-----Original Message-----
From: Hadeer <[EMAIL PROTECTED]>
To: [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]>
Date: 09 Maret 1999 13:38
Subject: SARABang Ichwan Ramli...
Isu SARA adalah warisan dari jaman ORDE BARU yang sangat efektif sekali dalam membuat masyarakat menjadi kerdil dan takut untuk bergerak, berkembang, mendewasakan diri dll.
Isu SARA dihembuskan dalam rangka menggabungkan masyarakat dan bangsa Indonesia menjadi sebuah warna.
Ini adalah hal yang TIDAK MUNGKIN, bangsa ini adalah bangsa yang sangat majemuk baik agama, ras, suku dan golongan.
Cara yang paling tepat dan BERTANGGUNG JAWAB adalah SETIAP agama, SETIAP ras, SETIAP suku, SETIAP golongan menyatakan keberadaannya, keunikkannya, kekhususannya, cirinya, tabiatnya, baiknya, jeleknya dan segala macam sifat dan profile yang melekat pada suatu agama, suku, ras ataupun golongan.
Dengan begitu semua akan saling menjaga toleransi, menjaga hubungan, menjaga tepo seliro. Semua nya jelas....yang tidak jelas maka akan langsung dapat disebut baik sebagai provokator, penghasut, pemfitnah, pembunuh dll.
Adalah hal yang berbahaya, jika sedikit-sedikit dihembuskan isu SARA, kapan mau jelas duduk persoalannya.
Misal :
Saya Islam...saya akan berkata kepada saudara saya yang nasrani : "Coba dong jangan begitu....hati saya sakit nich"
Atau saudara saya yang Nasrani akan berkata : "Coba ya begitu saja...supaya saya bisa enak"....
Dari pada semua - semua diam-diam akhirnya MELEDAK....nggak jelas siapa yang salah...nggak tahunya lagi diadu domba sama AMERIKA (misalnya).
Tulisan-tulisan yang bernuansa "everybody happy" menurut saya tidak mendidik ....tidak jelas arah nya mau kemana....semuanya harus jelas....buka-bukaan aja....lha wong jaman keterbukaan ... :-)
Smile and Peace
Hadeer
Dik Hadeer, ( sebenarnya saya lebih
suka panggilan Bung, karena lebih mengesankan kesetaraan),
Saya setuju, kita bicara tentang Suku, Agama, Ras ataupun
(antar) Golongan (SARA)secara terbuka. Kesadaran dan pengetahuan tentang SARA
akan memperkaya dan memperluas perspektif dan wawasan berfikir kita, sehingga
tidak seperti katak dalam tempurung.
Saya rasa saya tidak menolak pembicaraan SARA, sebagai
background, tetapi saya menolak usaha mengedepankan sentimen SARA dalam
kehidupan kita berbangsa dan bernegara. Saya harap anda bisa mengerti
perbedaannya. Ada perbedaan antara mendiskusikan SARA dan menghembuskan sentimen
SARA.
Kasus Ambon misalkan, bahwa telah terjadi pembunuhan,
perusakan dan konflik antar kelompok2 yang berbeda agama dan etnis,
menurut saya itu adalah fakta, tidak perlu ditutup-tutupi. Diskusi dan
pembicaraan mengenai kasus ini dengan mengemukakan analisa SARA sebagai
background adalah wajar. Tetapi tuntutan-tuntutan yang mengedepankan sentimen
SARA dalam kasus ini; pendekatan Suku, Agama, Ras dan Golongan, yang cenderung
eksclusive, pendekatan "pihak sana" dan "pihak sini"
untuk membela golongan/kaum - nya saja, bisa memperbesar skala
konflik, dan menyeret serta memperluas konflik, ke daerah lain di Indonesia.
Padahal bukankah mereka yang terlibat konflik itu saudara kita sebangsa dan
setanah air ?
Tulisan Bung Moko Darjatmoko, dalam milist ini,
yang saya baca baru2 ini, tentang konflik serupa di India, menurut saya pas
sekali digunakan sebagai pelajaran dalam menyikapi situasi terakhir di Ambon.
Sebelum menunjuk setan yang ada dipihak lain, mari kita tengok ke dalam hati
kita, kedalam ummat kita, siapa tahu setannya bersemayam di hati
kita.
Wassalam,
