On Thu, 12 Jun 2003, Mark Rompies wrote: > Setuju. Saya sering mengamati (walaupun tidak memiliki sedikitpun > pengetahuan ilmiah seperti Pak Made), menurut pendapat saya banyak > sekali mhs/dosen yang bila dalam sebuah diskusi merasa bahwa > pendapatnya/pemikirannya merepresentasikan dirinya (baca: harga diri). > Sehingga bila ada sanggahan terhadap pendapat/pemikiran yg serupa dgn > yg org itu miliki, org tsb cenderung merasa "tersinggung" atau > "terserang".
Sebetulnya ini bersumber dari minimnya "pendidikan diskusi dan politik" (bukan politik praktis, jadi tak ada hubunanya mata pelajaran politik, dg politik praktis, tetapi dg mekanisme pengambilan keputusan ) yg diterima oleh para mahasiswa sejak bangku sekolah. Artinya kondisi mereka di mahasiswa itu adalah "imbas" dari pendidikan yg mereka terima dari SD, SMP, SMA dan di rumah 8-). Nah justru setelah mereka mahasiswa yg diharapkan mereka sadar dan melakukan perubahan mandiri terhadap kekurangan yg telah mereka terima selama ini. Jangan cuma berhenti dan menyalahkan "ini salah pendidikan SD, SMP, SMA, Uni, orang tua, masyarakat," .. jangan jangna ntar "Inul" juga disalahin, yg penting diri sendiri nggak salah 8-) Di bangku SD di Jerman ini ada mata pelajaran yg namanya "politik". (biasanya kelas 5 SD) mereka akan dikelompokkan dalam kelompok yg berbeda, dan diberi tugas utk membahas sesuatu melalui diskusi. Hasil dari keputusan tidak begitu penting, tapi yg penting adalah bagaimana mekanisme pengambilan keputusan itu. Ketika di bangku mahasiswa, mata kuliah "Seminar" mahasiswa akan lebih aktif melakukan presentasi di depan kelas, dan saling berdiskusi. Model seperit ini ketika diterapkan di Gunadarma menjadi kurang jalan. Mahasiswa seperti "gamang" ketika berdiskusi, (banyakan yg bisik-bisik di belakang aja). > CMIIW yaa.. namanya juga saya coba sharing, kalau sesungguhnya ada > ilmu yg mempelajari hal ini, tlg diberitahu, untuk saling melengkapi > :) Justru itu daripada memikirkan ini "pro-kontra" saya lebih suka melihat merupakan suatu hal yg saling melengkapi. Artinya suatu "peristiwa" terjadi karena beberapa aspek yang ada. > > Suka atau tidak suka, seharusnya seperti itu (bila kita asumsikan > > mahasiswa adalah makhluk yg dewasa. Apalagi kalau resikonya terlalu > > besar ketika suatu policy diberlakukan. > Rasanya ada banyak hal yg bisa kita lakukan, yg penting harapan bahwa > "suatu saat mhs akan lebih dewasa" tidak pernah pupus.. keep > optimistic :) Menurut saya pribadi mahasiswa itu saat ini adalah "korban" pandangan masyarakat. Sehingga mereka tidak terpacu untuk menjadikan dirinya dewasa. Dengan kata lain akan selalu ada kondisi permisif, bila terjadi kondisi ketidak dewasaan. Kalau kita selalu punya senjata utk berada di posisi "diteteki" maka kita akan betah utk tak berubah. Tapi kalau diteteki terus disorakin ama temen... hii.. malu donk, masa udah gede masih netek.. tentu akan cepet berubah (netek dalam hal ini neteknya bayi lho.h.e.he.) Berbeda dg kondisi seperti di Jerman/atau negara Eropa, masyarakat sudah tidak memberikan "ampun" dalam hal ini. Jadi istilahnya kalau melihat mahasisswa yg kuliah "nggak beres" (tidak dewasa) maka yg disalahkan adalah si mahasiswa itu, bukan si Uni atau lembaga pendidikan. Sehingga mahasiswa tidak punya "kambing hitam" atau katup pelepas kesalahan. > > Dalam pendidikan, semakin tinggi lembaga pendidikan, maka peran dia > > sebagai "instruktional institute" semakin kecil, perannya hanya sebagai > > fasilitator. Di SD guru/sekolah sangat berperang, di Uni mahasiswa jauh > > lebih berperan (more than 60%), ini seharusnya yang terjadi. > Semoga dgn bertambahnya pengetahuan thdp hal ini, kita2 yg peduli dgn > Gunadarma tidak berhenti utk menjalankan fungsi kontrol thdp kualitas > mhs, dosen, staff, manajemen, operasional, dll-nya Gundar. Asal jangan fungsi kontrol yg diterapkan ternyata dg "Vorbild" (apa yg bahasa Indonesia yg pas, "model" mungkin) yg ternyata malah membuat makin salah. Sebagai contoh seperti komentar ttg dosen yg merangkap melakukan pekerjaan administrasi, ataupun resource sharing yg terjadi di Gunadarma. Karena di PTN yg sebagai "Vorbild" tidak terjadi resource sharing antar Fakultas, maka kondisi di Gunadarma dianggap lebih buruk (karena asumsinya PTN selalu lebih baik). Resource sharing yg saya maksud ini seperti Jurusan punya Lab sendiri, punya ruang sendiri, punya dosen sendiri (seperti pola hirarki Uni-Fakultas-Jurusan di PTN). Karena di Gunadarma tidak terjadi hal tersebut, maka disebut "salah", padahal yg terjadi di LN (ketika Uni harus lebih efisien), adalah kondisi seperti di Gunadarma. Ruang/Lab adalah milik "Uni" yg bisa disharing penggunaannya. Nah bayangkan kalau kontrol itu dilakukan terhadap "Vorbild" yg dianggap benar tapi ternyata salah 8-) (hanya karena kebiasaan lama saja). > > Dalam konsep mahasiswa di"asumsikan" sebagai makhluk dewasa, maka > > memberikan model lecutan ala "paksaan" sebetulnya malah tidak mendidik. > > Kalau mau seperti ini gampang, bikin sistem saringan bukan sistem > > pendidikan. > Yg menarik di sini adalah, dari mana sih asal muasalnya mhs itu > cenderung lebih menyukai dipecut? Apa sekedar budaya, kebiasaan, latar > belakang, atau bagaimana sebenarnya? Bisa dikatakan karena beberapa faktor 1. Budaya 2. Pendidikan sebelum kuliah 3. Pengharapan masyarakat (judgement) > > Kontribusi mahasiswa atau alumni yang telah bekeja > > http://wiryana.pandu.org/artikel/al-kerja.html > > Wah baru baca nih saya (kelewat). Pak Made, gimana caranya utk bisa > ikutan nambahin entri di situ? (meski saya bukan di perush besar spt > mereka2 itu :) ) Udah lama koq itu, dan asalnya dari masukan di milis ini. Sebetulnya saya punya rencana lebih besar dari itu (setup satu CMS di satu site, khusus utk masukan dari alumni), masalahnya siapa yg mau jadi volounteer ???? hihiihi jangan 4L ah (loe lagi. loe lagi) IMW * Gunadarma Mailing List ----------------------------------------------- * Archives : http://milis-archives.gunadarma.ac.id * Langganan : Kirim Email kosong ke [EMAIL PROTECTED] * Berhenti : Kirim Email kosong ke [EMAIL PROTECTED] * Administrator: [EMAIL PROTECTED]
