Yah, jangan sampe menjadi kenyataan nih....
Tetapi dendam kesumat tidak akan padam bila
pelaku pembantaian tidak dihukum. Untuk itu
sesulit apapun prosesnya, tuntutan peradilan
mesti dilakukan. Saya takut saja, tidak akan ada
orang melayu dan dayak yang hidup nyaman di
wilayah Surabaya atau kantong-kantong lain.
Berani jamin deh, sampai satu generasipun tidak
akan ada orang yg mau mengaku-ngaku sebagai
keturunan dayak yg mau tinggal di Surabaya atau
Madura.
Entah kapan pemerintah yg sudah abolis kebijakan
untuk untuk tidak mengutik-utik origin dlsb mempunyai
efek. Saya rasa, kita masih memerlukan waktu yg sangat
lama bagi Indonesia untuk mencapai bentuk melting pot yg
benar-benar mampu membuat isi pot-nya melted. Jangan
kita bermimpi menjadi seperti AS. Mereka datang dari
perbagai penjuru dunia dengan status sbg pendatang
di tanah yg kosong (Native-nya dibantai dulu). Itupun
masih banyak yg mengklaim kelompok mereka lebih berhak
tinggal yaitu kelompok kulit putih. Perbedaan bahasa & kultur antar
mereka dilebur oleh persamaan warna kulit. Proses penyamaan
memperoleh jalan dengan adanya musuh eksternal berupa kulit
merah dan kulit hitam. Setelah itu mereka memperoleh musuh
yaitu Inggris, Meksiko, dan Spanyol. Belum kita hitung pasca 1900.
Kita tidak mempunyai hal yg demikian.
Sudah hukum alam bila tidak ada musuh eksternal, maka
perbedaan internal menjadi menajam. Tidak mengherankan
bila pemimpin kita di masa lalu menciptakan musuh eksternal
untuk memperkuat bonding di dalam negeri. Sukarno membuat
musuh berupa kolonialisme (kulit putih, dan terakhir Malaysia).
Suharto membuat musuh imajiner yaitu PKI. Mereka nyata ada,
namun sudah punah, tetapi untuk keperluan persatuanlah
musuh ini tetap dihidupkan. Apakah sikap ini cuma produk
Indonesia? Tidak. Bahkan AS pun selalu menciptakan musuh
eksternal agar bonding antar mereka tetap kuat. Justru mereka
yg paling hobi. Bagaimana dengan negara-negara lain. Lihat
Spanyol yg sebetulnya seragam (cuman punya beberapa gelintir
etnik) tidak pernah mampu membereskan Basque. Lihat pula
Inggris yg Irlandia Utaranya belum juga beres (Sein Feinn udah
tanda tangan kontrak damai belum ya?). Contoh populer ya
mana lagi kalo bukan Yugo. Keberadaan Broz Tito sama dengan
Sukarno dan Suharto. Era perang dingin Tito juga berbagi
ide dengan Sukarno dg ide Nonblok yg sebetulnya juga merupakan
blok tersendiri. Era pasca perang dingin, Tito sudah terlanjur di
anggap sebagai pahlawan, dan terbantu dengan bentuk sosialisme
repressif (mirip dg Suharto, dalam hal represif-nya).
Saat ini Indonesia kehilangan harta berupa musuh eksternal.
Saya tidak heran bila pertentangan demi pertentangan akan
muncul.
Makanya saya rasa AR ataupun siapa saja yg berkuasa
nanti, lakukan analisis yg sangat-sangat mendalam untuk
melakukan perubahan bentuk negara. Jangan sampe menjadikan
RI sebagai objek untuk bereksperimen. Pemerintahan yg mendatang
juga harus mampu mengidentifikasikan kelemahan kita dan mampu
men-dongker (menggali?) akar masalah dan mensosialisasikan
penyelesaiannya. Tidak cukup meredam akar masalah dengan
sebutan persatuan dan kesatuan yg semu sebagaimana dilakukan
oleh pejabat rejim lama dan juga secara tak sengaja dilakukan
oleh para mahasiswa bahkan di milis Permias ini. Mengapa? Kita
tidak punya harta berupa musuh eksternal tadi. Kita harus sadar
atas masalah besar yg dihadapi mengenai kemajemukan yg tiada
duanya di negara lain.
Cina dan India mempunyai ratusan etnik, jauh melebihi jumlah etnik
di Indonesia. Demikian pula Rusia. Namun terdapat perbedaan yang
sangat mendasar. Tempat bermukim etnik-etnik ini ada di dalam satu tanah,
tanpa batasan laut. Perbedaan antar etnik terjadi secara berangsur-angsur.
Perbedaan bahasapun terjadi secara berangsur. Tidak demikian dg di
Indonesia. Berbeda pulau, maka perbedaan yg terjadi demikian drastis.
Ikatan sebagai satu bangsa menjadi relatif lebih lemah dibandingkan yg ada
di daratan seperti India, Cina, dan negara-negara multietnik lain (maksud
saya yg lebih dari 50 etnik deh). Padahalpun, di beberapa tempat di Indonesia
yg mestinya mempunyai perbedaan antar etnik bertetangga tidak menyolok,
ternyata masih sering timbul pertentangan yg mengherankan.
Apakah perbedaan-perbedaan ini dapat diselesaikan oleh kebijakan
anti diskriminasi yg luas. Kebijakan tsb patut dicoba dan harus.
Hanya saja saya meragukan apakah mampu menyelesaian perbedaan
sampai ke dasarnya. Mengapa? Mobilitas penduduk masih minim. Asimilasi
antar etnik baik asimilasi budaya maupun acara kowan-kawinan juga minim.
(hehe...ndak tahan ngomong serius euy). Ini saya baru membicarakan
perbedaan antar etnik, belum lagi antar ras.
Sudah panjang euy....
'-----------------------------------
Jihad Madura Sudah di Ubun-ubun.
Dua Kiai Madura Siap Pimpin Milisi ke
Sambas
WALAUPUN Ketua Umum PBNU KH Abdurrahman Wahid sudah
mewanti-wanti agar warga Madura tidak melakukan balas dendam,
akibat pembantian suku Madura di Sambas, namun semangat jihad
itu makin menyala-nyala. Sejumlah kiai terkemuka, menyatakan siap
menjadi panglima di medan Jihad Sambas.
PEPATAH Madura bilang Etembang pote mata
angoan pote tolang
(dari pada putih mata, lebih baik putih
tulang). Maksudnya, warga
Madura lebih baik mati daripada
dipermalukan. Harga diri warga
Madura, sangat dipermalukan karena
saudaranya mengalami
penderitaan terusir dari Sambas.
Memang, di kalangan warga kelas bawah,
pernah tersiar berita
kesiapan warga Madura menyerang ke
Kalbar, tetapi niat itu dapat
dicegah. Akan tetapi, KH R. Fawaid
Syamsul Arifin, pengasuh ponpes
Salafiyah Syafiiyah Asembagus Situbondo,
dan KH Yusuf Nasir dari
Bangkalan, malah terang- terangan siap
menjadi panglima milisi
Madura di Kalbar.
Pertanyaan terbuka itu, bukan
sembarangan. Usul itu disampaikan
pada pertemuan ulama Madura di Surabaya.
Berdasarkan hasil investigasi ulama
Madura yang diterjunkan ke
Sambas, ribuan warga Madura tidak tahan
meredam kegeramannya,
akibat perlakukan tidak manusiawai
terhadap etnis Madura di
Sambas. Sehingga Kiai Fawaid dan Kiai
Yusuf langsung mengirimkan
secarik kertas ke pembicara, yang isinya
dirinya siap menjadi
panglima milisi itu.
Kalau saja ulama dan tokoh masyarakat
Madura yang Minggu (2/4)
lalu berkumpul dalam acara dialog
silaturrahmi nasional menyikapi
kasus Sambas di Islamic Center Surabaya,
tidak melarangnya. Bisa
dibayangkan, balas dendam warga Madura
bakal menjadi
kenyataan.
"Andaikan ulama memberikan izin kepada KH
Fawaid dan KH Yusuf,
apa yang akan terjadi?" tegas KH Imam
Buchori Cholil ketua NU
Bangkalan yang diutus ke Sambas, saat
tampil dalam acara
tersebut.
Untuk mencari solusi persoalan
penyelesaian kasus Sambas
tersebut, ulama Bangkalan KH R. Fuad Amin
Imron bersama Ikatan
Keluarga Madura Indonesia (IKMI)
menggagas acara agar dihadiri
Menhankam/ Pangilama TNI Jendra TNI
Wiranto.
Saat dialog tersebut, hampir sebagian
besar audiens tidak sabar
untuk segera membentuk milisi. Bahkan
Ahmad Jam'an dari
Pasuruan langsung menginterupsi. "Kalau
memang hasil dialog ini
sepakat, kami warga Madura di Pasuruan
siap mengirimkan milisi
sebanyak 2.000 orang ke Sambas," tegasnya.
--
Salam,
Jaya
--> I disapprove of what you say, but I will
defend to death your right to say it. - Voltaire
\\\|///
\\ - - //
( @ @ )
------------oOOo-(_)-oOOo-----------
FNU Brawijaya
Dept of Civil Engineering
Rensselaer Polytechnic Institute
mailto:[EMAIL PROTECTED]
--------------------Oooo------------
oooO ( )
( ) ) /
\ ( (_/
\_)