Hadeer, saya kira malah kamu yang enggak realistic. Jelas saya setuju
dengan bung Ichwan, dari berita-berita yang muncul dari berbagai pihak
jelas masyarakat ambon baik Islam, Kristen ataupun penganut agama
lainnya sama-sama menderita. Bukan ajaran kasih saja yang tidak
berjalan, ajaran damaipun tidak berjalan. Tetapi bukanlah agama yang
perlu disalahkan, karena agama mengajarkan yang suci, sedangkan yang
berlangsung adalah penganiayaan dan pembakaran. Yang muncul adalah
kebencian, dendam dan mempertahankan hidup. Kalau ada yang berpendapat
lain dengan yang hadeer inginkan terus disuruh diam, itu juga tidak
rasional. Jika Hadeer tetap berpendapat bahwa hanya Kristen yang salah
dibumi ambon, silahkan saja. Tentunya jika ada yang berpendapat bahwa
ada pihak lain yang mengadu domba rakyat ambon melalui agama, itu juga
potensial benar. Membakar mesjid dan membunuhi orang Islam itu jelas
melanggar hukum kasih dan jelas bukan kristen. Membakar gereja dan
membunuhi orang kristen juga jelas bukan berasal dari Alquran dan
bukanlah muslim yang baik. Karena kedua fakta ini jelas-jelas terjadi
maka di Ambon bukanlah agama yang menjadi persoalan, tetapi
ketidakmengertian akan kehendak Tuhan serta rasa emosi, benci, dendam
dan survival yang bercampur menjadi satu.
peace.
Hadeer wrote:
>
> Bang Ichwan :
>
> Terus terang saya malas sekali berdiskusi "angin" seperti ini....nggak
> jelas ujungnya....
> Kalau posting saya berjudul "Logika Bingung" diartikan provokasi,
>  terserah Anda...
>
> Tapi saya melempar posting itu dengan niat bisa dibaca sebagai Kritik
> yang saya tujukan ke saudara-saudara nasrani...karena yang namanya
> ajaran Kasih sedang tidak berjalan di bumi Ambon. Harus ada yang bisa
> menjelaskan dengan gamblang....nggak bisa dijelaskan cuma dengan
> istilah "Provokator", "Penghasut" dan lain-lain....itu cuma jawaban
> klise...
>
> Nggak bisa dijawab "Masyarakat Ambon baik Nasrani dan Islam sama -
> sama menderita".....yang bener aja....come on guys...wake up....BE
> REALISTIC.!!!!
>
> Ada sudah yang membalas posting saya tersebut misal Bang Andrew (lewat
> Milis) dan seseorang lagi (lewat japri).....mereka berdua dengan
> tenang menerangkan konsep Nasrani mereka kepada saya.....dan saya
> terima konsep mereka berdua, dimana kalau dijalankan dengan
> benar....PASTI tidak akan ada Tragedi Ambon.....
>
> Saya malah jadi heran malah Bang Ichwan yang kebakaran jenggot dengan
> posting saya.... ??? Kalau nggak bisa menerangkan apa yang saya
> minta....ya sudah diam saja....!!!!
>
> Smile
> Hadeer
>
> ----------
> From: Ichwan Ramli. <[EMAIL PROTECTED]>
> To: [EMAIL PROTECTED]
> Subject: Re: SARA
> Date: 10 Maret 1999 22:30
>
> Bang Hadeer,  Terima kasih buat inputnya, tapi setahu saya panggilan
> Bang atau Abang, adalah gaya Melayu yang suka merendah, dengan
> mentuakan yang diajak bicara. Dari satu segi ini memang baik , rendah
> hati, kata orang, tapi tetap menyembunyikan sesuatu dibelakangnya.
> Dari segi lain dapat juga dikatakan mencerminkan sifat inferioty
> complex orang Melayu. Sikap yang dicerminkan juga dengan lebih
> menghargai produk asing ketimbang produk sendiri. Abang memang lebih
> akrab, tapi agar bisa independen dan terang-terangan kita perlu jarak.
>  But you have the right to choose, no problema.  Bang Hadeer, saya
> rasa anda sangat cerdas untuk dapat membedakan antara mendiskusikan
> SARA dengan menghembuskan sentimen SARA. Namun untuk memenuhi ajakan
> anda untuk ngomong terang-terangan, saya kasih contoh kongkrit
> sajalah. Posting Bung Panut Wirata tgl.4 Maret 1999, dgn subject "
> Kefrustasian Emha = Kefrustasian Ummat Islam ?", yang mencoba membedah
> perbedaan/Persamaan Islam dan Kristen, bisa saya sebut mendiskusikan
> SARA, karena ia memperluas wawasan dan pencerahan.. Tapi posting anda
> tentang "logika bingung" adalah contoh provokasi untuk membangkitkan
> sentimen SARA, karena ia memancing Bung Andrew dan mbak Ida untuk
> bereaksi.  Wassalam, Ichwan
>
> -----Original Message-----
> From: Hadeer <[EMAIL PROTECTED] <mailto:[EMAIL PROTECTED]>>
> To: [EMAIL PROTECTED] <mailto:[EMAIL PROTECTED]>
> <[EMAIL PROTECTED] <mailto:[EMAIL PROTECTED]>>
> Date: 10 Maret 1999 8:13
> Subject: Re: SARA

Kirim email ke