In a message dated 5/25/99 5:13:03 AM Eastern Daylight Time, [EMAIL PROTECTED]
writes:

> Standar ganda adalah titik referensi yang sangat relatif Bang ........
>
>  Anda bilang saya sombong ......

Irwan:
Yang saya kategorikan sombong adalah tindakan anda
yg menilai pintar atau tidaknya seseorang hanya berdasarkan
dari latar belakang universitasnya saja. Dengan kata lain
anda menganggap remeh kemampuan orang2 yg
anda nilai universitasnya termasuk kelas bawah.
Saya pikir akan banyak orang yg sependapat bahwa
menyepelekan kemampuan orang lain hanya
karena berasal dari universitas yg kurang jelas adalah
suatu tindakan sombong.
Untuk tindakan2 lainnya, anda belum pernah saya kategorikan
dalam kategori sombong karena memang sedapat mungkin
tidak ingin mengingatkan kecuali kalau dirasa sudah
keterlaluan atau melampaui batas. Saya pribadi juga
terbuka akan kritik dan saran dari rekan2 lainnya.
Selebihnya saya mengajak agar kita (saya, anda, dan
rekan2 lainnya) sebagai manusia biasa yg punya
keterbatasan agar mencoba lebih mawas diri. Itu saja koq.

Hadeer:
>  Anda bilang saya berstandar ganda ........

Irwan:
Ya.  Dan saya juga telah tunjukan hal2 mana saja yg saya
perkirakan anda telah menggunakan standar ganda.
Hal tersebut adalah penilaian saya pribadi.

Hadeer:
>  Dunia ....dunia........semua nya relatif ...... terhadap siapa yang melihat
>  he...he....

Irwan:
Norma itu relatif. Kesalahan Golkar dengan orde barunya
selama ini juga sifatnya relatif. Dimata saya Golkar telah
melakukan kesalahan selama ini, tapi di mata Abdul Gafur
Golkar tidak salah. Jadi terserah anda, mau dari sudut
mana anda memandang. Mau dari sudut Golkar kelihatan
salah atau dari sudut Golkar kelihatan benar, sepenuhnya
menjadi hak anda.

Hadeer:
>  Soal jumlah kursi di DPR yang anda ragukan, menurut saya juga masih sangat
>  kuatnya yang namanya Golkar dan turunannya ...
>  Jadi mau bagaimana ??? Nggak pakai Pemilu ?? Mau ABRI yang berkuasa ???
>  Atau mau pakai Hukum Rimba ??? Mau perang sipil dulu cari siapa yang paling
>  kuat ??? Udah siap perang sipil ??? .... ENTE enak ada di Amerika !!!!

Irwan:
Saya bisa memaklumi kalau ternyata anda tipe orang yg cari selamat.
Saya tidak akan menyalahkan anda karena memang setiap
orang berhak memilih sikap yg dia yakini.

Sekarang, coba carikan alasan yg tepat pada saya kenapa pencabutan
peraturan yg mengatur tentang pengangkatan 200 + 38 orang
yg akan duduk di MPR/DPR tersebut bisa menyebabkan
perang sipil (inilah salah satu yg diperjuangkan oleh KMB yg
terdiri dari kumpulan sebelas aksi mahasiswa yg salah satunya
adalah Forkot)? Bukankah justru sebaliknya yg terjadi bila
pengangkatan 200 + 38 orang itu tetap dipertahankan maka
kemungkinan revolusi rakyat menjadi lebih besar ketimbang
dihapuskan. Kalau kita mau jujur, toh seharusnya dengan
penghapusan pengangkatan tersebut tidak ada yg dirugikan
karena semua pihak bisa bertarung melalui pemilu
(baca juga kesepakatan saya dengan bung Yusuf soal
200 + 35 ini yg kalau mau dipertahankan ada harus juga
tetap dengan cara pemilihan orang rakyat dan bukan
pengangkatan penuh seperti selama ini).
Bukankah penolakan jatah pengangkatan ini oleh
salah satu kekuatan politik justru membuat kita bertanya2,
kenapa? Apakah mereka dirugikan?
Karena mereka menolak, maka saya asumsikan mereka
akan dirugikan bila jatah pengangkatan ini dihapuskan.
Nah, apakah PEMILU yg seperti ini sudah bisa dibilang
dapat mewakili aspirasi masyarakat?

Hadeer:
>  Pemilu memang tidak memuaskan dan pahit, tapi itu jalan satu-satunya yang
>  legitimate, tunggu dan bersabar hingga pemilu tahun 2004, pelan - pelan
>  kita rubah semuanya ........tidak segampang membalik tangan, dibutuhkan
>  orang - orang dan mahasiswa yang sabar, berpikir jernih dan tidak
>  memaksakan kehendak.

Irwan:
Anda jangan membalik2 masalah. Sebenarnya siapa sih yg
memaksakan kehendak? Golkar atau rakyat/mahasiswa-kah? Kenapa
Golkar tetap ngotot mempertahankan masalah pengangkatan
yg 200 orang itu? Dan lagi, apa sih sulitnya menghapuskan hak
pengangkatan 200 orang anggota MPR tersebut?
Bukankah kalau mau pemilunya jujur dan adil seperti yg didengung2kan
selama ini maka seharusnya tidak ada lagi pengangkatan
200 anggota MPR tersebut?

Satu tambahan lagi, kalau anda meminta mahasiswa
lebih sabar dan tidak memaksakan kehendak, maka
saat ini yg masih menjabat presiden adalah Soeharto.
Semoga anda sadari ini.

Tambahan lagi, soal pengangkatan anggota MPR/DPR yg
tidak melalui pemilu ini rupanya sudah pernah diperjuangkan
pula oleh sebagian mahasiswa. Mereka adalah yg selama
ini termasuk dikategorikan bergaris keras. Sayangnya
sebagian mahasiswa lagi cenderung menerima saja,
mungkin karena terlalu cepat bersyukur dan mengira
tujuan perjuangan sudah tercapai yaitu menjatuhkan
Soeharto. Padahal tujuan perjuangan belum selesai.
Masih banyak yg harus dibenahi. Dan kini anda
meminta mahasiswa lebih bersabar.

Bung Hadeer, lihatlah apa yg sedang diperjuangkan
oleh mereka, apakah memang mengandung nilai
kebenaran atau sekedar ingin ramai2 saja.
Dimata saya apa yg sedang mereka perjuangkan
memiliki nilai2 yg bisa dipertanggung-jawabkan.

Demikian saja tanggapan dari saya.

jabat erat,
Irwan Ariston Napitupulu

Kirim email ke