On Thu, 12 Jun 2003, Marhaena wrote:
> disertai oleh quote2 dari thread ini dan pertanyaan2 hanya untuk
> memastikan... setelah pertanyaan2 tersebut dijawab, kita nyatakan bahwa
> trhead ini telah selesai dengan hasil email terakhir tersebut.
Menjadi memutar.mutar karena pada dasarnya anda tetap tak menerimabahwa
salah satu penyebab policy itu adalah kondisi mahasiswa, simple koq.
Kalau Anda menerima hal ini, mungkin tidak menjadi mutar-mutar
Dan satu lagi, Anda melihat diskusi ini dalam posisi dikhotomi
"pro-kontra" apalagi anda menganggap seperti pencapaian suatu kemenangan
(win-win, win-loose dsb). Sehingga menyebabkan, setiap komentar yg tidak
cocok (atau tidak yg seperti Anda harapkan) dianggap sebagai kontra.
Ini bukan diskusi politik demi kemenangan partai khan. Saya lebih melihat
diskusi seperti "brain storming" masing-masing pihak melengkapi cara
pandang keseluruhan (jadi belum tentu tidak sama dg yg kita harapkan
berarti kontra dg kita).
> 1. Mahasiswa "dianggap" lebih dewasa, tapi kenyataannya mahasiswa
> (Gunadarma) = siswa.
>
Kenyataan bicara seperti itu 8-), inget yg di mailing list ini hanya
berapa prosen dari mahasiswa yg ada. Dan bisa saya katankan yg di mailing
list ini sudah "lebih dari rata-rata" (sudah mau capek-capek pakai
Internet, subscribe ke maling list gunadarma). Nah bagaimana dg mahasiswa
yg kebanyakan. Silahkan ANda lihat, duduk di siang hari, lihat perilaku
mereka 8-)
Sebagai dosen, saya sering nongkrong bareng ama mahasiswa (nongkrong dalam
arti sesungguhnyya, saya tergolong dosen yg jarang duduk di ruang
dosen..he.h abis kurang funky dan groovy). Apalagi jaman saya masih pakai
rambut grondrong, dan celana gunung.. Nggak beda dg mahasiswa kalau lagi
nongkrong.
Dg cara ala "ethnographer" inilah informasi yg diperleh bisa lebih akurat
ketimbang "survey kuantitatif". Hehe sampai saya denger beriat ooh si A
kalau malam minggu suka ke sini, si B, suka ......, si C pas bikin PI cuma
"beli". Lha mahasiswanya nggak sadar pas ngegosip ada dosen yg lagi duduk
di antara mereka hehehehe
> Quote:
> >"Menurut saya ya karena memang masyarakat memang belum meletakkan
> >mahasiswa sebagai makhluk yg dewasa, yg bisa menentukan dirinya sendiri.
> >Masyarakat (termasuk mahasiswa)"
>
> Lalu bagaimana dengan binus yg dapat menerapkan perpustakaan terbuka? Apakah
> mahasiswa binus lebih dewasa dari pada mahasiswa gunadarma, sehingga binus
> berani mengambil risiko untuk membuka perpus terbuka?
Bisa saja, ingat dari "besar uang kuliah" dan siapa yg kuliah di Gunadarma
(jumlah mahasiswa), maka attitude mahasiswa yg masuk menjadi berbeda
(Gunadarma ini mirip dg Indonesia kecil, dg warganya yg beraneka ragam,
dari yg baik/pinter banget, sampai yg reseh/bloon banget). BTW justru
keragaman inilah yg menjadikan saya lebih memilih menjadi dosen Gunadarma
ketimbang dosen UI 8-)
Tidak usah jauh-jauh, saya menjadi asisten di tiga tempat pada saat yg
bersamaan saat saya kuliah. Di usia yg sama karakter mahasiswa (terhadap
kedewasaan) bisa berbeda.
BTW di beberapa sisi banyak mahasiswa Bina Nusantara mengakui Gunadarma
lebih baik daripada Bina Nusantara 8-). Tapi hal itu tak perlu dibahas.
> Lalu bagaimana kita menanggulangi hal ini, yaitu menjadikan mahasiswa
> Gunadarma menjadi "dewasa"... Apakah kita berdiam diri dan "let the
> nature takes its course"?
Suka atau tidak suka, seharusnya seperti itu (bila kita asumsikan
mahasiswa adalah makhluk yg dewasa. Apalagi kalau resikonya terlalu
besar ketika suatu policy diberlakukan.
Contoh hal resiko adalah, kenapa sedikit PTS yg berani menyekolahkan dosen
ke LN dg biaya sendiri (silahkan tanya, dari Trisakti, Binus, Perbanas
dll, dan bandingkan dg Gunadarma). Ini semua karena resiko.. misal dosen
ngabur padahal investasi sudah besar. Nah pertimbangan resiko dan
substitusi (kalau hal A tak dilakukan maka apa yg bisa menggantikannya)
lah yg menjadikan suatu policy diberlakukan.
Nah jadi si satu sisi yg resikonya besar, Gunadarma berani mengambil
resiko (karena itu memang dianggap merupakan komponen penting dan sulit
disubstitusikan) sedangkan bagi PTS lain hal itu tidak dilakukan karena
pertimbangan resiko dari substitusi yg ada (bayar aja sekedar nama dosen
S2, S3 hehehe).
> 2. Pihak kampus (Gunadarma) tidak bertanggung jawab atas qualitas pendidikan
> yang diterima oleh mahasiswanya.
>
> Quote :
> >Selama kita masih menitik beratkan bahwa hasil pendidikan itu adalah
> >"tanggung jawab kampus", maka kita masih meletakkan mahasiswa=siswa, lha
> >sekarang aja siswa level SMK udah mulai dididik ala "belajar mandiri",
> >masak mahasiswa masih mengharap dididik tidak secara mandiri.
>
> Lalu dimana peran kampus dalam memberikan pendidikan yg baik dan
> berkualitas?
Dalam pendidikan, semakin tinggi lembaga pendidikan, maka peran dia
sebagai "instruktional institute" semakin kecil, perannya hanya sebagai
fasilitator. Di SD guru/sekolah sangat berperang, di Uni mahasiswa jauh
lebih berperan (more than 60%), ini seharusnya yang terjadi.
Makin tinggi lagi (misal seperti saya S3 ini), Uni, Profesor makin kecil
perannya, semau bergantung pada si mahasiswa. Salah satu permasalahan dg
kondisi ketidak dewasaan mahasiswa, adalah ketika diberikan fasilitas yg
membutuhkan kedewasan mahasiswa, akhirnya terjadi "abuse".
Ujian mandiri madu atau racun
http://nakula.rvs.uni-bielefeld.de/cgi-bin/notes/notes.cgi?00132
Nah sekarang coba perhatikan dari yg paling simple yaitu masalah "absen".
Sering ketika saya mengajar saya membebaskan mahasiswa bahwa saya tidak
akan melihat absen (dg anggapan mahasiswa akan sadar dan datang karena
memang membutuhkan kuliah). Tapi yg terjadi, tetap saja mahasiswa datang
karena ingin absen, atau titip absen saja. Nah kedewasaan mahasiswa utk
datang sendiri saja masih rendah, apalagi utk belajar mandiri
Jadi bukan "TIDAK BERTANGGUNG JAWAB" tapi peran-nya makin berkurang.
TANGGUNG JAWAB tetap berada di tangan mahasiswa.
> 3. Pihak kampus tidak dapat merubah budaya membaca mahasiswa.
>
> Quote:
> >Mengharap sekolah, KepPres, UU, dsb utk merubah budaya membaca, itu adalah
> >hal mustahil. Kalau anda berharap budaya baca itu timbul karean telah
> >banyaknya buku, ini sama dengan yg disebut dg "Mitos Guttenberg" 8-)
>
Pertanyaan saya berapa prosen mahasiswa menghabiskan waktu di kampus,
berapa usia mahasiswa ketika masuk ke kampus. Kemudian berapa pengaruh
media (saran saya baca buku Rushkoff, Media Virus hehe)
Sangat "muskil" mengharap kampus dapat merubah budaya membaca mahasiswa
secara total. Kecuali masih diterapkan pendekatan "tidak dewasa" (anda
tidak baca, saya tidak bikin lulus.... ini sebetulnya malah salah dalam
asumsi mahasiswa sudah makhluk yg dewasa).
Sebagai contoh Internet. Sering Internet dianggap alat yg dapat mendorong
pendidikan, tapi kenyataannya ???. Nah pengaruh media seperti inilah (TV
pun di th 1950-an tadinya dianggap sebagai alat yg akan membantu
pendidikan)
Internet.. alat produksi atau konsumsi
http://nakula.rvs.uni-bielefeld.de/cgi-bin/notes/notes.cgi?00110
>
> 4. Pihak kampus tidak dapat merangsang mahasiswa untuk pergi ke
> perpustakaan.
>
> Quote:
> >Nggak janji deh, lha udah dikasih paper, siap difoco copy, buku ada aja
> >masih sedikit yg ngejalanin tugas 8-) Memberi tugas, yg bukunya ada di
> >perpus, akan membuat mahasiswa ke perpus ?? ilusi deh kayaknya.
> >Memang sepertinya sadis banget kedengarannya, tapi itu kenyataan. Saya
> >sudah mengajar di GD lebih dari 10 tahun khan 8-)
>
> Apa betul dosen tidak mempunya peran sama sekali?
Dari pengalaman seperti itu. Menurut pengamatan saya, situasi di
Indonesia peran "peer" (rekan setingkat) lebih besar daripada peran dosen
(vertical). Kebetulan di tempat saya lagi banyak beberapa guru-guru SMK
yg praxis, kita tiap hari diskusi pengalaman mengajar dari berbagai
tempat. Rata-rata siswa/mahasiswa lebih terpacu melakukan perbaikan bukan
karena suatu "nilai absolut" yg ditetapkan si pengajar, tetapi lebih
kepada teman-teman sekelasnya.
Mengapa antri sulit
http://nakula.rvs.uni-bielefeld.de/cgi-bin/notes/notes.cgi?00133
Peran dosen saat ini bisa dikatakan makin kecil. Mahasiswa akan lebih
melihat ke teman sejawat (temen-temen nggak baca buku, nggak ke perpus,
saya juga nggak ah). Temen-temen beli HP baru.. saya harus beli HP baru.
dsb..dsb..
BTW, Anda sepertinya senang sekali menggunakan kuantitatif yg extreem
seperti "sama sekali tidak mempunya peran", "tanggung jawab total kampus"
dsb.. Dalam pendidikan yg terjadi adalah "prosentase", berapa prosen
tanggung jawab mahasiwwa, berapa prosen pengaruh media.
> 5. Pihak kampus tidak dapat memberi "pecutan" (rangsangan untuk belajar)
> untuk mengembangkan diri mereka.
>
> Qoute:
> >Membiarkan sistem seperti "pecutan" berarti membiarkan mahasiswa terlena
> >tidak untuk menjadi dewasa, ini sebetulnya lebih berbahaya.
>
> Berarti lebih baik kampus (Gnadarma) tidak memberi pecutan kepada
> mahasiswanya karena "berbahaya", begitu?
Dalam konsep mahasiswa di"asumsikan" sebagai makhluk dewasa, maka
memberikan model lecutan ala "paksaan" sebetulnya malah tidak mendidik.
Kalau mau seperti ini gampang, bikin sistem saringan bukan sistem
pendidikan.
Mudah membuat lulusan Uni yang berkualitas
http://nakula.rvs.uni-bielefeld.de/cgi-bin/notes/notes.cgi?00135
Tapi pertanyaan saya adalah, apakah itu sistem pendidikan yg bener ??
> Pertanyaannya adalah seberapa jauh alumni "masuk" dalam sistem kampus? Kalau
> saya jutawan saya juga bisa ngasih uang dan saran (sebagai bagian dari
> sistem kampus)... tapi bukan berarti ikut ke lapangan dan "angkat pacul"
> kan?.. :)).... atau nanti malah dibilang... "ahhh.. bisanya cuma ngasih
> duit/proyek doank... tapi gak ikut bantu ke lapangan..." :))
Banyak cara yg bisa dilakukan alumni utk ke kampus misal membantu secara
langsung beberapa kegiatan :
Student-Directed Computing Community
http://nakula.rvs.uni-bielefeld.de/cgi-bin/notes/notes.cgi?00121
Kontribusi mahasiswa atau alumni yang telah bekeja
http://wiryana.pandu.org/artikel/al-kerja.html
> Comment dikit nih... hihihihihi... kaya Bapak ngga tau aja... kalo yg
> namanya proyek itu sudah melibatkan uang, dan kata uang itu mempunyai arti
> yg lebih luas dari sekedar alumni, sistem, Uni. dll... :))
Terlepas dari berapa prosen yg dierpoleh si pembawa proyek, tetapi "nilai"
sumbangan yg diberikan ke Uni tersebut tetap besar. Tetapi banyak juga yg
memberikan proyek "grant" ke Uni. Nah bantuan ini bisa berupa, buku,
informasi, "proyek buat mahasiswa" dsb..
Pertanyaan saya, adakah alumni yg sudah melakukan hal itu ke Gunadarma ???
Tidak suah muluk-muluk (dana atau proyek), informasi, buku idea yg
"do-able" lah dulu. Membuat idea yg muluk, yg perubahannya dan aksi nya
diharapkan dari orang lain adalah mudah (misal sistem diubah dulu, UU
diubah dulu, saya tak perlu berubah nanti aja kalau udah berubah).
> Pertanyaan terakhir adalah, apa sebenarnya misi dan visi Gunadarma, dari
> sini kita bisa tau semua... jika memang "kondisi Gunadarma yg sekarang ini"
> sesuai dengan misi dan visi nya, ya apa boleh buat... :)
Bisa dibaca di buku Gunadarma. Tapi apa yg ada di benak (dan asumsi
Gunadarma) bisa berbeda dg apa yg ada di benak mahasiswa dan masyarakat
(contoh kedewasaan mahasiswa sebagai prasyarat atau tujuan)
BTW saya sering gabung di milis alumni, ada beberapa kesan
Fenomena milis alumni
http://nakula.rvs.uni-bielefeld.de/cgi-bin/notes/notes.cgi?00076
IMW
NB : kalau di milis mahasiswa, saya sering memprotest "attitude" mahasiswa
kalau di milis staff saya sering memprotest "attitude" dosen.
* Gunadarma Mailing List -----------------------------------------------
* Archives : http://milis-archives.gunadarma.ac.id
* Langganan : Kirim Email kosong ke [EMAIL PROTECTED]
* Berhenti : Kirim Email kosong ke [EMAIL PROTECTED]
* Administrator: [EMAIL PROTECTED]