-----Original Message-----
From: Hadeer <[EMAIL PROTECTED]>
To: [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]>
Date: 10 Maret 1999 8:13
Subject: Re: SARA;-)
Bang Ichwan Ramli
Siapa bilang kalau saya menyebut "Bang" maka tidak ada kesetaraan ... jangan g.r. dulu dong :-), justru kalau buat orang Melayu, penyebutan "Bang" buat orang yang setara itu lebih menyatakan persahabatan, persaudaraan dan kedekatan hati. Kalau "Bung" itu memang jelas sekali setara tetapi tetap ada "jarak" yang dijaga.
Saya kurang bisa mengerti bedanya antara mendiskusikan SARA dan menghembuskan SARA, tapi saya setuju dengan tulisan Bang Ichwan di bawah.
...Dan maksud utama saya...adalah mengajak ngomong terang-terangan (nggak usah malu-malu dan segan-segan) masalah SARA. Mengajak seluruh orang yang beragama kembali MEMBACA KITAB SUCI mereka masing-masing.
Dalam kasus Ambon biar bagaimanapun yang menjadi inti masalah adalah masalah para penganut agama yang sedang tidak menjalankan perintah dalam kitab suci mereka masing-masing.
Jika ada sebuah kelompok massa yang akan berbuat kerusuhan, panggilkan pemuka agama kelompok massa tersebut dan BUKA serta BACAKAN kitab suci kepada kelompok tersebut. Sudah sesuai kah tindakan mereka dengan ajaran mereka.
Kalau masih nggak nurut juga....berarti itu adalah kelompok setan yang pasti akan berbuat kerusakan dan kebiadaban, bolehlah ABRI menembaki mereka...saya dukung....!!
Smile
Hadeer
----------
From: Ichwan Ramli. <[EMAIL PROTECTED]>
To: [EMAIL PROTECTED]
Subject: Re: SARA
Date: 09 Maret 1999 19:53
Dik Hadeer, ( sebenarnya saya lebih suka panggilan Bung, karena lebih mengesankan kesetaraan), Saya setuju, kita bicara tentang Suku, Agama, Ras ataupun (antar) Golongan (SARA)secara terbuka. Kesadaran dan pengetahuan tentang SARA akan memperkaya dan memperluas perspektif dan wawasan berfikir kita, sehingga tidak seperti katak dalam tempurung. Saya rasa saya tidak menolak pembicaraan SARA, sebagai background, tetapi saya menolak usaha mengedepankan sentimen SARA dalam kehidupan kita berbangsa dan bernegara. Saya harap anda bisa mengerti perbedaannya. Ada perbedaan antara mendiskusikan SARA dan menghembuskan sentimen SARA. Kasus Ambon misalkan, bahwa telah terjadi pembunuhan, perusakan dan konflik antar kelompok2 yang berbeda agama dan etnis, menurut saya itu adalah fakta, tidak perlu ditutup-tutupi. Diskusi dan pembicaraan mengenai kasus ini dengan mengemukakan analisa SARA sebagai background adalah wajar. Tetapi tuntutan-tuntutan yang mengedepankan sentimen SARA dalam kasus ini; pendekatan Suku, Agama, Ras dan Golongan, yang cenderung eksclusive, pendekatan "pihak sana" dan "pihak sini" untuk membela golongan/kaum - nya saja, bisa memperbesar skala konflik, dan menyeret serta memperluas konflik, ke daerah lain di Indonesia. Padahal bukankah mereka yang terlibat konflik itu saudara kita sebangsa dan setanah air ? Tulisan Bung Moko Darjatmoko, dalam milist ini, yang saya baca baru2 ini, tentang konflik serupa di India, menurut saya pas sekali digunakan sebagai pelajaran dalam menyikapi situasi terakhir di Ambon. Sebelum menunjuk setan yang ada dipihak lain, mari kita tengok ke dalam hati kita, kedalam ummat kita, siapa tahu setannya bersemayam di hati kita. Wassalam,
Bang Hadeer,
Terima kasih buat inputnya, tapi setahu saya panggilan Bang
atau Abang, adalah gaya Melayu yang suka merendah, dengan mentuakan yang diajak
bicara. Dari satu segi ini memang baik , rendah hati, kata orang, tapi tetap
menyembunyikan sesuatu dibelakangnya. Dari segi lain dapat juga dikatakan
mencerminkan sifat inferioty complex orang Melayu. Sikap yang dicerminkan juga
dengan lebih menghargai produk asing ketimbang produk sendiri. Abang memang
lebih akrab, tapi agar bisa independen dan terang-terangan kita perlu
jarak. But you have the right to choose, no problema.
Bang Hadeer, saya rasa anda sangat cerdas untuk dapat
membedakan antara mendiskusikan SARA dengan menghembuskan sentimen SARA. Namun
untuk memenuhi ajakan anda untuk ngomong terang-terangan, saya kasih contoh
kongkrit sajalah. Posting Bung Panut Wirata tgl.4 Maret 1999, dgn subject "
Kefrustasian Emha = Kefrustasian Ummat Islam ?", yang mencoba membedah
perbedaan/Persamaan Islam dan Kristen, bisa saya sebut mendiskusikan SARA,
karena ia memperluas wawasan dan pencerahan..
Tapi posting anda tentang "logika bingung" adalah
contoh provokasi untuk membangkitkan sentimen SARA, karena ia memancing Bung
Andrew dan mbak Ida untuk bereaksi.
Wassalam,
Ichwan
- SARA Hadeer
- Re: SARA Ichwan Ramli.
- Re: SARA Hadeer
- Re: SARA Rani Elsanti Ambyo
- Re: SARA Hadeer
- Re: SARA FNU Brawijaya
- Re: SARA Ichwan Ramli.
- Re: SARA Hadeer
- Re: SARA Blucer Rajagukguk
- Re: SARA Ichwan Ramli.
- Re: SARA FNU Brawijaya
- Ambon dan Pertengahan Mei Blucer Rajagukguk
- Re: SARA Ichwan Ramli.
- Re: SARA Yumartono
- Re: SARA Blucer Rajagukguk
- Re: SARA Erwin
- Re: SARA Hadeer
