Assalamu'alaikum wr. wb.
Mas Budi yang budiman,
Terima kasih atas komentar anda. Secara umum saya sependapat dengan anda
tentang kriteria seorang pemimpin. Tapi koq saya kurang sependapat dengan
pandangan bahwa acara talk show itu adalah model Amerika. Prinsip demokrasi
adalah keterbukaan, dan keterbukaan bisa dijamin dengan berlangsungnya
komunikasi dua arah secara intensif. Kalau kita lihat kampanye2 partai
dulu, itu tidak lebih semacam monolog yang persis terjadi dalam pertunjukan
Loedreok. Bahkan kadang saya pikir, didalam pertunjukkan Loedreok malah
lebih baik dari kampanye tersebut. Mengapa, karena disitu terjadi proses
dialog dan interaksi yang baik antara pemain di atas panggung dan penonton.
Justru teater2 rakyat mampu menunjukan konsep demokrasi yang sebenarnya,
bahwa subjeck dalam suatu peran, tidak hanya ditampilkan oleh tokoh yang
berdiri di atas panggung namun oleh seluruh komponen yang terlibat dalam
proses pertunjukkan itu sendiri.
Saya sependapat dengan Mas Budi bahwa penekanan pada sistem lebih penting
dari pada individu2 dalam sistem itu sendiri. Namun bisa kita bayangkan
kalau individu2 yang membentuk sistem itu sendiri masih kita ragukan
kemampuan. Paling tidak untuk bisa melihat kemampuan seseorang khan dari
komunikasi antara individu2 tersebut dengan komunitas yang ada. dan yang
menjadi pertanyaan saya adalah, cara apalagi yang bisa ditempuh agar
komunitas itu mampu melihat dan menilai individu2 itu kalau individu2 tidak
mampu berinteraksi dengan komunitasnya.
Model kampanye monolog yang terjadi selama ini, tidak lebih dari bagian
pembodohan2 yang akan terus berlangsung dalam masyarakat. 30 sudah hal itu
terbukti. Rezim ORBA menyatakan pendidikan politik dilakukan dalam masa
kampanye, namun kenyataannya sudah 30 tahun, ternyata masyarakat kita masih
juga tidak mampu untuk menerima suatu perbedaan. Konflik horizontal yang
terjadi dalam masyarakat kita sekarang ini adalah bukti otentik gagalnya
pendewasaan politik dalam masyarakat kita. Saya kita rasanya kita harus
menentukan suatu paradigma baru dalam hal ini.
kalau soal kasus Habibie keseleo lidah, yach dia itu presiden karena
blessing undisguised, artinya dia menjadi presiden bukan karena
kemampuannya, dan memang dia nggak siap untuk jadi presiden. Dari sisi ini
kelihatan sekali Habibie dikerjain pihak2 kiri-kanan, seperti anak yang
baru belajar naik sepeda. fakta yang masih hangat adalah kasus penyadapan
telepon.
Kalau seandainya apa yang dikhawatirkan Mas Budi, dimana kita nantinya
terpaksa memilih kucing di dalam karung, saya pikir, sungguh sangat
menyedihkan bangsa kita. Waktu 50 tahun masih belum cukup untuk mampu
belajar dari sejarah. Mental kita tidak lebih dari mental budak yang ingin
diperlakukan sebagai budak oleh para penguasa, mulai jaman raja2, VOC,
Belanda, dan kemudian oleh keturunan para bangsawan dan raja2. Kita rupanya
cukup merasa bangga diperlakukan sebagai budak :(
Wassalam,
nur
p.s. Buat Mas Hadeer, terima kasih banyak atas postingnya, walau hanya FYI,
saya kira banyak fakta yang bisa diungkap.
>Bung Nur yang budiman,
>
>Kesimpulan saya adalah (mungkin saja saya salah) anda ingin mengatakan
>bahwa Megawati sebenarnya tidak pantas sebagai calon Presiden kita.
>Alasannya adalah antara lain karena ia tak pernah menanggapi undangan
>berkali-kali TPI untuk mengikuti acara dialog partai yang
>diselenggarakan oleh TPI. Hal tsb. membuat anda kecewa karena dengan
>demikian kita atau masyarakat tidak tahu apa sebenarnya misi dan visi
>Megawati, dan sejauhmana kemampuannya untuk berdebat politik secara
>terbuka. Namun tokh bagi anda semua jadi jelas, karena Megawati
>hanyalah "Lulusan SMA dan serba samar alias nggak jelas".
>
>Komentar saya:
>
>Sama seperti anda, saya juga merasa kecewa. Meskipun demikian saya
>mendukung Megawati (sama seperti saya mendukung calon-calon Presiden
>lainnya) untuk menjadi Presiden R.I. meskipun dalam pemilu nanti mungkin
>saya tidak pilih PDI.
>
>Rasa kecewa membuat saya berpikir beberapa kemungkinan mengenai
>Megawati. Pertama, dia merasa tidak mampu berdebat politik secara
>langsung dan terbuka. Kedua, dia khawatir salah-salah dalam 'talk and
>show' (seperti yang belakangan diperlihatkan oleh Pak Habibie),
>bisa-bisa membuat rencana dan strategi PDI dalam pemilu menjadi
>terganggu. Ketiga, Megawati punya visi bahwa debat politik terbuka gaya
>Amerika tidak sesuai dengan budaya bangsa (Indonesia). Keempat dst. ...
>(silahkan kepada netters lain kalau punya kemungkinan lain).
>
>Saya memang mendukung semua calon-Presiden menjadi Presiden, karena
>secara pribadi saya lebih suka nasib Ina ditentukan oleh suatu Tim atau
>Sistem yang hebat daripada oleh seorang Presiden yang hebat. Saya tidak
>keberatan kalau calon Presiden RI adalah pensiunan bintang film atau
>mantan penyiar teve, asal ya itu tadi...Tim atau Sistemnya harus solid.
>Saya tidak setuju dengan pendapat sobat saya yang sedang menyelesaikan
>S3, bahwa seorang buta-huruf yang cuma mengandalkan budi pekerti yang
>tinggi tidak pantas jadi calon Presiden kita, karena ia PASTI akan
>dijadikan bulan-bulanan oleh para pembantu dan lawan politiknya.
>
>Namun, tentu saja saya juga akan lebih suka kalau kita punya seorang
>Presiden yang hebat dan juga Tim/Sistem yang hebat. Dengan kata lain,
>dengan Tim/Sistem yang sama mungkin saya akan memilih calon Presiden
>yang lebih berpendidikan, lulusan S2 atau S3 misalnya. Dan mungkin juga
>saya akan memilih lulusan S3 jurusan politik atau ekonomi, daripada S3
>jurusan kimia, engineering atau teknologi kedirgantaraan misalnya. Tapi
>sayang, undang-undang politik kita tidak membolehkan saya untuk memilih
>seorang calon Presiden.
>Akhirnya, ingin sekali saya mendoakan agar dalam pemilu nanti bangsa
>Indonesia tidak sampai ibarat memilih kucing dalam karung, meskipun saya
>juga percaya bahwa sebagian dari peserta pemilu nanti akan terpaksa
>harus memilih kucing dalam karung.
>
>Last but not least, saya sadar bahwa komentar dan pendapat saya di atas
>mungkin salah. Dan saya akan berbahagia sekali seandainya Bung Nur dan
>Netters lainnya dapat memberikan pelajaran kepada saya yang bodoh ini.
>
>
>Salam,
>
>budi santoso