On Thu, 12 Jun 2003, Marhaena wrote:

> > Menjadi memutar.mutar karena pada dasarnya anda tetap tak menerimabahwa
> > salah satu penyebab policy itu adalah kondisi mahasiswa, simple koq.
> 
> hehehehe... Bapak lupa ya... kan saya sudah setuju kalo "kondisi mahasiswa"
> juga harus dirubah,... :) tapi.... menurut saya kampus juga mempunyai peran
> yg sangat penting untuk memulihkan "konsisi mahasiswa", ini quote dari email
> saya yg saya tujukan ke Mark:

Nah di sini permasalahnnya, artinya tetap Anda menganggap "dewasa" adalah
tujuan dari proses di kampus, bukan pra-syarat.  Nah kalau asumsi Anda
seperti ini, ya artinya dalam kondisi apapun ketidak dewasaan mahasiswa
adalah kesalahan kampus. Jelasnya

Sedangkan pendapat saya, dewasa adalah "pra-syarat" dalam asumsi
kehidupan di kampus.  Lha kalau sudah sebagai pra-syarat artinya kampus
tidak berperan dalam membentuk kedewasaan itu (lha sebagai syarat koq).

1.      Mahasiswa ---> Kampus ---> Mahasiswa dewasa  (asumsi yg ada)
2.      Mahasiswa dewasa ---> Kampus                 (asumsi seharusnya)

Kalau nomer 1 yg diambil, artinya Mahasiwa = Siswa.  Seperti di Jerman,
seorang lulusan SMA (Abitur) tidak masuk ke Uni bila dia tidak menganggap
dirinya "cukup dewasa".  Karena kedewasaan itu adalah pra-syarat suatu
sistem perkuliahan di Universitas.  Uni tidak akan merubah mahasiswa
menjadi mahasiswa dewasa.  

Contoh gamblang, kalau Anda masuk Uni di Jerman harus bisa bahasa Jerman
(ini prasyarat) kalau setelah lulus anda tidak bisa bahasa Jerman, apakah
artinya Uni di Jerman gagal membuat anda bisa berbahasa Jerman ?.  Ya
salahnya Anda khan, koq masuk "gaya-gayaan" nganggep diri anda udah bisa
heheh

Nah jadi di sini beda asumsi awalnya antara "pra-syarat" dan "tujuan".
(kalau mata kuliah ada pre-requisite, dan goal dari tiap mata kuliah).

Atau memang di Indonesia mahasiswa itu makhluk yg belum dewasa, sehingga
perlu masuk ke Uni agar jadi dewasa ???? 

> Quote:
> 1. Prilaku mahasiswa (Gunadarma) belum bisa bertanggung jawab dan belum
> dewasa.
> 2. Univ. Gunadarma masih mempunyai kekurangan2 dalam managementnya,
> contohnya adalah, perpustakaan, loket, sekjur (thread inii) dll.

Dari 2 point itu kenapa saya lebih menitik beratkan nomor 1 karena

      Anggapan salah    Waktu perubahan   Cara perubahan
 
1       Sedikit             Lama            Tak diketahui
2       Banyak              Cepat              Diketahui

Nah kalau dari dua kondisi itu ada (kita bisa dengan mudah, merubah
kekurang loket dari managemen itu mudah, bikin SK baru, gaji naik,
berubah, tapi merubah perilaku mahasiswa walau peraturan telah berubah
bisa bertahun-tahun.... saya tahu pasti karena sudah sering melakukan hal
ini.

Kenapa no 2 cara perubahan diketahui, karean relatif pelaksanaan kampus,
management dg mudah bisa di"bandingkan" (contoh bandingkan dg Uni lain
misal perpus Gunadarma dg perpus Binus, bila tidak sama rubah SK beres).
Sedankan kalau nomor 1, mahasiswa kampus A brengsek, mahasiswa kampus B
baik, bagiamana merubahnya ???? nobody knows hehehehe

Yang jadi pertanyaan di sisi mana kita harusnya berkonsentrasi utk point
Anggapan salah, silahkan Anda bandignkan artikel di koran, majalah, milis
yg ada, berapa prosen yg menyalahkan mahasiswa sebagai kontributor
buruknya kualitas pendidikan 8-)

> > "pro-kontra" apalagi anda menganggap seperti pencapaian suatu kemenangan
> > (win-win, win-loose dsb).  Sehingga menyebabkan, setiap komentar yg tidak
> > cocok (atau tidak yg seperti Anda harapkan) dianggap sebagai kontra.
> 
> Ah Bapak bisa aja buat kalimatnya... masa sih Bapak tidak tau maksud saya,
> bahwa win-win solution itu ya bukan untuk saya Pak... tapi untuk mahasiswa
> dan kampus... dimana mahasiswa membenahi dirinya dengan peran serta
> kampus... bila itu terjalin kan jadi win-win solution... mahasiswanya
> berkembang, kampus juga berkembang... begitu lho Pak.... :)

Lho saya tidak membuat-buat kalimat itu koq = Utk jelasnya baca :

        Web and the new reality
        http://www.searls.com/webnew2.html

Ketika kita membahas suatu masalah dg tujuan "win/win" atau "win/loose"
artinya kita sudah membuat dikhotomi bahwa ada yg menang ada yg kalah.
Dengan kata lain kita tetap berada di level "Reality 1.0" di artikel
tersebut.

Istilah win/loose, win/win itu sebetulnya mulai ngetop khan dari bukunya
si Leslie Thurrow (Zero Sum society, artinya kalo ada 1 yg menang yg
lainnya harus kalah). 

> Nah... Letak pro-kontranya adalah... seperti yg saya katakan diatas... saya
> (dan sebagian subscriber disini) berpendapat bahwa kampus juga mempunyai
> peranan penting dalam membangun mahasiswanya... tapi Bapak (dan rekan2 lain
> disini) tidak berpendapat demikian...  berarti ada pro dan kontra kan
> Pak?... :)

Anda kurang teliti membacanya 8-), saya tidak berpendapat kampus TIDAK
berperan tetapi KURANG berperan.  Menggunakan "operator" pro/kontra itu
membatasi logika bahasanya menjadi "boolean". 

Kampus berperan penting dalam membangun mahasiswa bisa di"interpretasikan"
bukan aturan/sistem perkuliahan di kampus yg membuat mahasiswa menjadi
"terbangun", tapi mahasiswa setara di kampus itu yg membuat mahasiswa
"terbangun", bukan sistem manajemen di kampus itu (hehe saya kuliah di PTN
juga jadi bisa paham apa yg sebetulnya terjadi sehingga di "PTN" mahasiswa
bisa terbangun, bukan sistem PTN-nya tetapi akibat "peer" mahasiswa, yaitu
mahasiswa seangkatan, kakak kelas, adik kelas).

Dg kata lain "atmosfir" yg terbentuk di peer yg menyebabkan mahasiswa
menjadi membangun dirinya sendiri (saya inget kuliah di UI, sering 1
semester perkuliahan hanya 4 kali !!!!, perpustakaan minim (buku nggak
ada), dosen nggak pernah ngasih catatan, nggak masuk tanpa pemberitahuan,
tugas menumpuk, tetapi "nilai-nilai sosial" yg ada antara "peer" yg
membuat mahasiswa dipaksa belajar mandiri.  

Bandingkan dg kondisi di Gunadarma, dosen lebih rajin, catatan perkuliahan
lebih rapih, buku dapat per semester, perpustakan lebih isi, dosen gngak
masuk ditelfon BAAK atau dicari dosen pengganti.  Tetapi "nilai sosial" yg
ada di mahasiswa yg berbeda.  Sehingga mahasiswa menjadi tetap kurang
terdorong belajar mandiri.

Atau Anda ingin Gunadarma dikondisikan seperti yg pertama ??? bisa-bisa
mahasiswa malah main kartu mulu..h.e.he.he.

> Supaya kita bisa dapat pandangan dari kalangan lain, sosiolog, psycolog,
> dosen, prof, dll... (bukan hanya kalangan teknis), saya akan print
> kesimpulan dan beberapa email dari thread ini untuk dimintai pendapat mereka
> mengenai diskusi ini... ;)

Oh silahkan koq... btw kalau anda rajin ikut milis lain juga sering nongol
diskusi seperti ini 8-)

IMW


* Gunadarma Mailing List -----------------------------------------------
* Archives     : http://milis-archives.gunadarma.ac.id
* Langganan    : Kirim Email kosong ke [EMAIL PROTECTED]
* Berhenti     : Kirim Email kosong ke [EMAIL PROTECTED]
* Administrator: [EMAIL PROTECTED]

Kirim email ke