Saya akan berusaha menjawab sepanjang yg saya tahu. Tentu jangan ambil
sebagai kebenaran absolut. Saya juga sering salah.

>Irwan:
>Dalam posting terdahulu saya ada bertanya, mengapa Indonesia
>yg tadinya mendukung kemerdekaan Timtim jadi berubah berpikiran
>integrasi Timtim menjadi wilayah Indonesia?
>
>Yg saya bingung lagi, setelah pembicaraan Soeharto dengan
>Gough Whitlam (PM Australia) tanggal 6 September 1974
>dimana GW setuju integrasi Timtim ke Indonesia,
>kenapa 6 hari kemudian ASDT merubah nama menjadi Fretilin
>yg lebih namanya lebih terdengar sebagai suatu kelompok
>gerakan ketimbang partai seperti ASDT. Perubahan nama
>saya yakin punya maksud dan tujuan atau pun landasan.

JA:
Bung Irwan, rasanya Ramos Horta sudah menemui Adam Malik dan beberapa
petinggi ABRI jauh-jauh hari. Mengenai perkembangan Timtim, jelas Indonesia
sudah harus memonitor. Jadi sebelum ada kontak resmi antara orang Timtim, RI
sudah tahu. Pada saat seorang wartawan Indonesia pergi ke Dili, dia didekati
oleh Ramos Horta untuk menyampaikan keinginannya bertemu dengan Presiden
Indonesia. Wartawan ini berasal dari Harian Sinar Harapan (nama lama dari
Suara Pembaruan). Waktu pulang dia harus mampir ke Kupang, dan di sana
menyampaikan keinginan Horta kepada Gubernur NTT, yaitu El Tari (kalau nggak
salah). Nah, pertemuan ini terjadi jauh hari sebelumnya, jadi tidak tercover
oleh kronologi Gatra. ASDT sendiri waktu itu masih bingung antara merdeka
atau meminta berintegrasi dg Indonesia. Jadi masih ada pergulatan politik di
dalam tubuh ASDT sendiri. Satu hal yg mereka sepakati bersama adalah mereka
minta pertolongan RI.

Menurut cerita wartawan SH tadi, beberapa bulan kemudian dia dihubungi Horta
di Jakarta, dan Horta ngomel-ngomel karena dalam pertemuannya dengan para
petinggi ABRI dan Adam Malik tidak mendapat jaminan apapun. Maklum, Horta
cuman wartawan yg belum tahu diplomasi kala itu, sehingga tidak mikir bahwa
para petinggi ABRI ini mesti ribut berdiskusi. Saya rasa RI kala itu baru
berhubungan dengan Australia dan AS, dan saling share informasi. Jadi tidak
mungkin RI melaksanakan operasi komodo sebelum diojok-ojok oleh AS, dan
dapat persetujuan dari Australia (sebagai negara terdekat, shg info
intelejen juga sama-sama relatif lengkap).

Pembicaraan Whitlam tadi jelas sebagai sinyal bahwa Australia setuju dengan
proses integrasi. Oya, RI bilang ke Horta bahwa Indonesia menyetujui
kemerdekaan Timtim mesti diterjemahkan sebagai persetujuan agar Timtim lepas
dari Portugal. Sementara itu, option apakah integrasi atau lepas merdeka itu
sudah dibicarakan juga oleh Horta.

Irwan:
>Operasi Komodo dimulai/dilakukan tanggal 14 Oktober 1974.
>Tanggal 20 Januari 1975, UDT dan Fretilin membentuk koalisi.
>26 Mei 1975 UDT menarik diri dari koalisi dengan Fretilin
>11 Agustus 1975 UDT melakukan kup di Dili dan mengambil
>kekuasaan dari tangan Portugal.
>27 Agustus 1975 Portugal angkat kaki dari Dili.

JA:
Ingat lho, yg dihubungi pertama oleh RI adalah ASDT karena mereka yg memulai
kontak. Operasi Komodo ya jelas untuk mencari info bagaimana sesungguhnya
kondisi di lapangan. Bila memang benar mereka ingin integrasi, maka mulai
perlu dibina hubungan dengan pihak lokal. Kalau tidak, nanti disebut invasi.
Setelah itu, saya rasa mereka meng-encourage pihak lokal untuk menggalang
kekuatan.

Saya rasa pengubahan nama dari ASDT menjadi Fretilin adalah perubahan
situasi pergulatan di dalam partai. Pihak yg ingin merdeka akhirnya dapat
mendominasi pihak yg ingin integrasi. Tetapi permohonan awal mereka sudah
kadung diproses, RI sudah berhubungan dengan tidak hanya Fretilin, tetapi
dengan partai-partai lain. Jelas kepentingan sudah mulai masuk di sini
ya....;).

Masalah UDT berkoalisi dengan Fretilin, wah, kenapa tidak? Mereka saat itu
masih punya musuh bersama yaitu pemerintahan Portugal. Biarpun berkoalisi,
tapi visinya jelas beda. Yang satu lebih bersifat nasionalis yg satu
bersifat sosialis. Koalisi rapuh ini mungkin mirip antara koalisi PKB dan
PDIP atau koalisi poros tengah (dalam hal kerapuhannya). Mengapa UDT
memisahkan diri, saya rasa mereka mulai bertentangan pendapat. Hal ini
terlalu teknis untuk kita ketahui. Sama dengan kita ingin tahu mengapa PPP
mengisukan diri pilih Habibie misalnya.

Adalah ironi juga mengapa UDT yg mula-mula ingin jadi bagian dari Portugal
malahan yg melakukan kup. Ini menunjukkan adanya balapan untuk merebut
kekuasaan dari tangan Portugal dengan Fretilin.

Irwan:
>Kalau bisa saya simpulkan, pisahnya UDT dan Fretilin
>dari koalisi terjadi justru 3 bulan sebelum Portugal ngabur dan
>2 1/2 bulan sebelum di UDT melakukan kup.
>Operasi Komodo masih tetap menjadi tanda tanya besar
>buat saya. Apa misinya, apa alasan yg digunakan pemerintah
>RI untuk melakukan operasi komodo mengingat Timtim saat
>itu masih dibawah kekuasaan Portugal.

JA:
Dasarnya ya adanya permintaan dari Timtim dong.....;) Kan Portugal waktu itu
menelantarkan Timtim menjadi wilayah yang stateless. Masih ada pemerintahan
administratif, tetapi mereka nggak berfungsi. Mengenai pisahnya UDT dengan
Fretilin, wah.... biasa lah ...apalagi kalau nggak perebutan kekuasaan?

Oya, kemarin anda heran kenapa Apodeti dan KOTA tiba-tiba muncul. Mereka
tidak tiba-tiba muncul. Sebagai partai yg lebih kecil, share mereka dalam
perebutan kekuasaan lebih kecil dong. Kayak sekarang ini pemberitaan LN
cuman ngomongin Golkar dan PDIP sama poros tengah. Tidak ada yg ngomongin
PAN misalnya. Ini hanya untuk keringkasan kronologi dong.....;) Yang jelas
ada sinyalemen kalau KOTA hasil buatan dari RI, cuman memang partai ini
kecil.

Irwan:
>Kata2 anda "Fretilin menang" pun menjadi pertanyaan buat
>saya mengingat tanggal 24 September 1975 UDT yg
>meninggalkan Timtim ke NTT dan membiarkan Fretilin
>sebagai penguasa Timtim. Tidak disebutkan adanya perebutan
>kekuasaan antara Fretilin dan UDT.
>Ini yg jadi tanda tanya buat saya.

JA:
Nah ini yg saya sebut anda jangan membaca kata-perse. Meninggalkan Timtim
dan membiarkan Fretilin kan bahasanya wartawan saja. Membiarkan bukan
berarti membiarkan secara iklas, tetapi karena kalah bersaing, baik dari
dukungan masyarakat dan kekuatan persenjataan. Jelas ada perebutan
kekuasaan. Kalau tidak salah memang ada semacam referendum, dan Fretilin
memperoleh suara terbanyak. Makanya saya sebut Fretilin menang.

> >  Silakan baca beberapa buku, dan untuk menjaga keseimbangan >tentunya
>beberapa buku. Sebetulnya tidak ingin mengingatkan tapi >kadang ada saja yg
>menjadikan satu buku sebagai primbon.
>
>Irwan:
>Saya tadinya mengharapkan rekan2 disini, salah satunya anda,
>untuk bisa memberikan masukan2 atau pun gambaran2 berdasarkan
>informasi yg anda ketahui baik dari membaca atau pun mendengar
>hal2 yg berkaitan dengan Timtim. Hal ini bagi saya jauh lebih efisien
>ketimbang harus membaca banyak buku mengenai Timtim mengingat
>Timtim bukan bidang saya.
>Tentunya akan menjadi kurang pas di milis ini kalau saya menyarankan
>untuk membaca buku ekonomi yg bukan bidangnya ketika ada yg bertanya
>soal pemikiran ekonomi yg saya sampaikan. Akan jauh lebih
>efisien saya menjelaskan secara logika atau pun dengan
>memberikan referensi bukunya misalkan menurut Adam Blabla
>dalam bukunya "Abcdfg" mengatakan bahwa....dst.
>Dengan demikian, tukar informasi dan pengetahuan bisa
>berlangsung dengan sehat dan lebih banyak nilai tambahnya.
>Betul ngga, bung Jeffrey?....:)

JA:
Ya asal jangan menyerang saya seolah-olah saya seorang Kapuspen ABRI. Saya
akan menyampaikan apa yg saya pahami, dan mengulas dengan pemahaman saya
tadi. Justru saya ingin kita jujur, bukan asal bilang TNI bunuh orang,
titik. Wah, nggak jalan omongan kita. Emangnya saya lagi membela TNI? Kan
gitu Bung Irwan......;)

Irwan:
>Saya perhatikan anda dan bung Donald sama2 punya cukup
>referensi tentang Timtim. Mungkin akan lebih baik bila anda
>berdua sama2 mengeluarkan pemikiran2 yg ada.
>Saya pribadi cenderung akan menampung semua informasi
>(dari kedua sisi) untuk menambah wawasan saya saja.
>Kali2 nanti suatu saat ada gunanya.

Semoga saja. Kejadian kronologis seperti ini terlalu detail untuk diajarkan
di sekolah menengah. Makanya saya tidak setuju kalau disebut dengan sengaja
membohongi masyarakat karena sebetulnya kita bisa kalau kita mau menggali
sumber-sumber yg ada. Misintepretation bisa saja terjadi, tapi itu kan
jamak. Asal nggak cuman bilang TNI tukang bunuh. Lho kita lagi diskusi jalan
cerita Timtim kok tiba-tiba ambil kesimpulan gitu. Yang itu mah lain subjek
dong, itu out of topic....;)

Jeffrey Anjasmara.

______________________________________________________
Get Your Private, Free Email at http://www.hotmail.com

Kirim email ke