Kalau saya, terus-terang akan marah jika sesuatu yang suci, yang saya yakini 
dengan sebuah proses panjang, bukan karena keturunan, akan marah. Dan bagi saya 
itu manusiawi. Masalahnya, mengungkapkan kemarahan secara benar (sesuai apa 
yang menjadi keyakinan) ini yang mesti dipelajari, dan itu memerlukan proses. 
  Semakin seseorang paham dengan esensi keyakinannya, semakin benar ia 
mengungkapkan kemarahannya. Sama saja membandingkan marahnya anak kecil, dengan 
marahnya orang dewasa, marahnya seniman dengan kuli bangunan, marahnya presiden 
dengan paranormal, marahnya orang bodoh dengan orang pintar, dst, dst. 
  Dan kalau jika ada seniman yang mengungkapkan kemarahannya dengan tawuran 
misalnya, maka hal itu perlu dipertanyakan kesenimanannya.  Demikian juga kalau 
ada seorang presiden yang mengungkapkan kemarahannya seperti perempuan yang 
didekati oleh siklus haidnya, tentu juga perlu dipertanyakan : "Ini Presiden 
apa ibu-ibu arisan, sih?"
  Soal hina menghina masalah Agama ini, Nabi Muhammad SAW pernah mengingatkan 
Umatnya, "Janganlah kamu menghina Tuhan orang lain, karena dia pasti akan 
membalas menghina Tuhan kamu (Allah SWT)." Namun pada praktiknya, tentu saja 
selalu berbeda dari Muslim yang satu ke Muslim yang lainnya. Kenapa? Karena 
proses yang berbeda saya kira. 
  Sama-sama tempe, tapi pemrosesannya berbeda, ya beda rasanya. 
  Wallahualam...
  
RM Danardono HADINOTO <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
          Memang kalau berdiam diri kala agama atau kepercayaannya dikritik 
(lebih dewasa daripada kata "menghina"), adalah kontraproduktif. Dia 
harus menjelaskan dengan sabar dan mendasar, mengapa ia percaya pada 
agamanya itu. Tak perlu marah. Umat Kristen yang 
dikritik "Menuhankan manusia" juga tak perlu marah, tetapi 
seyogyanya menjelaskan dengan sabar, mendasar, rational, mengapa dia 
mempercayainya itu.

Kalau umat Islam dikritik menyukai kekerasan, menebar kematian 
melalui teror, harus menjelaskan, bahwa adalah tidak benar yang 
dikatakan ini. Bahwa mereka yang memakai kekerasan, suka sweeping, 
tukang ledakkan bom, menutupi tempat ibadah umat lain, bukanlah umat 
Islam (entah umat apa ini).

Apa yang dikatakan sdr Manneke adalah tepat. Tuhan yang menciptakan 
se-gala galanya (bagi yang mengimani ini), adalah diatas segalanya. 
Dan dengan sangat mudah mengatasi hinaan ataupun cercaan. Sang 
Pencipta yang akan membela ciptaanNya, bukan sebaliknya!

Kalau anda marah, kalau kepercayaan anda dicerca, pada dasarnya, 
anda marah karena anda - melalui apa yang anda percaya - merasa 
dicerca. sama dengan kalau anda memiliki mobil usang yang mati mati 
terus, mogok, tak karuan, lalu dicerca orang lewat, anda akan marah. 
Mengapa? Karena ada keterkaitan antara mobil busuk itu dengan anda, 
coba kalau mobil busik yang dicerca adalah mobil orang tak dikenal 
yang tergelatak dipinggir jalan, lalu dicerca. Anda akan perduli?

Jadi kemarahan anda, adalah dampak dari rasa ego anda, bukan 
kepahlwanan anda dalam membela kepercayaan anda. Sering terdengar 
ejekan pada patung Yesus: "Kok Tuhan pakai cawet, dan gak bisa apa 
apa disalib". Umat Kristen yang kebetulan mendengarnya akan merah 
kupingnya, tetapi, apakah Yesus sendiri kalau mendengar ini, akan 
marah? kalau dia marah, maka dia sama saja dengan manusia biasa, 
kalau dia memang layak diTuhankan, dia akan berada diatas kesemuanya 
ini..

Jelas?

--- In [email protected], kamsari sari <[EMAIL PROTECTED]> 
wrote:
>
> Agama dihina, jelas marah dong. Yang menghina agama orang itukan 
namanya cari musuh. Jadi bukan yang membela agama yang harus 
dihujat, tapi orang yang suka menghina agama orang lain yang harus 
di'lurus'kan. Tolong balik logika berpikir Anda. Bagi saya, orang 
yang berdiam diri saat agamanya dihina, itu masuk kategori pengecut. 
Jelas.
> 
> tks
> kamsari
> 
> manneke <[EMAIL PROTECTED]> wrote: 
Karena manusia suka merasa lebih ngerti tentang Tuhan daripada Tuhan 
sendiri. Merasa lebih sebagai pemilik agama daripada Tuhan yang 
mengadakan agama-agama. Merasa kurang pede sama Tuhannya sehingga ke 
mana-mana sibuk membela Tuhan (secara tak langsung, merasa dia lebih 
jagoan daripada Tuhannya). Semuanya cuma perasaan, tapi jadinya ke-
geer-an.
> 
> manneke
> 



         

       
---------------------------------
Kunjungi halaman depan Yahoo! Indonesia yang baru!

Kirim email ke