Wah wah ojo ngono Bung Haddeeer (wong endi koen..jenengmu nggak lazim)
Baru habis silahturahmian koq sudah bermarah-marahan.......
Aku dewean ngalami peristiwa yang podo karo Cak Lumbantobing..........
Ono temenku ynag bodo e nggak ketulungan (nuwun sewu lho Mas) eh
tau-tau nya masuk ITB hanya disebabkan ayahandanya berbintang 3.
Saya sich nggak iri, memang untung dia punya ayah berbintang, sedang
kita-kita khan cuma cuma berbintang kalu lagi mimpi atau kena tonjok.
Yang anda katakan ono akale namun sayangnya bukan anak petani pribumi
yang masuk namun anak pejabat/berbintang pribumi yang masuk. Kalo
anda membandingkan dengan anak Cina saya kira mereka nggak ada
yang ngarepin masuk UMPTN. Masuk selamat nggak juga bersyukur, toh seperti
kata anda mereka lebih bergengsi masuk MIT, Harvard, Princeton, LeHigh,
Stanford dll. dibandingkan ke UGM, ITB, ITS, UI yang menurut anda harus
bercampur baur dengan anak-anak petani yang miskin. Maaf lho namun saya
hanya menyitir argument anda Bung Hadder.
Jadinya begini lho Cak, mungkin Cak sendiri nggak pernah bergaul dengan
para joki (untuk masuk UMPTN). Ku punya teman yang ikut UMPTN hingga
5 atau bahkan lebih. Satu kali masuk untuk dia dan yang empat lainnya
untuk memasukkan orang lain, orang itu bisa orang Cina yang kaya, orang
pribumi yang kaya dan yang jelas nggak mungkin orang miskin, karena
bayarannya jutaan keatas. Trus siapa yang salah...mohon petunjuknya....
Matur nuwun inggih.............
Wass
AL
At 09:30 21.01.1999 +0700, you wrote:
>Harusnya Bang Alex lebih memperluas pandangan dalam melihat sesuatu,
>jangan sempit sekali analisa nya dalam memandang sesuatu.
>
>Kebetulan juga saya mempunyai sahabat-sahabat sewaktu kuliah menjadi
>OPERATOR seleksi UMPTN (BUKAN IKUT DALAM PENENTUAN KRITERIA KELULUSAN
>UMPTN...tolong di ralat, karena seorang mahasiswa tidak dapat menentukan
>kriteria UMPTN...!!!!!!!! Hati - hati menulis jangan berbohong dan
>membuat OPINI palsu ..!!!!!......)
>
>Yang ada adalah SEDAPAT MUNGKIN KEADILAN BAGI SELURUH PESERTA UMPTN
>UNTUK DAPAT MERASAKAN KULIAH DI PTN.
>
>Di sini seluruh faktor dari seseorang calon menjadi variable dalam
>seleksi : Asal SMA, Orang tua kerja dimana, Pendapatan Orang Tua, Agama,
>Keturunan, Jurusan yang dituju, Propinsi, dan masih banyak lagi (saya
>sudah lupa).
>
>Seseorang dari Irian Jaya atau dari Aceh tentu juga ingin merasakan
>sekolah di ITB atau UI atau UGM, bukan hanya seorang keturunan cina yang
>dari kecil sudah mendapat sekolah yang layak di yayasan mereka dan
>kekayaan dari orang tua mereka, tetapi juga ingin ikut masuk sekolah ke
>NEGERI......:-)....anak petani yang sebagian besar di negara ini juga
>mau sekolah di NEGERI...yang tidak mendapatkan kesempatan yang sama
>dalam bersaing dan belajar semasa SMA....karena mereka orang miskin.....
>
>Dan juga jangan Anda Bilang bahwa "penjatahan masuk UMPTN yang
>juga sering didasarkan pada alasan agama tertentu atau keturunan
>tertentu", ini adalah pernyataan yang SOMBONG....apa anda pikir mereka
>lebih hebat dari orang lain.....he....he....nanti dulu......
>
>SMILE.....YOU MAKE ME SICK....
>
>
>Alexander Lumbantobing wrote:
>
>> Kenyataan ini memang pahit dan meresahkan, tetapi inilah salah satu PR
>> kita
>> memberantas KKN di bidang pendidikan - termasuk penjatahan masuk UMPTN
>> yang
>> juga sering didasarkan pada alasan agama tertentu atau keturunan
>> tertentu
>> (sistem kuota). Ssahabat-sahabat saya sewaktu kuliah dulu banyak yang
>> ikut
>> dalam proses penentuan kriteria kelulusan UMPTN dan pemeriksaan ujian
>> di Pusat
>> Ilmu Komputer UI, Salemba. Begitu nyata dan terang-terangan....
>>
>> Warm regards,
>>
>> Alexander Lumbantobing
>