In a message dated 5/25/99 7:43:16 PM Eastern Daylight Time, [EMAIL PROTECTED]
writes:
Jaya:
>  Wah, ndak ada untungnya ane mbela tentara oom... Cuman mau lihat
>  masalahnya dari sudut yg berbeda.

Irwan:
Nah, itulah bung Jaya, anda saya lihat tidak konsisten
dalam hal ini. Giliran permasalahannya berhubungan dengan
ABRI, anda mencoba melihat permasalahannya dari sudut
yg berbeda, tapi ketika permasalahannya ada pada satu
kelompok mahasiswa, anda tidak mencoba melihatnya
dari sudut yg berbeda. Nah, pemaparan panjang lebar yg
saya tulis kemarin2 itu ya dalam rangka mencoba memberikan
sudut yg berbeda itu, bung Jaya. Moga2 anda sekarang
sudah menangkap poinnya. Kalau belum juga sih, tobat
juga gue nih....hehehe

Jaya:
>  Bukanya mau langsung menyalahkan
>  mahasiswa pula. Kita tahu lah kayak gimana sih. Gantian Bung Irwan
>  nginget-nginget gimana marinir waktu itu disenangi mahasiswa.

Irwan:
Lho, apa ini artinya setiap perbuatan ABRI harus di-amin-kan saja?
Ya ndak toh?

Jaya:
>Jadi
>  tetap saja terdapat perbedaan-perbedaan pendekatan di dalam tubuh
>  ABRI. Kalau mau langsung men-judge gitu ya monggo kerso lah.
>  Mending kalo ane ngotot lalu dibayar TNI hehe....

Irwan:
Lho, jadinya gimana kalau anda anggota ABRI yg mbandel?
Apa mau didiemin aja? Apa kita mau ajukan ke pengadilan
negeri? Ya ngga bisa atuh....:)
Mereka yg salah itu harus diusut dan di-mahmil-kan dan harus
transparan biar masyarakat luas bisa mengetahuinya.
Di dalam tubuh ABRI, kalau ngga salah apa yg dilakukan oleh
anak buah menjadi tanggung jawab komandannya.
Mohon saya dikoreksi kalau salah.
Jadi, kalau memang ada tentara yg nembakin mahasiswa
dengan peluru tajam, ABRI harus bertanggung jawab penuh.

Jaya:
>  Lha ya itu, yang jadi korban adalah mahasiswa Trisakti, kok yg
>  beringas orang Forkot. Kalo Bung Irwan mau menyatukan
>  mahasiswa sih boleh saja, cuma lihat lagi apakah mhs Trisakti
>  sepaham dengan Forkot?

Irwan:
Siapa bilang yg meninggal, hilang, dan yg jadi korban dalam
peristiwa Semanggi adalah mahasiswa Trisakti???

Jaya:
>  Hehehe.... Wah sama-sama membayangkan kok anda bisa menilai saya
>  lebih tidak mengenal situasi dari anda tho? Kebencian thd ABRI tidak
>  di-trigger oleh peristiwa Semanggi.

Irwan:
Memang, itu sudah sejak lama.
Yang jadi topik pembahasan kita adalah adanya demo
mahasiswa yg tergabung dalam Forkot yg memaki atau
melempar aparat dengan botol. Ini khan permasalahan awalnya?
Dan posting2 saya kemarin itu dalam rangka mencoba
melihat atau mencari tahu kenapa kira2 mereka bisa punya
perilaku begitu. Pinjam istilah anda, mencoba melihat dari
sudut yg berbeda. Karena dalam Forkot ada anggota mahasiswa
Unika Atmajaya-nya, makanya saya pakai kemungkinan2
dampak psikologis akibat peristiwa Semanggi.
Nangkep sekarang?
Bola kali ah ditangkep....:)

Irwan:
>  > Saya pribadi tetap berharap kekuatan non Golkar mampu
>  > menghimpun kekuatan melebihi 50% kursi di MPR
>  > walau saya agak kurang  yakin bisa mencapai angka tersebut
>  > karena hal tersebut setara dengan harus memenangkan pemilu
>  > kali ini dengan kemenangan 76%.
>  > Angka ini didapat dari:
>  > jumlah anggota MPR/DPR sebanyak 700
>  > Utusan daerah dan golongan yg diangkat langsung 200
>  > TNI dapat jatah 38 kursi.
>  > Dengan demikian kursi yg diperebutkan menjadi 462.
>  > Untuk menggolkan pemerintahan yg non Golkar dibutuhkan
>  > minimal 351 suara. 351 suara ini setara dengan 76% dari 462.

Jaya:
>  Wah, anda kali ini ndak konsisten. Kalau merasa bahwa
>  Forkot perlu didukung, berarti anda harus boikot pemilu. Jangan
>  pake syarat-syarat.... Lha ini kan yang pernah diposting oleh
>  Bung Dodo waktu itu....yaitu bagaimana kalo Golkar menang.
>  Waktu itu Bung Irwan kemane aje....? Mosok kalo pemilu
>  menang non-golkar lalu direstui, kalo yg menang golkar lalu
>  mesti rame-rame lagi.... Pegimane? Kalo gitu mending bilang
>  aja sekarang ada pemilu, tapi Golkar ndak boleh ikut. Gampang
>  tho?

Irwan:
Pemikiran Forkot yg sejalan dengan saya adalah masalah
pengangkatan anggota MPR/DPR yg tanpa melalui pemilu tersebut.
Pemikiran ini sudah ada sejak tahun 1991 ketika saya masih
mahasiswa dulu. Dan pemikiran untuk menghapuskan sistem
pengangkatan ini juga sudah diajukan secara resmi ke MPR
sebelum pemilu 1992. Hasilnya? Ya jelas aja ditolak oleh partai
yg diuntungkan dengan sistem pengangkatan ini.

Posisi saya dalam pemilu kali ini, saya tidak akan
keberatan selama hasilnya membuahkan mayoritas
non-Golkar cs dalam pemungutan suara untuk
memilih pemerintahan yg baru. Dengan kata lain,
kalau dalam voting pemilihan presiden nanti yg kepilih
adalah jagoan Golkar dengan kemenangan suara kurang
dari 470, maka hasil tersebut tidak bisa saya terima.
Revolusi rakyat menjadi alternatif jalan keluarnya.

Dari mana angka 470 itu didapat?
Jumlah anggota MPR nantinya sebanyak 700. Dibutuhkan
suara 351 pendukung untuk menang.
Jumlah yg diangkat tanpa melalui pemilu ada 238. Bila
jumlah ini diharapkan tidak ada pengaruhnya ke voting,
maka kekuatannya harus sama antara yg ke pro Golkar
dan non Golkar, atau setara dengan 119 ke Golkar cs
dan 119 suara lainnya ke non Golkar. Total menjadi 470.
Dasar pemikirannya, Golkar harus bisa menang voting
sebanyak 351 suara tanpa suara yg berasal dari 238
pengangkatan itu.

Anda mau katakan saya tidak adil?
Silahkan saja. Wong sistem pengangkatan itu sendiri
saja sudah tidak adil koq.

Jaya:
>  Lha itu dia tho Bung Irwan. Mungkin di sini bisa melihat secara jelas
>  yg ane maksudken. Kalo mau berani bertarung lewat pemilu, forget
>  tuntutan Forkot. Kalo memang mau minta pemilu diundur untuk memenuhi
>  syarat-syarat itu, ya silakan boikot pemilu, tuntut parte kesayangan
>  masing-masing untuk nuntut pemilu diundur. Ndak bisa setengah-
>  setengah gitu....

Irwan:
Pendirian saya tentang pemilu sudah saya paparkan di atas.
Tuntutan Forkot sesuai dengan tuntutan saya (kami, saya
dan rekan2 mahasiswa gabungan senat universitas saya waktu itu)
pada tahun 1991 dulu.

Anda mau bilang saya setengah2? Silahkan saja, karena
bagi saya Golkar sendiri sudah setengah2 untuk menjalankan
pemilu yg jurdil, jujur dan adil. Mau pemilu yg jurdil?
Hapuskan sistem pengangkatan. Gampang toh?
Kalau ngga mau, justru ini jadi tanda tanya, kenapa ngga
mau?

Jaya:
>  Ane setuju 200 persen lah bung irwan... Bedanya kalo Bung Irwan
>  mbela salah satu parte, ane ngritik semua parte yg nurut ane ndak
>  bener. Ndak perduli PAN, PDI-P, PK, PKB. Golkar sih ndak usah dihitung.
>  Ngapain pula dibahas....

Irwan:
Anda salah. Saya dukung partai2 yg anti Golkar cs.
Masih ingat khan slogan ABG cs?
Hal ini karena tujuan utama saya perbaikan kondisi
rakyat di tanah air khususnya rakyat kecil. Dan itu
tidak saya percayakan lagi ditangan Golkar yg sudah
jelas2 tidak mampu bahkan menyelewengkan kepercayaan
yg sudah diberikan.

Dukungan saya itu saya salurkan lewat PDIP.
Anda bisa lihat posting2 saya yg mengajak untuk
memilih salah satu dari PDIP, PKB, PAN.
Sekarang saya yakin bisa ditambahkan PK didalamnya.
Hanya saja untuk PPP, saya masih mikir2 dan ragu
apakah mereka akan penuh untuk anti Golkar atau
masih membuka peluang berkoalisi dengan Golkar
seperti diungkapkan oleh ketuanya Hamzah Haz
tanggal 10 Mei 1999 kepada wartawan Detikcom.
Saya kutipkan saja potongan wawancaranya:
http://www.detik.com/berita/199905/19990510-2000.html
-------kutipan wawancara------
Rencana koalisi dengan Golkar benar?

Kita akan koalisi dengan partai yang mendapat dukungan
rakyat. Siapa itu, siapa nanti, kita tidak tahu. Ya kan begitu.
Untuk apa kita berkoalisi dengan sudah menyebut partai tapi
tidak mendapat dukungan rakyat. Nanti setelah pemilu, siapa
saja yang mendapat dukungan rakyat, dialah yang kita ajak. Jadi
semua partai, bukan hanya Golkar, PDI Perjuangan, atau PKB.
------akhir kutipan------


Mengenai penjelasan anda yg mengatakan sudah pernah
melemparkan ke milis ini beberapa waktu yg lalu, sayangnya
saya tidak mengikuti karena sempat beberapa bulan saya
tidak aktif membaca posting2 dari permias.

Sekedar melengkapi saja, soal ketidaksetujuan saya terhadap
sistem pengangkatan, sudah saya lempar ke milis ini sejak
tahun lalu termasuk bahaya2 yg terkandung didalamnya.
Sayangnya kurang mendapat tanggapan yg cukup berarti.


jabat erat,
Irwan Ariston Napitupulu

Kirim email ke