The Silicon Valley, january 20, '99
Ini tanggapan dari Alex yang satu lagi;)
Beasiswa World Bank, IMF, ADB, dan lain-lain yang melalui instansi pemerintah
(BPPT, Depkeu, Bappennas) memang sering merupakan arisan bagi-bagi rejeki
(jatah jabatan). Memang sudah jadi rahasia umum, kok. Saya mempunyai contoh:
seseorang penerima beasiswa Bappenas di Columbia University, NY, periode
sekarang ini. Tidak ada kemampuan yang sangat menonjol, tetapi kenal sangat
dekat dengan anak petinggi Bappenas yang menangani beasiwa Worl Bank melalui
Bappenas. Beliau sangat bangga karena bisa ke menginjak USA, bukan karena bisa
menambah kemampuannya untuk meningkatkan kontribusi kepada bangsanya. Dari
berbagai perbincangan dengan beliau, ternyata beliau senang bisa ke New York
karena meningkatkan gengsi di pergaulan. Parah sekali, 'kan ? Sekarang ini
beliau sedang terengah-engah dan kewalahan dalam pelajarannya karena ternyata
kemampuan aslinya tidak sekuat itu....
Kalau Anda bernaggapan bahwa mendapatkan beasiswa itu tidak mudah, ya memang
tidak mudah. Tapi, prakteknya adalah sebagai berikut:
1. Jika ada 2 kompetitor bernilai sama (nilai, bukan berarti angka, ya), maka
seringkali yang dipilih adalah mereka yang mendapat 'jatah jabatan" itu, atau:
2. Jika ada 2 kompetitor bernilai sama, maka yang didahulukan adalah mereka
yang beragama tertentu atau yang bukan keturunan tertentu.
Kenyataan ini memang pahit dan meresahkan, tetapi inilah salah satu PR kita
memberantas KKN di bidang pendidikan - termasuk penjatahan masuk UMPTN yang
juga sering didasarkan pada alasan agama tertentu atau keturunan tertentu
(sistem kuota). Ssahabat-sahabat saya sewaktu kuliah dulu banyak yang ikut
dalam proses penentuan kriteria kelulusan UMPTN dan pemeriksaan ujian di Pusat
Ilmu Komputer UI, Salemba. Begitu nyata dan terang-terangan....
Warm regards,
Alexander Lumbantobing