Uraian Bapak Presiden SBY ini memang panjang lebar, namun terasa cukup
teoretis. Etos kerja, iptek, kiat manajemen dan lain sebagainya yang terkait 
bersifat
universal, juga lintas agama. Yang penting adalah cara berpikir, yang di 
Tiongkok 
dilandasi oleh Confusianisme dan di Eropa, juga Amerika Utara dan Australia, 
oleh falsafat Yunani purba.

Ketika di Jepang bergulir Reformasi Meiji, mereka tidak memikirkan tentang 
siapa yang
menganut Shintoisme atau Zen Buddhisme. Korea Selatan dan kini RRT juga tidak
usah menggalang kekuatan penganut Konghucu (Confusius). India juga kini "tancap
gas" perekonomian tidak melihat pemainnya Hindu, Shik, Marxis, agnostik atau 
bahkan
atheis. Chavez, Morales dan lain-lain di Amerika Latin yang beragama Katolik 
juga
demikian. Saya yakin yang paling penting adalah akal sehat dan moral yang kokoh
untuk menggapai semuanya yang diperlukan untuk kemajuan pada abad 21 ini.

Untuk menukik kebumi, saya pikir Indonesia dan bangsanya, apapun agamanya,
seharusnya terutama memikirkab pembangunan menyeluruh dinegeri sendiri. Ini
tanpa melupakan bahwa ada dunia yang punya 1001 masalah, yang kita harus sharing
juga. Globalisasi sudah mundur namanya karena ternyata hanya istilah baru untuk
perluasan empirium modal multinasional. Yang oleh Presiden Soekarno diberi nama
Nekolim. Tentu imbasnya bagi RI sangat besar. Kita harusnya mempunyai konsensus
nasional sekait, misalnya, operasi MNCs seperti Exxon Mobile, Freeport dll.

Kita memang harus juga memikirkan situasi internasional. Namun "basis" kita 
ialah
negeri kita sendiri, yang bersama rakyatnya memerlukan segudang perbaikan dan
kemajuan, yang sifatnya sangat multi-dimensional.

Tanpa kemjauan-kemajuan yang bagaimanapun tampak kecil, namun harus tangible
(bisa diraba, dirasakan), di negeri kita sendiri, suara kita di mancanegara 
akan selalu
terdengar bizzare (aneh, lucu). Bangsa Ceko punya pepatah: "Bersihkanlah 
halaman 
sendiri, sebelum membicarakan halaman tetangga". Saya yakin ini ada wisdomnya.

Bismo DG, Praha


  ----- Original Message ----- 
  From: Sunny 
  To: Undisclosed-Recipient:; 
  Sent: Wednesday, May 30, 2007 12:17 PM
  Subject: [nasional-list] Islam dan Tantangan Modernisasi



  REPUBLIKA
  Selasa, 29 Mei 2007


  Islam dan Tantangan Modernisasi 

  Susilo Bambang Yudhoyono
  Presiden Republik Indonesia


  Setiap hari sekarang kita menghadapi dunia yang penuh dengan tantangan dan 
peluang. Dunia ini telah diwarnai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan 
teknologi yang sangat pesat. Kekuatan pasar yang kuat telah banyak memainkan 
peran dalam arena perdagangan dan investasi. Di sisi lain, kita juga mendapati 
dunia ini banyak menghadapi ancaman kemiskinan dengan segala dampaknya.

  Negara-negara berkembang pun harus menghadapi ancaman kegagalan untuk 
mencapai Millenium Development Goals (MDGs). Ancaman lain yang juga mematikan 
adalah dunia ini harus menghadapi bencana alam yang disebabkan oleh pemanasan 
global. Kita, umat Islam, tidak bisa lari dari dunia yang suram ini. Kita harus 
menghadapinya. Jika mampu bijaksana dalam menghadapinya, kita bisa membangun 
peluang untuk membuat dunia ini menjadi lebih baik.

  Persoalannya sekarang adalah apa yang bisa kita kerjakan untuk menghadapi 
tantangan sosioekonomi saat ini. Apa yang bisa dilakukan masing-masing negara 
untuk menghadapi tantangan berupa ketidakseimbangan ekonomi global, kerawanan 
arus finansial, kemiskinan, kelangkaan pangan dan energi, serta pemanasan 
global? Kemudian juga apa yang bisa kita lakukan sebagai umat untuk menghadapi 
tantangan itu sehingga kita bisa menjadi bagian dari pemecahan masalah, dan 
bukan menjadi bagian dari masalah?

  Kekuatan dunia Islam
  Sebagai langkah awal, kita semua harus menyadari bahwa kita tidaklah dalam 
kondisi tidak punya harapan. Kita tidak lemah. Kita menjadi terlihat lemah 
karena kita tidak bekerja sama. Kita juga menjadi lemah karena kita telah 
meyakini bahwa diri kita lemah.

  Di tahun 2005, jumlah umat Islam yang berada di negara-negara anggota Islamic 
Development Bank adalah 2,2 miliar jiwa atau sama dengan 31 persen populasi 
umat manusia di dunia. Yang lebih penting lagi dunia Islam saat ini menyediakan 
70 persen kebutuhan energi dunia dan menyediakan 40 persen bahan mentah untuk 
ekspor. Kenyataan tersebut merupakan bukti kekuatan kita. Karena itu, kita 
harus memainkan peran yang setara dengan bangsa-bangsa lain dalam membangun 
percaturan ekonomi dunia. 

  Kita bisa dan harus memperoleh keuntungan yang lebih besar dalam menjalin 
hubungan dengan dunia lain. Ada beberapa hal yang harus kita kerjakan. Kita 
harus proaktif dan mengetahui apa yang kita inginkan. Kita harus mengetahui apa 
yang masuk akal untuk kita peroleh dalam menjalin hubungan dengan negara lain 
dalam kerangka hubungan saling menguntungkan. Kita juga harus bekerja lebih 
baik dalam menjelaskan dan mengonsolidasikan posisi kita. Selain itu, kita juga 
harus berani melawan upaya yang memecah belah dan mengalahkan kita.

  Ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan salah satu hal penting. Jika 
negara-negara mapan memerlukan energi dan komoditas kita, negara kita harus 
mendapatkan keuntungan dari mereka dalam perdagangan yang adil, serta tambahan 
ilmu pengetahuan dan teknologi. Karena itulah, kita membangun hubungan yang 
inovatif dan saling menguntungkan.

  Kita tidak bisa selamanya menjadi penyedia bahan-bahan mentah. Kita juga 
harus mencari modal untuk mendapatkan nilai tambah dari komoditas kita dan bisa 
meratakan keuntungan ekonomi dari langkah tersebut untuk kepentingan masyarakat 
yang lebih luas. Kita harus membuat langkah penting dalam mengembangkan sumber 
daya manusia dalam mengembangkan kemitraan dunia perdagangan dan investasi. 

  Setiap langkah dalam interaksi perekonomian haruslah menghasilkan pertumbuhan 
pengetahuan, keterampilan, dan orientasi positif di masyarakat. Untuk itu, 
dunia Islam harus mengubah persepsi kemitraannya. Kita harus mengubah perlakuan 
negatif mereka terhadap kita, menjadi perlakuan yang positif. Tapi, kita tidak 
akan bisa mengubah orang lain tanpa mengubah diri kita sendiri. Kita tidak bisa 
meminta dunia yang mapan untuk menghapus hambatan bea masuk, jika kita sendiri 
tidak mau melakukannya.

  Potensi bisnis
  Salah satu bukti penting yang perlu kita miliki adalah kita harus terus 
mengurangi hambatan dalam perdagangan dan investasi, sehingga bisnis yang lebih 
besar bisa berputar dalam dunia Islam. Kita memerlukan cara untuk mengembangkan 
cakupan bank syariah. Perbankan dunia Barat dan lembaga keuangan mereka telah 
menerapkan sistem tersebut dengan sangat cepat.

  Sebagai contoh, Asuransi Allianz telah mengembangkan produk syariah yang 
sangat laku di Indonesia. Satu lagi transaksi yang sangat besar dengan sistem 
syariah dilakukan oleh HSBC dengan membuat sindikasi pinjaman senilai 322 juta 
dolar AS untuk Pertamina dari kelompok besar lembaga finansial di Timur Tengah. 
Cara serupa juga dilakukan untuk Krakatau Steel dengan nilai 75 juta dolar AS. 
Langkah-langkah mobilisasi untuk perkembangan dunia keuangan yang diterapkan di 
berbagai negara Islam, bank syariah mampu menciptakan kesempatan kerja bagi 
jutaan angkatan kerja kita.

  Kita juga akan keliru jika tidak mengambil keuntungan dari produk halal. 
Dengan jumlah umat Islam yang sangat besar, pasar dari produk halal bisa 
mencapai 600 miliar dolar AS per tahun, dengan rata-rata pertumbuhan 20-30 
persen. Apalagi, kalangan non-Muslim juga bisa mengonsumsi produk halal. Apa 
yang perlu kita kerjakan adalah membangun dan menyetujui standar sertifikat 
halal yang berlaku di seluruh dunia.

  Potensi lain yang juga sangat mungkin untuk dikembangkan adalah sektor wisata 
di dunia Muslim. Sejauh ini, hanya Turki dan Malaysia yang telah menjadi 
pemenangnya. Kedua negara tersebut menjalankan promosi yang sangat agresif 
untuk menarik pasar dari kalangan umat Islam. Karena itu, kita harus meluaskan 
jaringan dan bersama-sama mengembangkan promosi yang agresif dan berkoordinasi 
secara teknis menyangkut transportasi, keimigrasian, pembangunan infrastruktur, 
dan sebagainya. 

  Untuk mengembangkan berbagai kemampuan tersebut, peran madrasah juga harus 
ditingkatkan. Ini juga berarti perlunya penyempurnaan kurikulum untuk 
menjadikan mereka sebagai centers of excellence. Kita juga memerlukan 
kesempatan untuk membuat kontrak, jaringan, dan hubungan yang nyata di antara 
para pengusaha, penduduk, dan kalangan lain. Ada banyak hal yang bisa dilihat 
dan dijadikan inspirasi dari kemajuan yang diperoleh penerima penghargaan 
Nobel, Muhammad Yunus dang Grameen Bank-nya. Kerja besarnya berurusan dengan 
usaha mikro. Langkah ini mendorong seluruh masyarakat untuk menciptakan peluang 
bagi generasi mendatang.

  Kita di Indonesia juga membangun program kredit mikro sejak tahun 1970-an. 
Bank Rakyat Indonesia yang berdiri 1895 mengumpulkan dana dari masjid yang 
telah disalurkan menjadi kredit mikro bagi rakyat kecil. Sebanyak 4.000 
kantornya setiap hari melayani lebih dari 30 juta pelanggan yang umumnya petani 
miskin dan masyarakat di daerah terpencil.

  Bersamaan dengan itu, kita juga memerlukan untuk merevitalisasi lembaga 
ekonomi Islam kita. Terutama, kita harus membuang kemungkinan adanya potensi 
buruk dari IDB dan lembaga turunannya. Karena itulah, menjadi berita besar 
ketika Organisasi Konferensi Islam (OKI) telah menerima Program Kerja 10 Tahun 
yang memandatkan untuk membentuk badan sponsor untuk mengurangi kemiskinan di 
bawah IDB.

  Sebagai negara, Indonesia harus berperan untuk mengembangkan dunia Islam 
dengan bekerja sama dengan negara-negara Islam dalam bidang investasi, 
perdagangan, pengamanan energi, juga pembangunan infrastruktur. Indonesia 
adalah roda ekonomi terbesar di Asia Tenggara dengan pertumbuhan ekonomi tahun 
ini diharapkan mencapai 6,3 persen. Pasarnya juga sangat menggiurkan, yakni 
dengan 220 juta penduduk, sumber daya alam yang melimpah, performa 
makroekonomi, dan sebagainya. Indonesia bisa menjadi mitra yang prospektif bagi 
semuanya. 

  *Disampaikan dalam Pertemuan Ketiga World Islamic Economics Forum di Kuala 
Lumpur, Malaysia.

  Ikhtisar 

  - Saat ini, dunia Islam menghadapi dunia yang tumbuh dengan pesat.
  - Globalisasi ekonomi belum menempatkan dunia Islam berada pada posisi 
sejajar dengan negara-negara yang perekonomiannya mapan.
  - Dunia Islam harus terus mengembangkan kerja sama supaya bisnis di kalangan 
dunia Islam sendiri terus meningkat.
  - Indonesia harus berperan dalam upaya untuk memperbaiki kondisi tersebut

   

Kirim email ke