Kemarin saya mereply Bung Irwan dg jawaban yg kurang
tepat. Jadi mending saya luruskan. Untuk beritanya, saya
rasa memang dari Tempo. Sayang tidak bisa search karena
mesti jadi anggota. Yang dari Gatra lumayan juga sih.
Nih ada 3 operasi penting.
Operasi Komodo (intelejen)
Pemimpin: Kabakin Yoga Sugama
Ali Murtopo
Tahun : 14 Okt 1974
---> Kurang sukses
Operasi Umi Tuti (?) Tim-tim kecil berisi 50 orang sukwan.
Pengirim: LB Murdani
Komandan: Dading Kalbuadi (Kol)
Tahun : Awal 1975
---> Misi : - membangkitkan semangat tempur pro-integrasi
yg ditekan leftist Fretilin yg tangguh.
---> Hasil: - merebut Batugade th 6 Okt 1975
Operasi Seroja.
Pemimpin: LB Murdhani
Tahun : 7 Desember 1975
Mengenai fasilitas katanya minim. Bila anda baca artikel
di bawah maka kita tahu bahwa terjadi demoralisasi di lapisan bawah,dan
korupsi di lap. atas. Kondisi membaik setelah M. Yusuf
menggantikan Murdani, dan mengganti standar senjata yg digunakan. Konon
karena kalah modern dg Fretilin punya, yg dapat tinggalan dari Portugal.
Sifat operasi diganti menjadi operasi teritorial.
Urutan kejadian Timtim silakan klik URL ini:
http://www.gatra.com/V/43/LPT2-43.html
'------------------
Melecehkan Kehormatan
Prajurit
Operasi Seroja menelan
korban ribuan nyawa.
Veteran Perang Timtim tak
rela daerah ini melepaskan
diri.
SSEKITAR 100 lelaki tua yang
berkumpul di aula itu menitikkan air
mata. Mereka tak bisa menahan tangisnya
begitu tahu bahwa kelompok
prokemerdekaan Timor Timur
memenangkan jajak pendapat, Sabtu
siang pekan silam. Para pria sepuh itu
adalah veteran Perang Timor Timur,
penghuni Perumahan Veteran Seroja,
Bekasi, Jawa Barat.
Siang itu, mereka sengaja berkumpul,
mengenang getirnya perjuangan membela
saudaranya di bumi Loro Sae. "Apa
artinya bintang penghargaan kalau tetesan
darah kami di bumi Timor Timur
disia-siakan," kata Sersan Kepala
(purnawirawan) Sukoro, dengan nada
tinggi terputus-putus sambil menyeka air
matanya. Sukoro menganggap, lepasnya
Timor Timur merupakan pelecehan
terhadap perjuangan. Pria berusia 51
tahun ini dua kali bertempur di Timor
Timur, tahun 1975 dan 1978.
Ia beranggapan, misinya ke Timor Timur
itu sebagai "perang suci" membela
saudara-saudaranya yang digilas
komunis Fretilin. "Sekarang dilepas
begitu saja. Ini sama dengan
meremehkan kehormatan prajurit Seroja,"
kata Sukoro, yang menjabat Ketua Korps
Veteran Seroja, kepada Inayatullah Hasim
dari Gatra.
Seroja adalah nama sandi operasi ABRI
untuk merebut Timor Timur, yang
dimulai 7 Desember 1975. Operasi militer
menjelang subuh itu dijalankan bersama
oleh Angkatan Laut, Udara, dan Darat.
Siang harinya, pukul 12.30 waktu
setempat, Dili dikuasai pasukan ABRI.
Media massa memberitakan keberhasilan
Operasi Seroja yang dikomandani
Jenderal Benny Moerdani itu. Semua
berita di media massa menyebut prajurit
ABRI sebagai sukarelawan, dengan misi
membebaskan rakyat dari penindasan dan
teror komunis Fretilin.
Operasi itu meminta korban 35 nyawa
pasukan ABRI. Empat di antaranya
perwira, dua mayor dan dua kapten.
Selanjutnya, dari hari ke hari, darah
tumpah ruah dari kedua pihak yang
bertikai. John G. Taylor dalam bukunya,
Perang Tersembunyi: Sejarah Timor
Timur yang Dilupakan, memperkirakan
bahwa dalam empat bulan pertama, 2.000
prajurit ABRI tewas.
Sosiolog dari University of Sussex,
Brighton, Inggris, itu menyebutkan
bahwa pasukan Indonesia yang
diterjunkan bukanlah tentara terlatih. Tak
mengherankan bila sebagian prajurit
mengalami demoralisasi, menolak patroli,
serta mengeluh kekurangan logistik. Di
jajaran lebih tinggi terjadi korupsi.
Fretilin ternyata bukan "ayam sayur".
Mereka telah siap bertempur. Apalagi,
medannya sudah mereka kenal. Tak
sedikit rakyat yang mendukung
perjuangan mereka. Walhasil, tentara tak
bisa menguasai daerah ini sepenuhnya.
Bahkan, Benny Moerdani terpaksa
mengakui bahwa Operasi Seroja tidak
membuahkan hasil memuaskan. Hal itu
diakui Benny dalam otobigrafinya yang
berjudul Benny Moerdani: Pofil Prajurit
Negarawan, yang ditulis wartawan
Kompas Julius Pour. "Dari segi militer,
operasi ini memang tak terlalu
membanggakan," kata Benny.
Operasi Seroja digelar setelah aksi
intelijen, namanya Operasi Komodo, yang
dilakukan sejak awal Januari 1975.
Gerakan itu dipimpin langsung oleh
Kepala Badan Koordinasi Intelijen
Negara, Letnan Jenderal Yoga Soegomo,
dan deputinya, Letnan Jenderal Ali
Moertopo. Operasi Komodo ini bertugas
mempersiapkan segala langkah yang
diperlukan untuk menghadapi semua
perubahan masyarakat di Timor Portugal.
Menurut penilaian Benny, operasi
intelijen itu tidak memuaskan. Ia
kemudian menyusupkan sukarelawan
untuk membangkitkan semangat tempur
masyarakat setempat. Untuk melakukan
misi ini, Benny mengutus Kolonel Dading
Kalbuadi, ditemani 50 sukarelawan dari
pasukan Sandhi Yudha, sekarang
Komando Pasukan Khusus. Tim kecil ini
bertugas memberi latihan militer singkat
kepada rakyat Timor Portugal yang
tengah digencet Fretilin. Pada 7 Oktober
1975, tim Dading menyerbu Batugede.
Penyerbuan ini sukses.
Operasi itu kemudian melahirkan Petisi
Batugede, dokumen yang bisa disebut
cikal-bakal Deklarasi Balibo. Kemudian,
pada 30 November 1975, empat pimpinan
partai politik, UDT, Apodeti, KOTA, dan
Trabalhista, yang menyatakan atas nama
sebagian besar rakyat Timor Timur,
menandatangani Deklarasi Balibo.
Sejak saat itu, rakyat Timor Timur
menyatakan berintegrasi dengan
Indonesia. Hal ini terjadi karena adanya
Operasi Komodo dan Operasi Seroja,
yang menelan korban ribuan nyawa
prajurit ABRI.
Kini, para prajurit itu galau, setelah Timor
Timur dinyatakan berpisah dari
Indonesia. "Demi kehormatan prajurit
Seroja, saya siap mati merebut Timor
Timur kembali ke Indonesia," kata Kopral
Kepala (purnawirawan) Elan Sutarna, 48
tahun, bersemangat. Elan adalah veteran
Perang Timor Timur yang mata
kanannya buta, akibat perang di bumi
Loro Sae itu.
______________________________________________________
Get Your Private, Free Email at http://www.hotmail.com