Bung Budi, pendapat anda bahwa kita boleh marah karena 
merasa 'bagian suci' dari kayakinan kita dihina orang lain bukanlah 
pendapat baru, karena opini ini sudah ada sejak jaman primitif, 
jaman sebelum agama2 Islam dan Kristen masuk, bahkan sebelum ajaran 
Buddha dan Hindu ada. 

Fakta ini bisa diperoleh dari peninggalan2 arca2 dan candi2 di masa 
lalu, mis. sejarah suku Maya dsb. Bahkan di masa sedikit modern, 
kita tahu bahwa Galileo dan Galilie dianggap 'menghina' ajaran agama 
sampai ia harus dibunuh atas nama agama. 

Sekarang saya mendengar dan melihat sendiri dari DVD milik saya 
pendapat seorang pastor akhli astronomi yang bekerja di Vatikan. Ia 
menyatakan bahwa pendapat Galileo bukanlah penghinaan, sebab ilmu 
pengetahuan adalah bagian yang terpisah, tak ada kaitannya dg ajaran 
Katolik.

Ini sebuah tafsiran ajaran Katolik dan saya yakin banyak penganut 
ajaran Katolik lain yang tak setuju dg pendapatnya. Tetapi apakah 
karena tak setuju kita 'wajib' marah2, bahkan boleh membunuh atas 
nama agama?

IMO, kita mesti mampu memperbaiki diri sendiri, termasuk mampu 
mengkoreksi TRADISI BERPIKIR (bukan cuma tradisi dalam bentuk 
perbuatan) yang bersumber dari pola pikir primitif. Pola pikir 
primitif ini saya percaya dipicu oleh bagian primitf otak kita (yang 
sudah ada sejak jaman manusia purba, tetapi masih kita warisi sampai 
sekarang).

Salam

--- In [email protected], Budi Suwanto <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Kalau saya, terus-terang akan marah jika sesuatu yang suci, yang 
saya yakini dengan sebuah proses panjang, bukan karena keturunan, 
akan marah. Dan bagi saya itu manusiawi. Masalahnya, mengungkapkan 
kemarahan secara benar (sesuai apa yang menjadi keyakinan) ini yang 
mesti dipelajari, dan itu memerlukan proses. 
>   Semakin seseorang paham dengan esensi keyakinannya, semakin 
benar ia mengungkapkan kemarahannya. 



Kirim email ke