Blucer Rajagukguk wrote:
> Provokator bukan provokator namanya kalau tidak tahu apa yang sedang dialami
>masyarakat. Semua benih perpecahan akan
> selalu ada bagaimanapun situasi sosialnya. Apakah jika kesenjangan sosial terhapus,
>provokator akan lenyap? enggak juga.
> Kebutuhan yang lain akan muncul pada saat masyarakat mencapai tahapan baru. Tapi
>bukan berarti kita mendiamkan
> kesenjangan sosial. Konteks persoalan Madura yang saya bahas adalah rencana aksi
>balasan yang sedang dipikirkan. Menurut
> saya ini tidak tepat, dan hanya menmbah persoalan baru, sementara persoalan lama
>belum terpecahkan.
Lho, lha ini kan pemikiran senada dg ane punya. Kok malah kayak repeater aja.... jadi
ya ndak
perlu ngotot... Makanya nggak perlu cari treatment gimana ngilangin provokator, lebih
perlu
cari cara bikin masyarakat kebal terhadap provokator. Conto ilustrasi, kita nggak
perlu bunuhi
setiap kuman penyebab malaria, bikin aja obat yg manjur. Makin canggih kumannya, ya
cari obat
yg makin canggih juga. Salah satu cara yg saya sebutkan ya hilangin lah kesenjangan
sosial.
Ini kan sama saja dengan membasmi tempat-tempat bersarangnya sumber penyakit malaria
tho.... Lak iyo cak.....
> Ramah-tamah itu penting. Ini merupakan kulit luar yang tampak dari batin kita. Jika
>yang ramah-tamah itu munafik, yach
> urusannyalah dengan Tuhannya.
Temtu....temtu.... kemaren kan ane nanyain relevansi antara ramah-tamah
dengan kemustahilan untuk membantai. Saya bilang tidak ada relevansinya.
> Soal hubungan bung dengan Madura tidak saya masalahkan, tetapi kalau bung merasa
>agak berat sebelah dalam memandang kasus
> ini, itu hanya untuk kepentingan bung sendiri.
Lho ini gimana, sengaja mensalah-tarsirkan tulisan saya atau saya yg salah
nulis redaksionalnya.
> Kalau untuk setiap kerusuhan belum tentu ditungangi provokator, tapi melihat urutan
>waktunya, kesiapan petugas, besaran
> massanya, akan lebih bisa untuk dianalisa apakah provokator berperan atau tidak.
> Bicara akar permasalahan tentu sangat luas, bukan hanya kesenjangan sosial saja,
>tingkat pendidikan masyarakat, kemampuan
> memahami agama sendiri dan mentoleransi agama yang lain, memahami kemajemukan budaya
>dan bukan hanya meninggikan budaya
> sendiri, dlsb. Jadi yang perlu diselesaikan sangat banyak.
Nah, kita perlu lihat mana yang dapat dikerjakan terlebih dahulu, dan disesuaikan
dengan prioritas dari urutan penting-tindaknya problem. Semua juga penting,
tapi kan ada yg lebih penting. Kalo dapat diselesaikan berbarengan ya syukur.
Kita juga perlu melihat lamanya efek dari treatment itu. Misalnya, untuk meningkatkan
pemahaman agama sendiri kan sangat sulit untuk menilainya, dan memerlukan
suatu proses yang lama dan terus menerus. Hasil yang muncul juga sulit untuk
dikuantifikasi. Demikian pula dengan faktor lain yg anda sebutkan itu.
Yang paling mudah dikuantifikasi jelas kesenjangan sosial. Sudah tidak perlu dibahas
bahwa faktor ini tidak dapat berdiri sendiri lah. Irlandia utara dapat kita jadikan
contoh
bahwa kesenjangan sosial tidak ada dalam konflik mereka. Makanya saya mencoba
ngangkat ini masalah tho? Gimana cara kita menformulasikan HOW - nya itu.
> Soal mahasiswa demontrasi, saya sangat setuju. bahkan diacara screening PNS-pun saya
>jawab setuju asalkan tidak merusak
> milik masyarakat. Jadi istilah provokator itu bukan hanya milik ORBA. Selama digaris
>yang benar, membela hak rakyat,
> tidak usah takut kepada provokator. Tetapi pada saat menghantam, membakar ataupun
>merencanakan membunuh suatu kelompok,
> diperlukan pemikiran yang lebih mendalam.
Nah, makanya mestinya pemerintah kita mesti memberikan kanal kepada semua
pihak untuk menyalurkan aspirasi langsung ke jalan ini. Caranya gimana supaya
tidak diikuti kebrutalan? Apakah perlu dibikin lapangan di depan istana? Di depan
setiap kantor pemerintah? Jadi perlu dilokalisir agar jendela-jendela perkantoran
di sepanjang jalan tidak dilempari. Tapi ya jangan lalu dilokalisir agar dapat mudah
ditumpas kayak Tiananmen itu....
'--------------------------------------------------------------------------
> FNU Brawijaya wrote:
>
> > Bung Blucer, peran provokator adalah memanas-manasi.
> > Tanpa benih yang dapat ditumbuhkan, maka segala usaha
> > untuk menanam kekacauan akan sia-sia. Tujuan kita harusnya
> > menyelesaikan benih-benih ini, bukan sekedar membungkam
> > para provokator. Makanya saya kemarin bilang anda suka kayak
> > pejabat karena lebih senang berbicara yang ada di permukaan
> > (hehe...sorry....). Kita sebagai student mestinya berusaha
> > menggali akar masyarakat, eh, masalah itu. Jadi ini bukan masalah
> > ramah-tamah dan sebagainya. Kalau soal ramah tanah orang Jepang
> > jauh lebih ramah. Tapi lihat sendiri bagaimana kebengisan tentara
> > Jepang pada saat PD-II. Berapa juta yg dibunuh, berapa ratus ribu
> > yg diperkosa seperti binatang kemudian dibunuh. Eh, ini benar-benar
> > ada fotonya ya...jadi bukannya tanpa fakta (iya kan mbak ida?). Nah, buat
> > yang kemarin merinding dengan foto kepala ibu dan anak, silakan lihat foto
> > bgmn orang Jepang yg ramah tamah memberi latihan menusukkan sangkur
> > ke tubuh orang hidup di kubangan orang mati. Silakan cari di Borders juga
> > banyak lah. Jadi ini bukan masalah keramahtamahan sehingga tidak
> > mungkin berbuat keberingasan tiada tara.
> >
> > Lha to be honest, ndak ada upaya saya untuk membela orang madura,
> > wong saudara juga ndak ada yg dari Madura. Justru ipar ane yg dari
> > Dayak. Jadi kalau misalnya secara diam-diam anda mengambil kesimpulan
> > bahwa saya berusaha tidak fair dalam memandang masalah Sambas ini
> > (jelasnya berat ke masyarakat Madura), ya silakan dipikirkan lagi.
> >
> > Entah saya sudah tulis berapa kali, bahwa kehadiran provokator
> > memang mungkin ada, tetapi saya jelas menolak anggapan bahwa
> > provokator selalu ada di balik setiap peristiwa kerusuhan. Justru yg
> > paling hobi menghembuskan keberadaan provokator kan malah
> > pemerintah. Bahkan ORBA juga paling hobi menyalahkan pihak
> > (yg mungkin fiktif ini) sebagai yg paling bertanggung jawab. Ingat kan
> > dengan istilah DITUNGGANGI. Silakan diperiksa sendiri lah apa
> > bedanya antara PENUNGGANG, PIHAK KETIGA, dan PROVOKATOR.
> > Kan semuanya bianatang yang sama.
> >
> > Makanya saya paling sering mengajak anda-anda untuk melihat lebih
> > ke dalam lagi. Mosok selalu bicara yg superficial doang. Mbok sekali-
> > kali bicara penyakit jeroan macam penyakit jantung, paru dlsb, bukan
> > penyakit panu macam provokator itu....
> >
> > Semua masalah, bila diperhatikan baik di wilayah Sambas, di Ambon,
> > dan di Jakarta untuk bulan Mei itu, semuanya bermuara pada kesenjangan
> > sosial. Jadi inilah yg mestinya diselesaikan. Bukan nyalah-nyalahin
> > provokator doang. Kita juga tidak dapat cuma berharap bahwa semua
> > anggota masyarakat diberi pikiran jernih. Kejernihan pikiran sangat
> > sulit diperoleh bila perut kosong, perabot rumah minim, sementara
> > para tetangga dengan ciri lain, kulit lain, mempunyai kelebihan yang
> > mencolok. Ini yang jadi benih untuk disemai provokator.
> >
> > Nah, ini yang mesti kita selesaikan. Bukan menangkap provokator. Mereka
> > akan patah tumbuh hilang berganti. Nah, resiko untuk mengidentifikasikan
> > masalah ini adalah kita bisa-bisa dituduh sebagai sukuis, rasis dan
> > sebagainya. Itu adalah resiko. Tapi itulah yg harus mampu kita gali.
> > Kita tidak dapat (maaf lho) beronani (pinjam istilah keren dari Bung Pohan)
> > dengan menganggap bahwa masyarakat kita akan selalu tenang, aman,
> > hidup bertoleransi, padahal di bawah permukaan terdapat pergolakan-
> > pergolakan. Bila pergolakan muncul keperrmukaan, lalu sibuk mencari
> > dan menyalahkan provokator. Bosan ah.... Terus terang saya geli
> > dengan kita-kita yg hobi menghujat provokator. Padahal waktu kita
> > mahasiswa kita paling benci kalo pemerintah selalu melarang demo
> > mahasiswa karena alasan ketakutan ditunggangi. Nah, inilah yg saya
> > sangat prihatin. Mbok ya diingat-ingat...
> >
> > Nah, bagaimana? Apakah siap menerima pil pahit untuk melihat
> > kenyataan dari borok-borok yg ada di sekujur badan sendiri, atau
> > mau berendam di lumpur supaya tidak melihat borok di badan sambil
> > baca majalah playboy? Baca majalah itu tidak akan mengubah badan
> > bersih dari borok kayak yg di majalah itu tho Bung Blucer?
> >
> > (bersambung ya...)
> >
> > '-----------------------------------------------
--
Salam,
Jaya
--> I disapprove of what you say, but I will
defend to death your right to say it. - Voltaire
\\\|///
\\ - - //
( @ @ )
------------oOOo-(_)-oOOo-----------
FNU Brawijaya
Dept of Civil Engineering
Rensselaer Polytechnic Institute
mailto:[EMAIL PROTECTED]
--------------------Oooo------------
oooO ( )
( ) ) /
\ ( (_/
\_)