dia memang layak diTuhankan, dia akan berada diatas 
kesemuanya 
> ini..
> 
> Jelas?
> 
> --- In [email protected], kamsari sari <kamsari20002000@> 
> wrote:
> >
> > Agama dihina, jelas marah dong. Yang menghina agama orang itukan 
> namanya cari musuh. Jadi bukan yang membela agama yang harus 
> dihujat, tapi orang yang suka menghina agama orang lain yang harus 
> di'lurus'kan. Tolong balik logika berpikir Anda. Bagi saya, orang 
> yang berdiam diri saat agamanya dihina, itu masuk kategori 
pengecut. 
> Jelas.
> > 
> > tks
> > kamsari
> > 
> > manneke <manneke@> wrote: 
> Karena manusia suka merasa lebih ngerti tentang Tuhan daripada 
Tuhan 
> sendiri. Merasa lebih sebagai pemilik agama daripada Tuhan yang 
> mengadakan agama-agama. Merasa kurang pede sama Tuhannya sehingga 
ke 
> mana-mana sibuk membela Tuhan (secara tak langsung, merasa dia 
lebih 
> jagoan daripada Tuhannya). Semuanya cuma perasaan, tapi jadinya ke-
> geer-an.
> > 
> > manneke
> > 
> 
> 
> 
>          
> 
>        
> ---------------------------------
> Kunjungi halaman depan Yahoo! Indonesia yang baru!
>


Kirim email ke