Hehe....ya sudah kalo gitu kita sepakat dengan sebagian besar isu, tetapi
tidak sepakat pada:
- cara pandang bagaimana kalo Golkar menang. Kalo saya menganggap selama
  aturan main bersama sudah disetujui, maka hasil apapun yg muncul harus diterima
  semua pihak. Baik Golkar maupun non Golkar nyang menang. Mosok kalo non-golkar
  menang berarti pemilu sah, kalo golkar menang berarti pemilu ndak sah. Ini namanya
  sudah pasti, ndak ada kemungkinan lain. Dan ini berarti juga ndak demokratis.
- cara mensikapi ABRI. Kalo ane sebelum ada investigasi, ya ndak perlu nuduh yang
  diikuti oleh sikap kasar thd yg bertugas saat ada demo. Nuduh doang sih boleh 
saja.....
- cara mensikapi pemilu. Kalo saya menganggap, bila kita sudah berani ikut
  mencoblos berarti sudah menganggap pemilu sah. Kalo ndak, berarti kita ikut andil
  melakukan perbuatan nyg ndak sah.
- cara mensikapi forkot. Kalo ane tetap ndak setuju dengan cara Forkot berdemo.
  Yang gini masih jauh dari pengejawantahan demokrasi nyang kita tuju.

Lho kok banyak.... Ya ndak apa-apa. Wong lambut bole sama item tapi dengkul belum
temtu bole sama-sama lancip (runcing) tho...hehehe.......

Belhubung ane lagi banyak ulusan maka perdebatan dihentikan dg beberapa
perbedaan yg kite keep aja kayak gitu.

Elho....ngomong-ngomong ini rak yg didepinisikan sbg status quo tho? Kalo status quo
nyang lagi banyak disebut-sebut mah udah melenceng dari pakem.
[ webster bilang = the existing state of affairs <seeks to preserve the status quo> ]
Emang kalo kite bole jujul, AR itu sumber istilah ndak benel.....


'-----------------------
Irwan Ariston Napitupulu wrote:

> In a message dated 5/25/99 7:43:16 PM Eastern Daylight Time, [EMAIL PROTECTED]
> writes:
> Jaya:
> >  Wah, ndak ada untungnya ane mbela tentara oom... Cuman mau lihat
> >  masalahnya dari sudut yg berbeda.
>
> Irwan:
> Nah, itulah bung Jaya, anda saya lihat tidak konsisten
> dalam hal ini. Giliran permasalahannya berhubungan dengan
> ABRI, anda mencoba melihat permasalahannya dari sudut
> yg berbeda, tapi ketika permasalahannya ada pada satu
> kelompok mahasiswa, anda tidak mencoba melihatnya
> dari sudut yg berbeda. Nah, pemaparan panjang lebar yg
> saya tulis kemarin2 itu ya dalam rangka mencoba memberikan
> sudut yg berbeda itu, bung Jaya. Moga2 anda sekarang
> sudah menangkap poinnya. Kalau belum juga sih, tobat
> juga gue nih....hehehe
>
> Jaya:
> >  Bukanya mau langsung menyalahkan
> >  mahasiswa pula. Kita tahu lah kayak gimana sih. Gantian Bung Irwan
> >  nginget-nginget gimana marinir waktu itu disenangi mahasiswa.
>
> Irwan:
> Lho, apa ini artinya setiap perbuatan ABRI harus di-amin-kan saja?
> Ya ndak toh?
>
> Jaya:
> >Jadi
> >  tetap saja terdapat perbedaan-perbedaan pendekatan di dalam tubuh
> >  ABRI. Kalau mau langsung men-judge gitu ya monggo kerso lah.
> >  Mending kalo ane ngotot lalu dibayar TNI hehe....
>
> Irwan:
> Lho, jadinya gimana kalau anda anggota ABRI yg mbandel?
> Apa mau didiemin aja? Apa kita mau ajukan ke pengadilan
> negeri? Ya ngga bisa atuh....:)
> Mereka yg salah itu harus diusut dan di-mahmil-kan dan harus
> transparan biar masyarakat luas bisa mengetahuinya.
> Di dalam tubuh ABRI, kalau ngga salah apa yg dilakukan oleh
> anak buah menjadi tanggung jawab komandannya.
> Mohon saya dikoreksi kalau salah.
> Jadi, kalau memang ada tentara yg nembakin mahasiswa
> dengan peluru tajam, ABRI harus bertanggung jawab penuh.
>
> Jaya:
> >  Lha ya itu, yang jadi korban adalah mahasiswa Trisakti, kok yg
> >  beringas orang Forkot. Kalo Bung Irwan mau menyatukan
> >  mahasiswa sih boleh saja, cuma lihat lagi apakah mhs Trisakti
> >  sepaham dengan Forkot?
>
> Irwan:
> Siapa bilang yg meninggal, hilang, dan yg jadi korban dalam
> peristiwa Semanggi adalah mahasiswa Trisakti???
>
> Jaya:
> >  Hehehe.... Wah sama-sama membayangkan kok anda bisa menilai saya
> >  lebih tidak mengenal situasi dari anda tho? Kebencian thd ABRI tidak
> >  di-trigger oleh peristiwa Semanggi.
>
> Irwan:
> Memang, itu sudah sejak lama.
> Yang jadi topik pembahasan kita adalah adanya demo
> mahasiswa yg tergabung dalam Forkot yg memaki atau
> melempar aparat dengan botol. Ini khan permasalahan awalnya?
> Dan posting2 saya kemarin itu dalam rangka mencoba
> melihat atau mencari tahu kenapa kira2 mereka bisa punya
> perilaku begitu. Pinjam istilah anda, mencoba melihat dari
> sudut yg berbeda. Karena dalam Forkot ada anggota mahasiswa
> Unika Atmajaya-nya, makanya saya pakai kemungkinan2
> dampak psikologis akibat peristiwa Semanggi.
> Nangkep sekarang?
> Bola kali ah ditangkep....:)
>
> Irwan:
> >  > Saya pribadi tetap berharap kekuatan non Golkar mampu
> >  > menghimpun kekuatan melebihi 50% kursi di MPR
> >  > walau saya agak kurang  yakin bisa mencapai angka tersebut
> >  > karena hal tersebut setara dengan harus memenangkan pemilu
> >  > kali ini dengan kemenangan 76%.
> >  > Angka ini didapat dari:
> >  > jumlah anggota MPR/DPR sebanyak 700
> >  > Utusan daerah dan golongan yg diangkat langsung 200
> >  > TNI dapat jatah 38 kursi.
> >  > Dengan demikian kursi yg diperebutkan menjadi 462.
> >  > Untuk menggolkan pemerintahan yg non Golkar dibutuhkan
> >  > minimal 351 suara. 351 suara ini setara dengan 76% dari 462.
>
> Jaya:
> >  Wah, anda kali ini ndak konsisten. Kalau merasa bahwa
> >  Forkot perlu didukung, berarti anda harus boikot pemilu. Jangan
> >  pake syarat-syarat.... Lha ini kan yang pernah diposting oleh
> >  Bung Dodo waktu itu....yaitu bagaimana kalo Golkar menang.
> >  Waktu itu Bung Irwan kemane aje....? Mosok kalo pemilu
> >  menang non-golkar lalu direstui, kalo yg menang golkar lalu
> >  mesti rame-rame lagi.... Pegimane? Kalo gitu mending bilang
> >  aja sekarang ada pemilu, tapi Golkar ndak boleh ikut. Gampang
> >  tho?
>
> Irwan:
> Pemikiran Forkot yg sejalan dengan saya adalah masalah
> pengangkatan anggota MPR/DPR yg tanpa melalui pemilu tersebut.
> Pemikiran ini sudah ada sejak tahun 1991 ketika saya masih
> mahasiswa dulu. Dan pemikiran untuk menghapuskan sistem
> pengangkatan ini juga sudah diajukan secara resmi ke MPR
> sebelum pemilu 1992. Hasilnya? Ya jelas aja ditolak oleh partai
> yg diuntungkan dengan sistem pengangkatan ini.
>
> Posisi saya dalam pemilu kali ini, saya tidak akan
> keberatan selama hasilnya membuahkan mayoritas
> non-Golkar cs dalam pemungutan suara untuk
> memilih pemerintahan yg baru. Dengan kata lain,
> kalau dalam voting pemilihan presiden nanti yg kepilih
> adalah jagoan Golkar dengan kemenangan suara kurang
> dari 470, maka hasil tersebut tidak bisa saya terima.
> Revolusi rakyat menjadi alternatif jalan keluarnya.
>
> Dari mana angka 470 itu didapat?
> Jumlah anggota MPR nantinya sebanyak 700. Dibutuhkan
> suara 351 pendukung untuk menang.
> Jumlah yg diangkat tanpa melalui pemilu ada 238. Bila
> jumlah ini diharapkan tidak ada pengaruhnya ke voting,
> maka kekuatannya harus sama antara yg ke pro Golkar
> dan non Golkar, atau setara dengan 119 ke Golkar cs
> dan 119 suara lainnya ke non Golkar. Total menjadi 470.
> Dasar pemikirannya, Golkar harus bisa menang voting
> sebanyak 351 suara tanpa suara yg berasal dari 238
> pengangkatan itu.
>
> Anda mau katakan saya tidak adil?
> Silahkan saja. Wong sistem pengangkatan itu sendiri
> saja sudah tidak adil koq.
>
> Jaya:
> >  Lha itu dia tho Bung Irwan. Mungkin di sini bisa melihat secara jelas
> >  yg ane maksudken. Kalo mau berani bertarung lewat pemilu, forget
> >  tuntutan Forkot. Kalo memang mau minta pemilu diundur untuk memenuhi
> >  syarat-syarat itu, ya silakan boikot pemilu, tuntut parte kesayangan
> >  masing-masing untuk nuntut pemilu diundur. Ndak bisa setengah-
> >  setengah gitu....
>
> Irwan:
> Pendirian saya tentang pemilu sudah saya paparkan di atas.
> Tuntutan Forkot sesuai dengan tuntutan saya (kami, saya
> dan rekan2 mahasiswa gabungan senat universitas saya waktu itu)
> pada tahun 1991 dulu.
>
> Anda mau bilang saya setengah2? Silahkan saja, karena
> bagi saya Golkar sendiri sudah setengah2 untuk menjalankan
> pemilu yg jurdil, jujur dan adil. Mau pemilu yg jurdil?
> Hapuskan sistem pengangkatan. Gampang toh?
> Kalau ngga mau, justru ini jadi tanda tanya, kenapa ngga
> mau?
>
> Jaya:
> >  Ane setuju 200 persen lah bung irwan... Bedanya kalo Bung Irwan
> >  mbela salah satu parte, ane ngritik semua parte yg nurut ane ndak
> >  bener. Ndak perduli PAN, PDI-P, PK, PKB. Golkar sih ndak usah dihitung.
> >  Ngapain pula dibahas....
>
> Irwan:
> Anda salah. Saya dukung partai2 yg anti Golkar cs.
> Masih ingat khan slogan ABG cs?
> Hal ini karena tujuan utama saya perbaikan kondisi
> rakyat di tanah air khususnya rakyat kecil. Dan itu
> tidak saya percayakan lagi ditangan Golkar yg sudah
> jelas2 tidak mampu bahkan menyelewengkan kepercayaan
> yg sudah diberikan.
>
> Dukungan saya itu saya salurkan lewat PDIP.
> Anda bisa lihat posting2 saya yg mengajak untuk
> memilih salah satu dari PDIP, PKB, PAN.
> Sekarang saya yakin bisa ditambahkan PK didalamnya.
> Hanya saja untuk PPP, saya masih mikir2 dan ragu
> apakah mereka akan penuh untuk anti Golkar atau
> masih membuka peluang berkoalisi dengan Golkar
> seperti diungkapkan oleh ketuanya Hamzah Haz
> tanggal 10 Mei 1999 kepada wartawan Detikcom.
> Saya kutipkan saja potongan wawancaranya:
> http://www.detik.com/berita/199905/19990510-2000.html
> -------kutipan wawancara------
> Rencana koalisi dengan Golkar benar?
>
> Kita akan koalisi dengan partai yang mendapat dukungan
> rakyat. Siapa itu, siapa nanti, kita tidak tahu. Ya kan begitu.
> Untuk apa kita berkoalisi dengan sudah menyebut partai tapi
> tidak mendapat dukungan rakyat. Nanti setelah pemilu, siapa
> saja yang mendapat dukungan rakyat, dialah yang kita ajak. Jadi
> semua partai, bukan hanya Golkar, PDI Perjuangan, atau PKB.
> ------akhir kutipan------
>
> Mengenai penjelasan anda yg mengatakan sudah pernah
> melemparkan ke milis ini beberapa waktu yg lalu, sayangnya
> saya tidak mengikuti karena sempat beberapa bulan saya
> tidak aktif membaca posting2 dari permias.
>
> Sekedar melengkapi saja, soal ketidaksetujuan saya terhadap
> sistem pengangkatan, sudah saya lempar ke milis ini sejak
> tahun lalu termasuk bahaya2 yg terkandung didalamnya.
> Sayangnya kurang mendapat tanggapan yg cukup berarti.
>
> jabat erat,
> Irwan Ariston Napitupulu

--
Salam,
Jaya


--> I disapprove of what you say, but I will
    defend to death your right to say it. - Voltaire

               \\\|///
             \\  - -  //
              (  @ @  )
------------oOOo-(_)-oOOo-----------
FNU Brawijaya
Dept of Civil Engineering
Rensselaer Polytechnic Institute
mailto:[EMAIL PROTECTED]
--------------------Oooo------------
           oooO     (   )
          (   )      ) /
           \ (      (_/
            \_)

Kirim email ke