I Made Wiryana <[EMAIL PROTECTED]> menulis: > Dan satu lagi, Anda melihat diskusi ini dalam posisi dikhotomi > "pro-kontra" apalagi anda menganggap seperti pencapaian suatu kemenangan > (win-win, win-loose dsb). Sehingga menyebabkan, setiap komentar yg tidak > cocok (atau tidak yg seperti Anda harapkan) dianggap sebagai kontra. > > Ini bukan diskusi politik demi kemenangan partai khan. Saya lebih melihat > diskusi seperti "brain storming" masing-masing pihak melengkapi cara > pandang keseluruhan (jadi belum tentu tidak sama dg yg kita harapkan > berarti kontra dg kita).
Setuju. Saya sering mengamati (walaupun tidak memiliki sedikitpun pengetahuan ilmiah seperti Pak Made), menurut pendapat saya banyak sekali mhs/dosen yang bila dalam sebuah diskusi merasa bahwa pendapatnya/pemikirannya merepresentasikan dirinya (baca: harga diri). Sehingga bila ada sanggahan terhadap pendapat/pemikiran yg serupa dgn yg org itu miliki, org tsb cenderung merasa "tersinggung" atau "terserang". Menurut saya pendapat2 yg dibahas dlm sebuah diskusi merupakan hal yang tidak perlu dikaitkan dgn harga diri pencetusnya atau semacamnya. Karena sebuah diskusi layaknya membahas pendapat2 tsb (konten diskusi), bukan harga diri dari pencetus pendapat tsb, sehingga tak perlu seorangpun peserta diskusi tsb merasa AGG (agak gimana gitu :D ). CMIIW yaa.. namanya juga saya coba sharing, kalau sesungguhnya ada ilmu yg mempelajari hal ini, tlg diberitahu, untuk saling melengkapi :) > > Lalu bagaimana kita menanggulangi hal ini, yaitu menjadikan mahasiswa > > Gunadarma menjadi "dewasa"... Apakah kita berdiam diri dan "let the > > nature takes its course"? > > Suka atau tidak suka, seharusnya seperti itu (bila kita asumsikan > mahasiswa adalah makhluk yg dewasa. Apalagi kalau resikonya terlalu > besar ketika suatu policy diberlakukan. Rasanya ada banyak hal yg bisa kita lakukan, yg penting harapan bahwa "suatu saat mhs akan lebih dewasa" tidak pernah pupus.. keep optimistic :) > > 2. Pihak kampus (Gunadarma) tidak bertanggung jawab atas qualitas pendidikan > > yang diterima oleh mahasiswanya. > > > > Quote : > > >Selama kita masih menitik beratkan bahwa hasil pendidikan itu adalah > > >"tanggung jawab kampus", maka kita masih meletakkan mahasiswa=siswa, lha > > >sekarang aja siswa level SMK udah mulai dididik ala "belajar mandiri", > > >masak mahasiswa masih mengharap dididik tidak secara mandiri. > > > > Lalu dimana peran kampus dalam memberikan pendidikan yg baik dan > > berkualitas? > > Dalam pendidikan, semakin tinggi lembaga pendidikan, maka peran dia > sebagai "instruktional institute" semakin kecil, perannya hanya sebagai > fasilitator. Di SD guru/sekolah sangat berperang, di Uni mahasiswa jauh > lebih berperan (more than 60%), ini seharusnya yang terjadi. Semoga dgn bertambahnya pengetahuan thdp hal ini, kita2 yg peduli dgn Gunadarma tidak berhenti utk menjalankan fungsi kontrol thdp kualitas mhs, dosen, staff, manajemen, operasional, dll-nya Gundar. > Dalam konsep mahasiswa di"asumsikan" sebagai makhluk dewasa, maka > memberikan model lecutan ala "paksaan" sebetulnya malah tidak mendidik. > Kalau mau seperti ini gampang, bikin sistem saringan bukan sistem > pendidikan. :D Yg menarik di sini adalah, dari mana sih asal muasalnya mhs itu cenderung lebih menyukai dipecut? Apa sekedar budaya, kebiasaan, latar belakang, atau bagaimana sebenarnya? > Banyak cara yg bisa dilakukan alumni utk ke kampus misal membantu secara > langsung beberapa kegiatan : > > Kontribusi mahasiswa atau alumni yang telah bekeja > http://wiryana.pandu.org/artikel/al-kerja.html Wah baru baca nih saya (kelewat). Pak Made, gimana caranya utk bisa ikutan nambahin entri di situ? (meski saya bukan di perush besar spt mereka2 itu :) ) -- mr * Gunadarma Mailing List ----------------------------------------------- * Archives : http://milis-archives.gunadarma.ac.id * Langganan : Kirim Email kosong ke [EMAIL PROTECTED] * Berhenti : Kirim Email kosong ke [EMAIL PROTECTED] * Administrator: [EMAIL PROTECTED]
