Bung Blucer,
Bukan saya yang bilang ada permainan. Untuk ini silahkan tanya
pada Bung Alex yang pertama bilang ada permainan.
kalau jatah doktor dari kantor habis, coba dong cari sendiri di
sekolah. Seringkali kan ada research assistantship. Kalau himpunan
profesinya punya mailing list, mungkin ada yang cari mahasiswa. Namun
dapat besiswa dari sekolah punya konsekuensio yang berat. Harus hidup
di lab. Seperti pegawai universitas saja tapi ditambah lagi dengan
banyak kerjaan dan waktu di lab dan kerjaan sendiri (kuliah dsb).
Kalau terima beasiswa dari Indonesia, kan seperti burung camar yang
bebas, datang kuliah, lalu pulang, ke perpustakaan kalau mmang perlu,
datang seminar kalau ada waktu dst. Tapi begitu dapat beasiswa dari
sekolah, datang ke kantor atau lab (atau kadang-kadang hanya
cubicle)jam 8 dan mulai kegiatan, misal kuliah ke perpustakaan, kerja
di lab dst. Selesai kegiatan, kembali lagi ke kantor. Dan jam kantor
mulai jam 8 tidak berarti itu pulang jam 5 sore. Itu berarti harus
datang lagi di kantor jam 8 malam. Tidak selamanya ketat seperti ini;
lebih banyak tergantung dari dosen pembimbingnya.
Selamat mencari beasiswa, semoga berhasil.
Wassalam,
Witjaksono
---Blucer Rajagukguk <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Setuju bung panut.
> Tapi ngomong-ngomong kalau memang ada 'permainan', bisa enggak
> disebutkan dimana dan gimana aturan mainnya. Kelihatannya dari kantor
> jatah buat doktor habis tuch :)
>
> Panut Wirata wrote:
> >
> > Untuk Alex:
> > Sebenarnya tanggapan ini tidak pada pokok bahwasan pemimpin
> > politik, tetapi hanya tanggapan atas sedikit komentar yang saya
nilai
> > berbau gosip dan karena itu perlu diluruskan.
> > Alex menyatakan bahwa telah menjadi rahasia umum bahwa dalam
> > kasus-kasus tertentu ada "permainan" dalam memperoleh jatah
beasiswa.
> > Saya kira Sdr. Alex perlu menjelaskan lebih lanjut tentang
pendapatnya
> > ini. Saya beranggapan bahwa beasiswa dalam hal ini adalah beasiswa
> > dari BPPT yang antara lain diperoleh Ketua Partai Keadilan Dr. Nur
> > Mahmudi.
> > Saya dengar-dengar bahwa untuk mendapat beasiswa itu tidak
mudah.
> > Harus melewati berbagai macam test. Selain itu, beasiswa sekolah
ke
> > luar negeri itu bukan hujan emas di siang hari, Bung. Kalau
kemampuan
> > intelektual Anda tidak memadai, Anda akan pulang dengan menanggung
> > malu....sebab begonya terbuktikan dengan tidak berhasil memperoleh
> > gelar master atau doktor. Dan beasiswa itu program pemerintah untuk
> > mengembangkan sumber daya manusia. Tak perduli pemerintahnya adalah
> > pemerintah Soeharto dan menterinya adalah Habibie, itu adalah
program
> > bagus, untuk kemajuan iptek tanah air. Saya kira sangat TIDAK
PANTAS
> > bila penerima beasiswa program tersebut lalu mendapat cap dekat atau
> > berkolusi atau apapun yang negatif dari Orba. Dan beasiswa dari
> > program itu juga tidak banyak, hanya cukup untuk hidup layak di
> > perantauan, bung.
> > Selain itu, saya kira adalah cara berfikir yang picik sempit
dan
> > tak termaafkan bila menganggap segala kejadian di bawah langit
> > Indonesia semasa orba adalah jelek. Anggapan segala yang berbau
orba
> > adlah jelek adlah pemikiran picik yang perlu ditinggalkan. Marilah
> > mencoba berfikir jernih menilai yang baik adalah baik dan yang jelek
> > sebagai jelek, tanpa main pukul rata.
> >
> > Wasalam,
> > Panut Wirata
> >
> > ---alex <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> > >
> > > Rekan-rekan,
> > >
> > > Yang juga harus diperhatikan adalah kehidupan sehari-hari
mereka......
> > >
> > > Apakah sebagai seorang PNS hidup dengan kewajaran sebagai sebagai
> > seorang
> > > PNS.......(saya tidak tahu apa ada diantara mereka memiliki
warissan
> > > yang luar biasa atau pernah memenagkan lotere).
> > >
> > > Maksudnya saya yang lebih konkrit mengenai rumah, kendaraaan, gaya
> > hidup,
> > > sumber-sumber pendapatannya........sehingga benar-benar
transparan,
> > > pembayaran pajaknya..........
> > >
> > > Memang terasa aneh semua itu bagi orang Timur, tapi saya rasa hal
> > itu tidak
> > > menjadikan alasan untuk tidak transparan.
> > >
> > > Mengeani beasiswa, sudah menjadi rahasia umum adanya "permainan"
dalam
> > > kasus-kasus tertentu dalm memperoleh jatah beasiswa.
> > >
> > > Salam
> > > AL
> > >
> > > At 07:56 19.01.1999 PST, you wrote:
> > > >>Harry Azhar Azis:
> > > >>
> > > >> Maafkan, kalau saya keliru. Setahu saya, Amin Rais masih PNS.
Jadi
> > > >bukan mengundurkan diri, tapi istilahnya non aktif. Posisinya
kira2
> > sama
> > > >dengan apa yang dilakukan selama ini oleh para PNS yang anggota
> > Golkar
> > > >dan kemudian terpilih sbg anggota DPR/MPR, mereka umumnya non
aktif
> > dari
> > > >PNS dan bukan mengundurkan diri. Saya belum mendengar Faisal
Basri
> > > >mengundurkan diri dari UI? Setahu
> > > >>saya ia masih sebagai ketua suatu lembaga resmi di FEUI. Baru2
ini,
> > > >Arbi Sanit bahkan tegas2 minta agar Amin Rais dan Yusril mundur
> > (total)
> > > >dari PNS, kalau mereka mau konsisten dengan sikap dan
perjuangannya.
> > > >>Otherwise,...
> > > >> Soal Anis Matta, saya hanya baca sendiri riwayat
hidupnya,
> > yang
> > > >pernah sampai ke meja saya. Ia memang kerja di Al Manar, tapi
> > > >>menurut daftar riwayat yang ditulisnya sendiri itu ia juga dosen
> > agama
> > > >di UI. Soal Sdr. Anis ini sebenarnya tidak terlalu penting.
Tetapi
> > yang
> > > >lebih penting, yang tidak anda komentari adalah ttg sdr. Nur
yang
> > > >sampai sekarang sebagai seorang pejabat BPPT dan ketua Partai
> > Keadilan
> > > >itu, yang jelas2 pernah dikirim sbg PNS tugas belajar ke Texas
> > (bukan ke
> > > >Jerman) untuk studinya ketika Soeharto masih jaya2nya dulu?
Sekali
> > lagi,
> > > >maaf, tidak ada niat saya untuk menjelek2kan para pemimpin itu.
Saya
> > > >pribadi termasuk yang kagum kepada satu dua di antara mereka atas
> > > >perjuangannya selama ini. Yang saya ingin katakan, dengan
mengambil
> > > >contoh2 itu, adalah bahwa tidak akan ada bedanya
> > > >>antara "omong kosong" di era Orba dengan "omong kosong" di
masa yad,
> > > >kalau para pemimpinnya tidak lebih dari sekedar "pemain
sandiwara".
> > > >Bukankah sikap2 serupa juga terjadi, banyak para "pemimpin"
Orba yang
> > > >menikmati kekuasaan (dan tidak pernah terdengar suaranya) di masa
> > > >jaya2nya Soeharto, kini setelah terdepak malah seolah2 menjadi
> > semacam
> > > >"pemimpin reformasi".
> > > >> Tentu anda bertanya kenapa saya memandang penting soal
> > posisi
> > > >>pemimpin politik di Indonesia saat ini? Jawabnya sederhana saja,
> > karena
> > > >Indonesia sampai saat ini tidak mempunyai satupun sistem
> > ketatanegaraan
> > > >yang mapan. Sehingga peran pemimpin politik menjadi penting dalam
> > > >membawa Indonesia bukan sekedar menjadi "panggung sandiwara".
> > Bandingkan
> > > >dengan Amerika Serikat, misalnya, karena sistemnya yang relatif
> > mapan,
> > > >pemimpin politik apalagi pemimpin negara tidak bisa "seenak
> > > >udelnya"berbuat tanpa kontrol ketat dari sistem dan rakyatnya.
> > > >> Kasihan memang rakyat kita, kalau yang memimpin mereka adalah
> > > >>"pemain sandiwara".
> > > >>Wassalam,
> > > >
> > > >
> > >
> >
> > _________________________________________________________
> > DO YOU YAHOO!?
> > Get your free @yahoo.com address at http://mail.yahoo.com
>
_________________________________________________________
DO YOU YAHOO!?
Get your free @yahoo.com address at http://mail.yahoo.com