In a message dated 10/13/99 6:23:15 PM Eastern Daylight Time,
[EMAIL PROTECTED] writes:

> Kemarin saya mereply Bung Irwan dg jawaban yg kurang
>  tepat. Jadi mending saya luruskan. Untuk beritanya, saya
>  rasa memang dari Tempo. Sayang tidak bisa search karena
>  mesti jadi anggota. Yang dari Gatra lumayan juga sih.

Irwan:
Bung Jeffrey, karena saya tidak menguasai masalah
Timtim karenanya posisi saya dalam diskusi ini akan
cenderung lebih banyak bertanya. Moga2 anda bisa
memaklumi dan ngga segan2 bagi pengatahuan seputar
hal ini. Karena saya tidak punya bahan/sumber, maka
sumber yg akan saya gunakan ya sumber yg anda berikan.

Bagi rekan2 lainnya yg merasa perlu memberikan informasi
atau pun penyanggahan, silahkan saja. Saya cenderung
akan menyerap semuanya dan memasukan ke database
di kepala saya untuk menambah wawasan saya akan
masalah Timtim.

Berikut ini, saya butuh pencerahan anda atas artikel
yg ada di Gatra. Oh ya, mengenai artikel yg anda
kutipkan saya cenderung hendaknya kita melihat dari
dua sisi. Saya bisa memaklumi perasaan anggota
TNI yg pernah dikirim ke Timtim yg menginginkan
Timtim tetap berada dalam wilayah Indonesia, tapi
kita perlu juga memperhatikan perasaan para pejuang
Timtim dan keluarga korban pejuang Timtim yang
juga menginginkan Timtim lepas dari Indonesia.
Mereka juga menderita tak kalah hebatnya seperti para anggota
tentara kita selama di Timtim. Penderitaan tersebut
tidak dapat kita jadikan alasan untuk mempertahankan
sesuatu yg sebenarnya bukan milik/hak kita.

Berikut ini hal2 yg saya ingin bahas/tanyakan.

Ada beberapa hal yg saya temukan dari artikel
di gatra tersebut.
http://www.gatra.com/V/43/LPT2-43.html

Peristiwa Penting di Timtim 1974-1999

   25 April 1974: Gerakan Angkatan Bersenjata (Armed Forces Movement)
   melancarkan kup di Lisbon, Portugal, untuk menggulingkan rezim
   Caetano.

   5 Mei 1974: Gubernur Timor Timur mengeluarkan pernyataan tentang
   pembentukan partai-partai politik.

   11 Mei 1974: Unido Democratica Timorense (UDT -Serikat Demokratik
   Timor) dibentuk.

   12 Mei 1974: Associacao Social Democratica Timorense (ASDT
   -Perhimpunan Sosial Demokratik Timor) didirikan.

   17 Juni 1974: Menteri Luar Negeri Indonesia Adam Malik mengirim surat
   kepada perwakilan ASDT, Jose Ramos Horta, bahwa Indonesia mendukung
   kemerdekaan Timor Timur.

Irwan:
Peristiwa ini baru saya ketahui, INDONESIA MENDUKUNG KEMERDEKAAN TIMTIM.
Mari kita ikuti lagi kronologis peristiwanya.

   6 September 1974: Perdana Menteri Australia Gough Whitlam bertemu
   dengan Presiden Soeharto di Wonosobo, Jawa Tengah, dan menyatakan
   setuju bahwa integrasi Timor Timur dengan Indonesia tidak dapat
   dihindari.

Irwan:
Bila kita lihat di atas, hanya kurang 3 bulan telah terjadi
perubahan pandangan di sisi pemerintah Indonesia,
dari awalnya sepakat mendukung kemerdekaan Timtim,
tiba2 berubah menjadi membicarakan masalah integrasi Timtim.
Bisakah dijelaskan hal2 yg terjadi antara tanggal tersebut
yg tidak termuat di gatra? Apa yg menyebabkan terjadinya
pergeseran posisi/pandangan pemerintah kita dalam memandang
Timtim? Koq yg tadinya mendukung kemerdekaan Timtim eh tiba2
berubah menjadi integrasi Timtim menjadi wilayah Indonesia?
Hal yg tidak kalah anehnya adalah saat itu khan Timtim masih
dibawah Portugal, koq bisa2nya kita sudah punya pikiran
integrasi Timtim ke Indonesia dan "minta" persetujuan Australia?
Ada apa ini?

   12 September 1974: ASDT diubah menjadi Frente Revolucionaria de Timor
   Leste Indepente (Fretilin -Front Revolusioner bagi Kemerdekaan Timor
   Timur).

Irwan:
Ini juga menarik diperhatikan. Hanya 6 hari setelah peristiwa pertemuan
Indonesia dan Australia yg isinya menyatakan Australia setuju integrasi Timor
Timur ke Indonesia, ASDT merubah namanya menjadi Fretilin yg lebih
mencerminkan suatu kelompok gerakan kemerdekaan.
Setahu saya selama pemerintah sering mengidentikan gerombolan Fretilin
itu sebagai gerombolan yg berpaham komunis. Saya yg dicekokin dengan
propaganda tersebut yg nerima aja, komunis maka sama dengan
bahaya negara. Cuma setelah kronologis peristiwa ini saya malah jadi
bertanya apa yg terjadi sebenarnya? Kenapa dulu pemerintah
memberikan surat kepada ASDT (nama Fretilin sebelumnya) mendukung
kemerdekaan Timtim, tapi koq belakangan ASDT baru atau Fretilin
malah jadi dimusihi dan di cap komunis?
Bisa dijelaskan kenapa dulu pemerintah lebih memilih mengirim surat
ke ASDT ketimbang ke UDT?

   14 Oktober 1974: Indonesia melancarkan Operasi Komodo.

Irwan:
Bisa dijelaskan misi dari operasi Komodo ini?
Mengingat Timtim saat itu masih dibawah Portugal, ini bila
kita lihat peristiwa tanggal 11 Agustus 1975 dimana dari peristiwa
itu saya simpulkan Portugal masih berkuasa di Timtim.
Apakah Operasi Komodo ini dibawah PBB? Kayaknya sih tidak ya.
Ada yg bisa bantu menjelaskan Operasi Komodo?

   20 Januari 1975: UDT dan Fretilin membentuk koalisi.

   26 Mei 1975: UDT menarik diri dari koalisi dengan Fretilin.

Irwan:
Ada cerita dibalik pecahnya koalisi UDT dan Fretilin?

   11 Agustus 1975: UDT melancarkan kup di Dili dan mengambil alih
   kekuasaan dari tangan Portugal.

   27 Agustus 1975: Gubernur dan Pemerintah Portugal angkat kaki dari
   Dili ke Pulau Atauro.

   24 September 1975: UDT meninggalkan Timor Timur menuju Timor Barat
   (NTT) dan membiarkan Fretilin sebagai penguasa Timor Timur.

Irwan:
Ini sangat aneh. Setelah berhasil melakukan kup hingga gubernur
dan pemerintah Portugal angkat kaki dari Dili, tiba2 koq UDT
meninggalkan Timor Timur menuju Timor Barat (NTT) dan membiarkan
Fretilin menjadi penguasa Timor Timur. Karena saya terbiasa berpikir
secara logika, saya merasakan adanya kejanggalan atas peristiwa ini.
Bisakah dilengkapi apa yg tidak tertulis di atas?
Kenapa UDT meninggalkan Timor Timur menuju Timor Barat?
Tambahan, apakah saat itu Timor Barat (NTT) adalah wilayah sah Indonesia?

   6 Oktober 1975: Pasukan Indonesia menyerang dan merebut Batugade,
   sebuah kota di perbatasan Timor Timur dengan NTT.

Irwan:
Apakah peristiwa 6 Oktober ini yg menjadi alasan UDT ngungsi dulu
ke NTT tanggal 24 September 1975 tersebut?

   28 November 1975: Fretilin mengumumkan Timor Timur sebagai negara
   merdeka.

   29 November 1975: Tokoh UDT, Apodeti, dan KOTA menandatangani
   deklarasi yang secara resmi mengintegrasikan Timor Timur ke wilayah
   Republik Indonesia. Deklarasi ini dikenal sebagai Deklarasi Balibo.

Irwan:
Kapan UDT masuk lagi ke Timtim setelah meninggalkan Timtim tanggal
24 September 1975? Apa alasan dia kali ini masuk lagi ke Timtim? Koq
makin banyak keanehan ya?
Awalnya hanya terdengar ASDT (Fretilin) dan UDT. Koq tiba2 ada lagi
Apodeti dan KOTA. Ada yg bisa ceritakan kapan Apodeti dan KOTA ini
dibentuk?

   7 Desember 1975: Militer Indonesia menyerang Timor Timur.

Irwan:
Apa dasar yg digunakan militer Indonesia menyerang Timtim?
Adakah bedanya operasi komodo dengan penyerangan tanggal 7 Desember ini?

   22 Desember 1975: Dewan Keamanan PBB menyerukan Indonesia untuk
   menarik angkatan bersenjatanya dari Timor Timur.

Irwan:
Peringatan pertama dari PBB.

   13 Januari 1976: Setelah menduduki Dili, Baucau, dan daerah
   perbatasan, Indonesia mendirikan pemerintahan yang terdiri dari
   anggota-anggota Apodeti dan UDT.

Irwan:
KOTA kemana, apa tidak diajak?
Apakah KOTA masih ada saat itu?

   3 April 1976: Pemberontakan anggota UDT di Dili dihancurkan oleh
   militer Indonesia.

Irwan:
Menarik sekali di amati. Pemberontakan seperti apakah yg sebenarnya
dilakukan oleh UDT? Mengingat UDT adalah salah satu penandatangan
deklasri Balibo. UDT juga termasuk salah satu  pihak yg diikutsertakan
oleh Indonesia mendirikan pemerintahan di Timtim.

   22 April 1976: Dewan Keamanan PBB kembali menyerukan Indonesia untuk
   keluar dari Timor Timur.

Irwan:
Peringatan kedua.

   15 Mei 1976: Fretilin mengadakan konferensi nasional selama dua minggu
   untuk mengatur perlawanan terhadap Indonesia.

   17 Juli 1976: Presiden Soeharto mengesahkan Undang-Undang Integrasi
   Timor Timur dengan Indonesia.

   19 November 1976: Majelis Umum PBB menolak aneksasi Indonesia terhadap
   Timor Timur.

Irwan:
Penolakan pertama.

   7 Mei 1977: Pasukan Fretilin mengklaim bahwa mereka menguasai 80%
   wilayah Timor Timur.

   28 November 1977: Majelis Umum PBB menolak integrasi Timor Timur ke
   dalam wilayah Indonesia dan menyerukan penentuan nasib sendiri
   dilaksanakan.

Irwan:
Penolakan kedua.

   20 November 1978: Majelis Umum PBB menyerukan penarikan pasukan
   Indonesia dari Timor Timur.

Irwan:
Peringatan ketiga.

Setelah ini, 7 tahun berselang tampaknya tidak ada kejadian2 penting.
Ada yg tahu kenapa?
Kronologis selanjutnya menurut saya kurang menarik lagi untuk diikuti.
Silahkan disimak sendiri pada bagian akhir posting ini.
Saya lebih tertarik untuk melihat asal muasal peristiwa di Timtim,
manuver2 yg dilakukan.
Berhubung sumber yg digunakan terbatas, karenanya apa yg saya tanyakan
atau pun komentari terbuka kemungkinan memiliki banyak kekurangan dan
kelemahannya. Karenanya bagi yg menguasai hal ini, mohon saya diberi
pencerahan hingga boleh lebih mengetahui permasalahan selama ini.


jabat erat,
Irwan Ariston Napitupulu


   16 Agustus 1985: Dalam pidato HUT ke-40 RI, Presiden Soeharto
   membenarkan invasi ke Timor Timur sebagai respons terhadap gerakan
   rakyat Timor Timur yang membebaskan diri dari belenggu kolonialisme.

   18 Agustus 1985: Perdana Menteri Australia Bob Hawke mengakui
   kedaulatan Indonesia terhadap Timor Timur.

   9 Desember 1985: Pemerintah Indonesia dan Australia mengumumkan bahwa
   mereka akan mengembangkan minyak di Celah Timor.

   5 November 1988: Presiden Soeharto mengumumkan delapan dari 13
   kabupaten di Timor Timur dibuka bagi orang Indonesia dan asing.

   12 November 1991: Penembakan terhadap demonstran di pemakaman Santa
   Cruz.

   20 November 1992: Xanana Gusmao ditangkap, dengan tuduhan sebagai otak
   demonstrasi di Santa Cruz.

   20 Juli 1993: Pemerintah Indonesia memberi jalan bagi perundingan
   antara orang Timor Timur yang pro dan antiintegrasi.

   27 Januari 1999: Menteri Luar Negeri Ali Alatas mengatakan bahwa
   Indonesia akan melepas Timor Timur bila otonomi ditolak. Pernyataan
   itu dikeluarkan setelah Sidang Kabinet Terbatas Bidang Politik dan
   Keamanan yang dipimpin Presiden Habibie.

   5 Mei 1999: Pemerintah Indonesia, Portugal, dan PBB menyetujui
   kesepakatan untuk menyelesaikan kasus Timor Timur lewat jajak
   pendapat.

   11 Juni 1999: Dewan Keamanan PBB membentuk misi perdamaian untuk Timor
   Timur atau UNAMET. Misi ini sebagai pelaksana jajak pendapat.

   30 Agustus 1999: Pelaksanaan jajak pendapat bagi warga Timor Timur di
   seluruh dunia.

   4 September 1999: Hasil jajak pendapat diumumkan Sekretaris Jenderal
   PBB di Markas PBB di New York. Kubu prokemerdekaan meraih 78,5% suara,
   dan prointegrasi/otonomi meraih 21,5%.

Kirim email ke