Just FYI :
Ada yang nonton acara partai-partai waktu itu. Yang diundang adalah
PDI-P, PBB dan PAN, tetapi yang hadir adalah PDI-P diwakili oleh Sabam
Sirait dan PAN oleh ..... (saya lupa) dan PBB tidak datang.
Katanya (cerita-cerita "orang")....Bang Yusril sudah datang ke studio,
tapi melihat yang datang adalah lapis kedua partai, akhirnya Bang Yusril
ngambek dan pulang. Bang Amien tadinya juga sudah mau datang...tapi
karena MS tidak mau datang ....Bang Amien mengirim pula lapis keduanya.
Selama acara berlangsung kelihatan sekali PDI-P tidak jelas visi dan
misinya. Kasihan Sabam Sirait ditanyain bertubi-tubi oleh mahasiswa yang
hadir mengenai : intelektualitas, kapabilitas dari MS dan alasan
ketidakhadiran MS di acara tersebut. Seperti 2 batang rel kereta api,
Mahasiswa tanya " arah Blok M ", Sabam menjawab " arah Kampung Melayu ".
Ditanya A dijawab B, nggak pernah ketemu.. Agak parah malam itu PDI-P
menjelaskan partainya dan Sabam terlihat sama sekali tidak menguasai
materi.
Dan...... kebetulan saya diundang dalam Malam Peduli PDI-P dalam rangka
penggalangan dana PDI-P....dan lagi-lagi MS tidak datang, dalam acara
nya sendiri.
Ada kesan yang saya tangkap dari panitia dan orang - orang PDI-P dalam
acara tersebut....telah terjadi Pengkultusan Individu terhadap MS. Tata
cara perlakuan dan pengkultusan persis seperti jaman Pak Harto.
Kemungkinan ada dua : Dikultuskan karena memang memiliki kharisma dan
wibawa (padahal menurut saya adalah KKN bawa-bawa nama orang tua : Ir
Soekarno serta romantisme sejarah), atau dikultuskan agar dapat di stir
dan dikemudikan...... :-) Kita lihat saja nanti jadinya....
Smile
Hadeer.
Budi Santoso wrote:
> Bung Nur yang budiman,
>
> Kesimpulan saya adalah (mungkin saja saya salah) anda ingin mengatakan
>
> bahwa Megawati sebenarnya tidak pantas sebagai calon Presiden kita.
> Alasannya adalah antara lain karena ia tak pernah menanggapi undangan
> berkali-kali TPI untuk mengikuti acara dialog partai yang
> diselenggarakan oleh TPI. Hal tsb. membuat anda kecewa karena dengan
> demikian kita atau masyarakat tidak tahu apa sebenarnya misi dan visi
> Megawati, dan sejauhmana kemampuannya untuk berdebat politik secara
> terbuka. Namun tokh bagi anda semua jadi jelas, karena Megawati
> hanyalah "Lulusan SMA dan serba samar alias nggak jelas".
>
> Komentar saya:
>
> Sama seperti anda, saya juga merasa kecewa. Meskipun demikian saya
> mendukung Megawati (sama seperti saya mendukung calon-calon Presiden
> lainnya) untuk menjadi Presiden R.I. meskipun dalam pemilu nanti
> mungkin
> saya tidak pilih PDI.
>
> Rasa kecewa membuat saya berpikir beberapa kemungkinan mengenai
> Megawati. Pertama, dia merasa tidak mampu berdebat politik secara
> langsung dan terbuka. Kedua, dia khawatir salah-salah dalam 'talk and
>
> show' (seperti yang belakangan diperlihatkan oleh Pak Habibie),
> bisa-bisa membuat rencana dan strategi PDI dalam pemilu menjadi
> terganggu. Ketiga, Megawati punya visi bahwa debat politik terbuka
> gaya
> Amerika tidak sesuai dengan budaya bangsa (Indonesia). Keempat dst.
> ...
> (silahkan kepada netters lain kalau punya kemungkinan lain).
>
> Saya memang mendukung semua calon-Presiden menjadi Presiden, karena
> secara pribadi saya lebih suka nasib Ina ditentukan oleh suatu Tim
> atau
> Sistem yang hebat daripada oleh seorang Presiden yang hebat. Saya
> tidak
> keberatan kalau calon Presiden RI adalah pensiunan bintang film atau
> mantan penyiar teve, asal ya itu tadi...Tim atau Sistemnya harus
> solid.
> Saya tidak setuju dengan pendapat sobat saya yang sedang menyelesaikan
>
> S3, bahwa seorang buta-huruf yang cuma mengandalkan budi pekerti yang
> tinggi tidak pantas jadi calon Presiden kita, karena ia PASTI akan
> dijadikan bulan-bulanan oleh para pembantu dan lawan politiknya.
>
> Namun, tentu saja saya juga akan lebih suka kalau kita punya seorang
> Presiden yang hebat dan juga Tim/Sistem yang hebat. Dengan kata lain,
>
> dengan Tim/Sistem yang sama mungkin saya akan memilih calon Presiden
> yang lebih berpendidikan, lulusan S2 atau S3 misalnya. Dan mungkin
> juga
> saya akan memilih lulusan S3 jurusan politik atau ekonomi, daripada S3
>
> jurusan kimia, engineering atau teknologi kedirgantaraan misalnya.
> Tapi
> sayang, undang-undang politik kita tidak membolehkan saya untuk
> memilih
> seorang calon Presiden.
> Akhirnya, ingin sekali saya mendoakan agar dalam pemilu nanti bangsa
> Indonesia tidak sampai ibarat memilih kucing dalam karung, meskipun
> saya
> juga percaya bahwa sebagian dari peserta pemilu nanti akan terpaksa
> harus memilih kucing dalam karung.
>
> Last but not least, saya sadar bahwa komentar dan pendapat saya di
> atas
> mungkin salah. Dan saya akan berbahagia sekali seandainya Bung Nur
> dan
> Netters lainnya dapat memberikan pelajaran kepada saya yang bodoh
> ini.
>
> Salam,
>
> budi santoso
> =======================================
> "Something good is created to make a peace.
> Noone is above the something good.
> Neither is the creator of the something good.
> But, people may have their power by riding the something good."
>
> By the way, what is the something good ?
> (Sorry, I don't know this
> and I don't care about this)
> =======================================
> School of Public Administration, Carleton University, Ottawa-Canada.
> 502-219 Bell Street North, Ottawa ON K1R 7E4 CANADA <tel.(613)
> 231-2581
>
> > N.S. Sisworahardjo wrote:
> >
> > Assalamu'alaikum wr. wb.
> >
> > Dari Detik Online:
> > http://www.detik.com/wawancara/199902/19990227-1700.html
> > Pengarah Acara Dialog Partai TPI Husni Attamimi
> > Megawati Tak Pernah Menanggapi
> > Pewawancara Rido Sarwono
> >
> > Berita lengkap silakan klik di alamat website diatas.
> >
> > Komentar saya kira2:
> >
> > Presiden I RI : lulusan sekolah tinggi (masih lumayan lah)
> > Presiden II RI : kira2 lulusan setingkat SMP (?)
> > Presiden II setengah : Lulusan S3 Professor lagi
> > Calon Presiden III : Lulusan SMA dan serba samar alias nggak jelas
> >
> > Mudah2an bangsa Indonesia tidak sampai ibarat memilih kucing dalam
> karung
> > dalam pemilu yang akan datang.
> >
> > Wassalam,
> > nur