Yusuf-Wibisono wrote:
> Kang Efron:
> >Salah satu sumbernya adalah uang hasil privatisasi BUMN. Misal harga pasti
> >per lembar saham adalah 200 maka yang ada di kuitansi adalah 190. Ini
> >kenyataan yang sukar membuktikannya. Sumber lainnya dari jarahan selama 32
> >tahun.
Sumber lain dari menjarah selama 32 tahun kok rada nggak cocok ya..... Kalo memang
menjarah, sudah barang tentu langsung masuk kantong pribadi. Kalo masuk ke orga-
nisasi apa ya mungkin? Wong ada laporan keuangan kok. Kalo masuk kantong pribadi
jelas dapat ngilang dengan mudah. Lagipula dalam situasi tenang nyimpen uang ke
organisasi jelas bisa dituduh anak buahnya sebagai mau menilep / mengangkangi uang
sendiri. Lagipula misal Golkar melakukannya, tiap kali periode ganti pengurus biasanya
sih akan berusaha menghabiskan dana di akhir periode jabatannya. Rugi kalo enggak.
Ndak akan mungkin ada dana tertimbun secara kumulatif selama 32 tahun. Wah, sudah
dirayah duluan mas sama yg waktu itu menjabat ....... Ane ndak yakin ada tokoh Golkar
yang demikian berdedikasi untuk memikirkan kelangsungan Golkar setelah dianya
purna bakti....
> Yw: Darimana pun sumbernya, mungkin gampang...
> Tapi mendistribusikan trilyunan uang dalam waktu beberapa
> hari, tanpa ketahuan... di Indonesia, oh boy, sulit, Pak.
Ini point penting. Mau menyuap kan mesti lihat-lihat dulu orangnya, diselidiki dulu
jangan-jangan waktu mau disuap bilang okay, habis itu dibawa ke koran sambil bawa
barang bukti uang sogokan. Nah, repot tho? Jadi mau nyuap juga nggak gampang....
Dengan waktu yang demikian sempit, persoalan benar-benar nggak semudah yg
diteorikan.
> >Sumber saya mengatakan khusus untuk SU mendatang anggaran "suap" yang
> >disediakan adalah Rp 2 trilyun. Uang muka sebesar Rp 50 juta sudah dibayar
> >plus fasilitas kampanye. Jelas 'kan uang sebesar itu hanya "kacang bawang"
> >ketimbang APBN. Apalagi dalam bentuk rupiah. Jika dikonversi ke dolar maka
> >menjadi sebesar "hanya" USD 250 juta saja. Masuk akal 'kan?
> >
> >Efron
Ngomong-ngomong sogokannya mau disumpel ke mulut siapa sih? Ke anggota
MPR yg non Golkar? Wah, kalo ane orang Golkar, gantian ane juga bunyi, nggak
adil dong.... Apalagi sogokannya gede gitu... Yang 200 orang itu gimana? Apakah
dapat kita asumsikan semua pro Golkar? Wah susah.... Ingat lho, di jaman ORBA
pun yang sering membandel justru orang-orang F-ABRI tuh... Padahal sudah
demikian solidnya ABRI kala itu.
> Yw: Terus votingnya terbuka atau tertutup?
> Kalo tertutup: cing-cai, lah,... USD250 juta lenyap tanpa hasil.
> Kalo terbuka: dapetnya nggak seberapa, di jalanan diancurin
> orang...
Dapetnya ya banyak mas.... Voting tertutup malah memungkinkan timbulnya
mafia-mafia baru. Berbagai kasak-kusuk akan timbul di dalam tubuh MPR,
hasilnya kayak pasar hewan. Tawar-tawaran atau gede-gedean uang suap.
Mending dilakukan secara terbuka saja. Dibuka blak biar masyarakat dapat
melihat siapa milih siapa... Ini penting agar kredibilitas anggota MPR sebagai
wakil rakyat juga terpelihara. Kalau dibiarkan kayak gitu, gimana masyarakat
merasa terwakili oleh para (tertuduh) penerima suap. Jadinya ya demo lagi...
> Jadi: satu-satunya jalan: mereka harus bisa menciptakan
> cara voting yg tertutup bagi mata rakyat (tapi terbuka
> bagi mata mereka)... Jaman orde baru mungkin bisa, tapi
> sekarang... Sulit.
>
> Kesimpulan: (Bukan tidak bisa, tapi) sulit (banget).
Konsekuensinya sangat berat. Kalo satu saja ada yg membocorkan ke pihak
luar, dapat menimbulkan geger luar biasa. Apalagi kalo ditambahi berbagai
bumbu menurut selera yang membocorkan (yang mungkin sakit hati). Bisa
tambah gawat....
--
Salam,
Jaya
--> I disapprove of what you say, but I will
defend to death your right to say it. - Voltaire
\\\|///
\\ - - //
( @ @ )
------------oOOo-(_)-oOOo-----------
FNU Brawijaya
Dept of Civil Engineering
Rensselaer Polytechnic Institute
mailto:[EMAIL PROTECTED]
--------------------Oooo------------
oooO ( )
( ) ) /
\ ( (_/
\_)