Mungkin saya masih kekenyangan makan shg nggak bisa mikir yg lain.
Mari kita menjauh sedikit dari issue-issue HAM, invasi, dlsb.
>Sangat emosional sekali apa yang sudah tertulis tentang operasi Seroja.
>Sangat memilukan apa yang harus dihadapi oleh prajurit2 kita itu.
>Pengorbanan
>mereka sangat besar dan memang patut dihargai.
>
> Yang menjadi pertanyaan sekarang, kenapa yang dikirim itu adalah pasukan
>sukarelawan, kenapa yang dikirim itu adalah tentara2 yang kurang terlatih ?
>Apakah sebenarnya tugas Kopasandha itu ... secret service ? Kenapa hal-hal
>ini tidak diajarkan disekolah2? Deklarasi Balibo itu di hadiri oleh partai2
>yang sudah terbius oleh tentara2 yang disusupkan kedalam Tim-Tim ...
>bukankah
>demikian? Kenapa pula sampai sekarang isu2 tentang komunisme itu selalu ada
>?
Kopasandha? Lho mas, ini kan nama lama dari Kopassus. Yang namanya komando
jelas lain dengan tentara reguler. Bekerja dalam satuan yg kecil, kemampuan
individu dan kerja sama tim jauh lebih tinggi, pelatihannya khusus,
blah-blah...
Jelas berhubung jumlahnya kecil mereka hanya ditugaskan khusus untuk yg
special pakai telur. Kalau untuk menyerangan dalam perang terbuka rasanya
nggak tepat. Tugasnya ya macam-macam, kalau di AS setara Green Berets, atau
di Inggris setara dengan SAS, Aussie juga. Atau kalau di AL namanya pasukan
Seal, KKO (dulu), dll. Jadi dari sononya emang tugasnya infiltrasi,
sabotase, menggempur sasaran strategis dengan cepat, dll.
Yang dimaksud dengan tentara kurang terlatih bukan berarti tentara yang
jarang latihan nembak, latihan lari. Yang dimaksud adalah tidak pernah
mengenal bau mesiu perang sesungguhnya. Sudah jelas kita nggak punya
pengalaman karena emang nggak pernah perang lagi. Sebagai pengingat, yang
diterjunkan perang jelas bukan Kopasandha. Kalau nggak salah yang
diterjunkan pertama adalah satuan dari Kostrad. Ya memang AD, AL, AU, tapi
kekuatan inti pertamanya ya mereka. Nah, ceritanya pasukan Kostrad itu juga
sudah merupakan satuan yg terbaik. Tapi biarpun terbaik kalau belum pernah
nembak musuh beneran artinya ya nggak terlatih. No wonder AS paling seneng
ikut campur kan? Ya karena mereka pingin pasukannya sebanyak-banyaknya
mengenal medan tempur beneran.
Kenapa nggak diajarkan di sekolah? Wah, apa memang perlu? Memangnya dulu
kita diajarin sejarah seluk beluk kemerdekaan kita secara detil? Kapan
belajar fisikanya?
Kenapa isu komunis selalu ada? Lho mas, memang ada kok. Memangnya kalau PRD
dibiarkan berkembang nggak akan berubah menjadi paham komunis? Hehehe....
Yang jelas memang Fretilin berpaham kekiri-kirian. Lebih tegasnya kalau di
Indonesia ya kayak PRD itu. Paham sosialis tidak sama eksak dengan paham
komunis, tapi kedua paham itu mempunyai daerah intersek yg luas.
Oya, jangan lupa, orang AS sekarang agak alergi kalau kita ngomong
'komunis', mereka lebih senang nyebut 'leftist'. Jangan sampai terperosok
kayak saya....hehe....;)
Balik lagi masalah isu komunis. Kalau enggak ada issue komunis, kenapa AS
nyuruh RI masuk ke sana? Kenapa AS nyuruh Indonesia masuk? Jelas karena
mereka habis ketanggor dan kalah di Vietnam, sehingga mereka nggak mau lagi
ada calon negara komunis. Australia juga ikut merasakan getirnya perang
Vietnam. Makanya mereka diam saja.
>Bila dipertanyakan, bagaimana posisi APODETI, UDT dan lain-lain sekarang
>ini
>? Tersiratkah adanya keinginan untuk bergabung dengan Indonesia dengan vote
>yang 78.5% pro independence? Kalau RI merasa benar, kenapa RI selalu
>menutup-nutupi sejarah ini sehingga mengklaim bahwa masalah Tim-Tim adalah
>masalah sensitif, kalau sensitif bukankah saatnya di selesaikan ?
APODETI, UDT, dll sudah bubar dong. Mereka kan sekedar partai-partai politik
kayak Indonesia yg punya 48 buah itu (sekarang tinggal berapa ya?). Dulu kan
sudah ada referendum juga. Masalahnya kelakuan orang bule kalau belum pisah
mereka minta referendum diulang terus. Persis kayak kelakuan PDIP yg kalau
Mega nggak terpilih minta Pemilu diulang terus.....sampai tua.
Masalahnya waktu kan berbicara. Ya kayak orang pacaran saja lah. Dulu si
cowok ngudag-ngudag supaya ceweknya mau. Giliran ceweknya mau lalu pacaran
lalu ribut, sibuk deh si cowok cari alasan buat putus. Ngelempar gelas
lah... sengaja bawa cewek lain lah. Ini sana dengan APODETI, UDT tadi.
Yang jelas Horta itu yang dulu kasak-kusuk agar RI masuk ke sana. Setelah
Adam Malik bilang okay, dia lalu mendirikan Fretilin itu. Nah, UDT yg dari
dulu pengen gabung dengan Portugal merasa terancam kok Fretilin malah
ujungnya mendeklarasikan kemerdekaan Timtim sendirian. Padahal gua kan
pengen jadi presiden juga. Nah ironis kan kalau UDT malah akhirnya ngungsi
ke NTT, dan membiarkan Fretilin termasuk Horta berkuasa. Ini sama kan dengan
trik-trik PDIP, Poros Tengah, dan Golkar? Mbuleeeeettt terus. Singkat kata
partai- partai tersisih itu bergabung dan minta bantuan RI untuk menggebug
Fretilin yg sudah kurang ajar meninggalkan mereka untuk berkuasa sendiri.
Eeee...jangan lupa mereka sudah konflik senjata lho. Skalanya jelas jauh
lebih berat dari sekedar gebuk dan bunuh antara PKB vs. PPP masa kampanye
dulu (Juga PDIP vs. Golkar). Kalau yg ini jelas hasil dari Portugal yg nggak
mau ngurusin Timtim.
Rakyat Timtim memihak yang mana? Lho jangan nanya. Sama dengan rakyat RI ada
yg mihak Golkar, PDIP, PAN, dlsb. Nah, Fretilin waktu itu memang lebih
populer relatif thd yg lain. Persis deh kayak PDIP.
Akhirnya partai yg lebih kecil tapi banyak gabung dengan RI, membentuk
deklarasi Balibo itu. Jelas ada juga partai lain yg membela Fretilin
(Namanya dulu adalah ASDT).
Singkat cerita RI masuk, bikin referendum lalu pada milih integrasi. Nah,
memang dari awalnya visinya berbeda, UDT yg dari awal pengen gabung sama
Portugal akhirnya berkianat. Maklum, musuh utamanya yaitu Fretilin barusan
ditumpas, jadinya mereka nggak takut lagi. Jadilah bekas kawan ini saling
perang dengan TNI. UDT itu partai nomor dua terbesar deh (kalau nggak
salah).
Setelah itu, ya kayak perkawinan saja. Kebetulan waktu jaman Murdani memakai
tangan besi. Siapa yang macem-macem hajar bleh. Apa salah? Situasinya emang
kayak gitu. Lha anak buahnya habis beribu-ribu hanya untuk ngebantuin
mereka, setelah berhasil kok ngomongnya lain lagi. Yang mati kan nggak bisa
hidup lagi. Mungkin gitu pikirannya Murdani. Tentu saja tidak selamanya
ribut terus.
Masalah sensitif? Ya jelas dong sensitif. Sudah tahu kan akal-akalan pihak
luar yang ingin merongrong. Ini persis lah kayak orang kawin. Kalau suami
istri cekcok karena istri minta uang tambahan belanja jelas si suami akan
marah kalau ada saudara nyebar-nyebarin berita cekcok ke mana-mana. Banyak
orang yg seneng pasangan lain cerai kan? Apalagi kalau istrinya cantik.
Huuu... pada sibuk deh merongrongnya.
>memberitahu rakyat Indonesia bahwa TIm-Tim itu tidak diakui sebagai
>bagian/propinsi Indonesia dari dulu-dulu? Dan yang paling penting, apakah
>Desember 7 1975 itu adalah peristiwa invasi atau integrasi ? Adakah
>integrasi
>yang meminta nyawa dan darah? Sekarang mari kita minta jawaban tegas dari
>pusat. Time for truth is here.
Ah, masak anda nggak tahu. The truth is out there. Tidak ada yg
menyembunyikan kayak di X-files. Cukup berusaha sedikit lebih keras anda
akan menemukan the truth itu. Perasaan pemerintah sering sekali menulis
masalah komplain PBB masalah Timtim.
Lho, kenapa kalau proses integrasi nggak perlu darah? Siapa yang bilang
gitu? Texas butuh darah berapa orang untuk integrasi ke AS. Demikian juga
dengan wilayah California. Berapa banyak orang Meksiko yang harus mati?
Istilah invasi atau integrasi tergantung dari mana kita memandang. Dari
pihak UDT, APODETI, KOTA jelas serangan ini adalah peristiwa integrasi. Buat
Fretilin adalah invasi. Sama dengan proses masuknya Texas, bagi orang
Meksiko jelas invasi, bagi AS jelas mereka membantu para settler yg minta
bantuan Washington. Jangan gampang main hitam putih dulu ah.....;). Tidak
ada yg kayak gitu.
Yang jadi masalah bila RI sedang berusaha memperbaiki hubungan, lalu ada
pihak luar yang mengipas-kipas bahwa suami ringan tangan lah, tidak pernah
memberi nafkah batin lah. Jadinya hubungan keluarga (dalam negeri) akhirnya
menjadi urusan semua orang.
>Kalau anda kritis, silahkan jawab pertanyaan di atas.
Kalau anda kritis tentu anda akan mencari jawab sendiri, dan mengambil
referensi kejadian seluruh dunia. Sebagai latihan, bagaimana kalau anda ada
pada posisi anak dari suami-istri yg lagi ribut berat, apa mau urusannya
dicampuri sama tetangga? Anda lalu pindah posisi sebagai tetangga, apa yg
anda kerjakan kalau ada suami-istri sebelah rumah berantem?
Menurut saya, LSM HAM mirip dengan organisasi pengawas woman abuse. Selalu
siap campur tangan rumah tangga orang. Sedangkan ETAN mirip dengan pihak
ketiga yang ingin suami-istri cerai. Yang jadi masalah, di AS organisasi
pengawasan/bantuan untuk istri yg di-abuse bisa diterima. Di Indonesia, hal
ini jelas tidak dapat dibenarkan. Semua mempunyai nilai-nilai tersendiri
mas.....;) Ini yg dilupakan oleh negara-negara barat yg merasa nilai-nilai
mereka yg terbaik dan akan cocok diterapkan di negara mana saja. Ya bubar
deh.....;)
>Selamat berjuang,
>Donald Saluling
______________________________________________________
Get Your Private, Free Email at http://www.hotmail.com